Melihat Patung Menari dalam Sang Hyang Grodog Asal Nusa Lembongan

Melihat Patung Menari dalam Sang Hyang Grodog Asal Nusa Lembongan
info gambar utama

Bali tak pernah kehabisan karya seni dan budaya warisan leluhur. Setiap daerah di Bali memiliki budaya unik dan menarik, salah satunya tari sakral—sang hyang grodog—dari Nusa Lembongan, Kabupaten Klungkung.

Melansir dari Jurnal Agama Hindu berjudul Religiusitas Sesolahan Sanghyang Grodog pada Upacara Pengaci Sakral di Lembongan oleh Ni Wayan Juli Artiningsih, ada tiga jenis seni tari Bali, yakni tari wali, tari bebali, dan tari balih-balihan. Tari wali merupakan jenis tarian yang dipertunjukkan pada kegiatan upacara adat dan agama Hindu di Bali. Salah satu jenis tari wali, yaitu tari sang hyang.

Tari sang hyang adalah tarian sakral karena digerakkan oleh roh atau kekuatan gaib, seperti bidadari kahyangan, monyet, babi hutan, dan binatang lainnya. Bali memiliki beragam jenis tari sang hyang, di antaranya tari sang hyang jaran, tari sang hyang dedari, tari sang hyang deling, tari sang hyang sampat, tari sang hyang bojog, tari sang hyang celeng, dan tari sang hyang grodog.

Nusa Lembongan menjadi tempat asal tari sang hyang grodog. Seperti apa, ya, keunikan dan makna tarian sakral itu?

Patung Menari dalam Tari Sang Hyang Grodog

Sang Hyang Grodog | Foto: Nyoman Suwirta/batununggul.com
info gambar

Tari sang hyang grodog berbeda dari tari sang hyang lain di Bali. Penari yang mementaskan bukanlah manusia, tetapi patung yang menyimbolkan Sang Hyang. Masyarakat lokal menyebutnya gegulak.

Gegulak terbuat dari bambu dan kayu. Keunikannya terletak pada roda kayu sang hyang yang akan digerakkan, bersamaan dengan iringan Gending Sang Hyang. Suara gerakan roda kayu dengan tanah yang melahirkan istilah "Grodog".

Keunikan lain tari sang hyang grodog adalah patung Sang Hyang yang berjumlah 23 simbol. Masing-masing Sang Hyang mewakili simbol kesuburan, religius, gotong-royong, legenda desa, pelestarian alam, keperkasaan atau kekuataan, serta keanekaragaman satwa.

Baca juga: Tari Pendet, Dua Kebudayaan Tradisional Bali yang Ikut Sukseskan KTT G20

Ritual Penolak Bala

Tari sang hyang grodog dipentaskan sebagai ritual pengaci desa untuk penyomia desa. Maksud dari nyomia desa adalah menolak bala atau menetralisir unsur-unsur negatif menjadi positif.

Tarian ini dipercaya masyarakat untuk mencegah datangnya musibah, seperti kekeringan atau penyakit menular. Pada zaman dahulu, kedua bencana ini paling sering menyusahkan warga.

Masyarakat Lembongan sangat menantikan ritual ini karena selain sebagai penolak bala, tarian ini juga berfungsi sebagai hiburan, baik untuk warga maupun wisatawan.

Pementasan tari sang hyang grodog dilaksanakan pada sasih Karo (bulan kedua) selama sebelas hari. Waktu ini dipilih karena purnama Karo dianggap paling terang dibandingkan bulan purnama lain. Lokasi pementasan berada di catus pata (perempatan) desa. Biasanya, malam pertama diawali dengan sang hyang sampat yang dimaknai pembersihan atau kesucian.

Simbol Ungkapan Terima Kasih

Tari sang hyang grodog merupakan bentuk terima kasih warga Lembongan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas segala karunia-Nya. Tarian ini sejalan dengan konsep Tri Hita Karana, yakni kesuburan dan kesejahteraan dalam kehidupan manusia di dunia akan tercapai dengan menjaga hubungan manusia dengan Tuhan-Nya, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam sekitarnya.

Ungkapan terima kasih itu tergambar dalam 23 simbol Sang Hyang. Penggunaan objek binatang atau roh lain sebagai Sang Hyang bukan bermaksud menyembah hal tersebut. Objek itu hanya dijadikan simbol untuk mengucapkan terima kasih kepada Tuhan.

Baca juga: Tari Topeng Tua Bali, Refleksikan Pria Berusia Senja di Masa Pensiunnya

Tari sang hyang grodog asal Nusa Lembongan masih dilestarikan hingga saat ini. Apabila sudah masuk bulan kedua, Kawan bisa melihat pertunjukkan tersebut di Nusa Lembongan, Bali. Jangan lupa untuk menantikannya!

Referensi: Jurnal Agama Hindu | IDN Times

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

F
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini