Semerbak Aroma Kopi yang Dipersembahkan kepada Dewata di Pulau Bali

Semerbak Aroma Kopi yang Dipersembahkan kepada Dewata di Pulau Bali
info gambar utama

Para petani kopi di Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali memuja Sanghyang Sangkara, sang penjaga tetumbuhan. Bentuk rasa syukur itu mengalir bersama aroma kopi yang keluar dari banten saiban (persembahan).

Di antara dupa dan bunga, warga Desa Munduk tidak lupa mengembalikan kopi kepada sang pemberi. Hal ini jamak terlihat setiap 25 hari sebelum hari raya Galungan dalam upacara Tumpek Uduh atau Tumpek Wariga.

Pada saat itu, warga Munduk akan berduyun-duyun datang membawa banten saiban ke Pura Kopi Subak Abian Munduk. Pura Kopi ini bersebelahan dengan lahan Puri Lumbung, penginapan pertama di Desa Munduk.

Dimuat dari Kompas, posisi pura berada di lahan yang lebih tinggi, seakan menggambarkan kepala manusia dalam posisi rebah. Sedangkan bangunan lain dalam deretan di bawahnya menggambarkan badan dan anggota tubuh lain.

Masyarakat percaya bahwa tempat tersebut sudah dibangun sejak 1920-an. Bendesa (kepala desa adat), Desa Munduk Putu Ardana menjelaskan bahwa pura itu dibuat warga agar Tuhan selalu dekat dengan mereka.

“Keberadaan Pura Kopi Subak Abian Munduk tidak lepas dari sejarah Desa Munduk sebagai penghasil kopi,” katanya.

Tempat Asik Bagi Penikmat Kopi dan Seni

Jejak kejayaan

Putu Ardana menjelaskan bahwa kopi dibawa Belanda karena telah terpikat dengan keelokan alam Munduk dan membangun pesanggrahan di sana. Sejak awal Belanda menjadikan Munduk sebagai kawasan perkebunan.

“Diperkirakan kopi sudah ada di Munduk sejak tahun 1800-an. Awal tahun 1900-an, masyarakat sudah banyak menemui orang Belanda bermukim di Munduk,” kata Ardana.

Setelahnya, komoditas kopi di Desa Munduk mengalami kejayaan pada era tahun 1920-1970 an. Pada masa itu, penghasilan dari pertanian kopi bisa membuat masyarakat hidup sejahtera.

Hal ini dibuktikan ketika awal tahun 1900-an, masyarakat Desa Munduk sudah memiliki mobil. Masa kejayaan kopi di Desa Munduk mencapai puncaknya pada tahun 1970-an yang pada saat itu belum ada konsep kawasan wisata.

“Tahun 1970-an, kawasan wisata belum begitu booming. Zaman itu, saudara-saudara kita dari selatan seperti Ubud, Gianyar, Karangasem itu setiap musim kopi di bulan Mei-Agustus, datang ke sini sebagai buruh pemetik kopi,” dia memaparkan yang dimuat Detik.

Tetapi lambat laun, nilai ekonomi kopi mulai turun sehingga masyarakat Desa Munduk mulai beralih menanam cengkeh, bunga, dan sayur. Menurutnya, tanaman-tanaman ini tidak sekuat kopi dalam menangkal bencana.

‘Bumi Sriwijaya’ Lumbung Kopi yang Terlupakan

Mengembalikan kejayaan

Hingga kini, Pura Kopi Subak Abian Munduk masih tetap digunakan. Pura ini tidak hanya menjadi tempat ritual, namun monumen pengingat rasa syukur dan hormat masyarakat Munduk dengan tanaman kopi yang menghidupi mereka.

Tetapi warga Desa Munduk masih berupaya mencoba mengembalikan kejayaan kopi miliknya. Mereka berjuang mengangkat kopi Munduk dengan kembali menggenjot produksi kopi robusta serta menguatkan ikon kopi arabika Blue Tamblingan.

Kopi ini adalah kopi berjenis arabika yang ditanam di sekitar Danau Tamblingan pada ketinggian 1.500 mdpl. Kopi ini tumbuh subur di kawasan hutan Amerta Jati. Pura itu berasal dari empat desa adat Tamblingan Dalam.

Kemudian pada tahun 1990-an, di Desa Munduk telah berdiri penginapan Puri Lumbung. Setelahnya mulai banyak penginapan dan restoran. Memang pesona Munduk tidak hanya berpatokan kepada kopi.

Di sana masih ada air terjun Melanting, atau tiga danau yang berhimpitan, Danau Beratan, Danau Buyan, dan Danau Tamblingan. Di sini, wisatawan juga bisa benar-benar menghirup udara segar pegunungan.

“Tiada bising klakson kendaraan memekakan telinga, pula deru mesin kendaraan yang berputar cepat menyisakan rasa cemas dan ketergesaan,” tulis Cokorda Yudistira dan Dahlia Irawati.

Desa Tempur dengan Pamor Kopi yang Bawa Kesejahteraan bagi Para Petani

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini