Raja Ini Berkorban untuk Kemerdekaan Indonesia, Siapa Saja?

Raja Ini Berkorban untuk Kemerdekaan Indonesia, Siapa Saja?
info gambar utama

Pada zaman perjuangan meraih kemerdekaan Indonesia, Kawan tahu bahwa banyak pahlawan yang mencurahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk menghadapi penjajah. Pada akhirnya, perjuangan mereka telah berhasil dengan memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Lalu, apakah perjuangan mereka berakhir? Tentu tidak. Para pahlawan beberapa kali menyusun strategi, perundang-undangan, dan lembaga serta memperkuat ideologi Indonesia, yakni Pancasila. Tentu perjuangan itu tidak mudah. Mereka seringkali menghadapi hambatan internal maupun eksternal.

Secara internal, pemerintah Indonesia harus menghadapi beberapa pemberontakan yang terjadi dalam masyarakatnya. Contohnya, pemberontakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia), pemberontakan PKI (Partai Komunis Indonesia), dan jenis percobaan kudeta lainnya. Selanjutnya, dari sisi eksternal, Indonesia didatangi oleh Belanda yang ingin menjajah kembali.

Sekali lagi, para Pahlawan Indonesia terpaksa harus menumpahkan tenaga dan pikirannya untuk menghadapi segala hambatan tersebut, baik dengan jalur perang maupun diplomatik. Namun untungnya, pemerintah Indonesia juga didukung oleh berbagai pihak.

Di dunia, Republik Indonesia diakui oleh beberapa negara, seperti Mesir, Palestina, Turki, dan negara lainnya. Di sisi lain, Republik Indonesia juga diakui oleh dua raja, yakni Sultan Hamengkubuwono IX dan Sulta Syarif Kasim II. Bahkan, dua raja tersebut memberikan sumbangsih saat Indonesia menghadapi Belanda. Lalu, seperti apa dua sosok raja itu?

Sosok Raja Yogyakarta: Sultan Hamengkubuwono IX

Sri Sultan Hamengkubuwono IX
info gambar

Dilansir dari dpad.provjogja.go.id, Sultan Hamengkubuwono IX lahir di Yogyakarta pada 12 April 1912. Beliau lahir dengan nama asli, Gusti Raden Mas Dorodjatun. Pada 1940, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dinobatkan sebagai raja Yogyakarta.

Perjuangannya sebagai raja Yogyakarta sungguh berat. Setelah Belanda menyerah kepada sekutu, Beliau harus menghadapi pendudukan Jepang di Yogyakarta. Beliau harus mempertahankan rakyat Yogyakarta agar tidak dieksploitasi oleh pihak Jepang. Kala itu, Sultan Hamengkubuwono IX menyuruh rakyatnya untuk membangun selokan agar Jepang tidak bisa memerintahkan rakyat Yogyakarta untuk romusha.

Setelah Jepang menyerah pada sekutu, Sultan Hamengkubuwono IX memberikan sumbangsih kepada Indonesia. Setelah dua hari Indonesia merdeka, Beliau memberikan ucapan selamat kepada Ir. Soekarno dan Moh. Hatta, dua proklamator Kemerdekaan RI.

Pada 5 September 1945, ketika banyak daerah di Indonesia yang menjadi negara boneka oleh Belanda, Sultan Hamengkubuwono mengeluarkan maklumat bahwa Yogyakarta merupakan wilayah Republik Indonesia. Dengan hal ini, Yogyakarta bukanlah negara yang berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari negara Republik Indonesia. Bahkan, Sultan Hamengkubuwono IX menyatakan siap untuk menjadikan Yogyakarta sebagai ibu kota RI.

Baca juga: Deretan Pahlawan Nasional Indonesia dari Kalangan Jurnalis

Tidak hanya itu saja, beliau juga memberikan beberapa fasilitas keamanan untuk TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dan bantuan logistik untuk memperjuangkan kedudukan Indonesia. Bahkan, Sultan Hamengkubuwono IX menolak mentah-mentah tawaran Belanda, yakni menjadikan raja Yogyakarta sebagai raja di seluruh tanah Jawa.

Setelah berakhirnya era Orde Lama, Sultan Hamengkubuwono IX tetap meyakinkan negara-negara asing untuk mempercayai pemerintahan Soeharto. Dalam karir politiknya, Sultan Hamengkubuwono IX berhasil menjadi Menteri Negara dalam Kabinet Syahrir (2 Oktober 1946—27 Juni 1947) sampai dengan Kabinet Hatta I (29 Januari 1948—4 Agustus 1949).

Selanjutnya, beliau juga menjabat sebagai Menteri Pertahanan dalam Kabinet Hatta II (4 Agustus 1949—20 Desember 1949) hingga masa Republik Indonesia Serikat (20 Desember 1949—6 September 1950). Lalu, dirinya juga menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri dalam Kabinet Natsir (6 September 1950—27 April 1951). Pada saat Orde Baru, Sultan Hamengkubuwono IX menjabat sebagai Wakil Presiden mendampingi Presiden Soeharto pada 1973 hingga 1978.

Karena perjuangannya sebagai raja sekaligus pahlawan, Sultan Hamengkubuwono IX dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden Repulik Indonesia Nomor 053/TK/Tahun 1990.

Perjuangan Raja Siak Indrapura untuk Republik Indonesia

Setelah bernostalgia dengan perjuangan Sri Sultan Hamengkubuwono IX di Yogyakarta, mari kita beralih ke Riau. Kali ini, Kawan akan belajar sejarah Raja Siak Indrapura yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa Indonesia. Namanya adalah Sultan Syarif Kasim II. Beliau lahir di Siak pada 1 Desember 1893.

Dilansir dari kompas.com, di umurnya yang masih 21 tahun, Sultan Syarif Kasim II dinobatkan sebagai raja di Kerajaan Siak Indrapura pada 1915. Bergelar Raja saat muda, dirinya telah mengambil sikap tegas bahwa Kerajaan Siak Indrapura memiliki kedudukan yang sama dengan Belanda. Setiap peraturan Kerajaan Siak Indrapura pasti bertentangan dengan keinginan dari Belanda.

Setelah Indonesia merdeka, beliau mengirimkan ucapan selamat kepada Soekarno dan Hatta. Bahkan, saat Indonesia terpecah karena Perjanjian Linggarjati, Sultan Syarif Kasim II bersedia menyatukan kerajaannya sebagai bagian dari wilayah Republik Indonesia.

Demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia, beliau menyumbangkan hartanya sebesar 13 juta gulden atau setara 69 juta euro (kurs tahun 2011). Tidak hanya itu, Sultan Syarif Kasim II juga berusaha membujuk para raja di Sumatera Timur untuk bergabung ke pemerintahan RI.

Selain itu, Sultan Syarif Kasim II juga membentuk Barisan Pemuda Republik, Komite Nasional Indonesia, dan Tentara Keamanan Rakyat di Siak. Bentuk perjuangannya yang lain adalah dengan memberikan bantuan logistik bagi para laskar revolusi kemerdekaan Indonesia yang terpecah belah. Sultan Syarif Kasim II juga menjalin hubungan baik dengan Kerajaan Yogyakarta. Beliau memberikan 30 persen hartanya untuk kepentingan perjuangan Indonesia di Yogyakarta.

Begitu banyak perjuangannya untuk Indonesia. Tidak heran, Sultan Syarif Kasim II dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Baca juga: Ini 8 Pahlawan di Uang Kertas Emisi 2022

Itulah kisah dua raja yang rela berkorban untuk Indonesia. Meskipun tidak terjun langsung ke medan perang, mereka menggunakan kekuasannya untuk kepentingan Indonesia. Cita-cita mereka untuk menyatukan seluruh wilayah ke dalam Republik Indonesia akhirnya terwujud di era modern ini. Sekarang, menjadi tugas Kawan GNFI untuk terus menjaga dan mempertahankan ideologi Indonesia, yakni Pancasila.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AR
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini