Sejarah Kerajaan Samudera Pasai

Sejarah Kerajaan Samudera Pasai
info gambar utama

Menurut catatan sejarah, Samudera Pasai adalah kerajaan Islam tertua kedua setelah Kerajaan Perlak (Peureulak) yang berkedudukan di pesisir utara Sumatera. Lokasinya berdekatan dengan daerah Lhokseumawe dan tidak jauh dari Selat Malaka. Kerajaan ini eksis sejak abad ke-13 hingga 16 Masehi.

Posisinya yang strategis di dekat jalur laut yang ramai membuat kerajaan ini banyak melakukan kegiatan niaga secara maritim. Banyak para pedagang dari dalam dan luar nusantara yang sering berniaga dengan kerajaan ini.

Pendiri Kerajaan Samudera Pasai

sejarah kerajaan samudera pasai sejarah sejarah kerajaan samudera pasai, masa kejayaan, keruntuhan, raja-raja, struktur kerajaan, peninggalan
info gambar

Menurut beberapa referensi, Nazimuddin al-Kamil dianggap sebagai pendiri dari Kerajaan Samudera Pasai. Nazimuddin mulanya adalah seorang laksamana laut dari Mesir yang diperintahkan kesultanan Mamluk untuk merebut pelabuhan Kambayat di Gujarat (India).

Beberapa referensi lain mengatakan bahwa pendiri sekaligus penguasa pertama Kerajaan Samudera Pasai adalah Meurah Silu yang bergelar Sultan Malik al-Saleh atau Sultan Malikussaleh. Ada juga yang menyatakan bahwa Marah Silu diangkat sebagai penguasa pertama oleh Nazimuddin selaku pendiri Samudera Pasai.

Baca juga: Sekilas tentang 5 Kerajaan Islam Pertama di Indonesia

Struktur Kerajaan Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudera Pasai dipimpin oleh seorang Sultan yang memerintah secara turun-temurun. Di bawah Sultan, ada beberapa jabatan penting lainnya pada Kerajaan Samudera Pasai, yaitu:

  • Menteri Besar atau yang biasa disebut Orang Kaya Besar/Perdana Menteri.
  • Bendahara.
  • Komandan Militer atau Panglima Angkatan Laut bergelar Laksamana.
  • Sekretaris Kerajaan.
  • Qadi atau Kepala Mahkamah Agung.
  • Syahbandar yang bertugas mengawasi dan mengepalai para pedagang asing di kota-kota pelabuhan yang ada dalam pengaruh Kerajaan Samudera Pasai. Jabatan ini juga bertugas sebagai penghubung antara Sultan dan para pedagang.

Menurut catatan M. Yunus, Kerajaan Samudera Pasai juga memiliki beberapa jabatan yang diisi oleh orang-orang bijak dan alim. Beberapa jabatan itu adalah Syaikhul Islam dan Menteri Luar Negeri.

Raja-Raja Samudera Pasai

Kerajaan Samudera Pasai memiliki 20 Sultan yang memimpin dari masa ke masa. Kedua puluh Sultan itu adalah:

  • Sultan Malik al-Saleh/Marah Silu (1267-1297)
  • Sultan Malik az-Zahir I/Muhammad I (1297-1326)
  • Sultan Ahmad I (1326-?)
  • Sultan Al-Malik az-Zahir II (?-1349)
  • Sultan Zainal Abidin I (1349-1406)
  • Sultanah Malikah Nahrasiyah (1406-1428)
  • Sultan Zainal Abidin II (1428-1438)
  • Sultan Shalahuddin (1438-1462)
  • Sultan Ahmad II (1462-1464)
  • Sultan Abu Zaid Ahmad III (1464-1466)
  • Sultan Ahmad IV (1466-1466)
  • Sultan Mahmud (1466-1468)
  • Sultan Zainal Abidin III (1468-1474)
  • Sultan Muhammad Syah II (1474-1495)
  • Sultan Al-Kamil (1495-1495)
  • Sultan Abdullah (1495-1506)
  • Sultan Muhammad Syah III (1506-1507)
  • Sultan Abdullah (1507-1509)
  • Sultan Ahmad V (1509-1514)
  • Sultan Zainal Abidin IV (1514-1517)

Masa Jaya Kerajaan Samudera Pasai

Masa kejayaan Kerajaan Samudera Pasai terjadi pada masa pemerintahan Sultan al-Malik az-Zahir II yang berkuasa pada 1349 Masehi. Pada masa kepemimpinannya, Kerajaan Samudera Pasai berhasil menjadi kota dagang dengan lada sebagai komoditas andalan. Bahkan, saat itu Kerajaan Samudera Pasai sudah memiliki alat tukar sendiri berupa koin dengan kandungan emas 70 persen.

Selain berjaya di sektor perdagangan, Kerajaan Samudera Pasai saat itu juga menjadi penyebaran agama Islam. Lokasi kerajaan yang strategis membuat penyebaran agama Islam oleh kerajaan ini mudah dilakukan.

Kerajaan Samudera Pasai di bawah kepemimpinan Sultan al-Malik az Zahir II sempat mendapatkan serangan dari Kerajaan Majapahit. Namun, Kerajaan Samudera Pasai berhasil mengatasi serangan tersebut bahkan kembali meraih masa-masa kejayaan. Menariknya, masa kejayaan kedua Samudera Pasai itu terjadi saat kerajaan ini dipimpin oleh seorang Sultan perempuan bergelar Sultanah Malikah Nahrasiyah yang memimpin pada tahun 1406-1428 Masehi.

Baca juga: Memori Keindahan Taman Ghairah, Simbol Kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam

Masa Akhir Kerajaan Samudera Pasai

Masa akhir Kerajaan Samudera Pasai dimulai saat adanya perebutan tahta Sultan antara pewaris utama kerajaan dengan pihak lain. Saat itu, putra dari Zainal Abidin seharusnya menjadi Sultan dari Kerajaan Samudera Pasai. Sayangnya, seorang nelayan berhasil merebut tahta tersebut sehingga membuat Zainal Abidin merasa tidak senang.

Rasa tidak senang itu membuatnya membunuh si nelayan sehingga Zainal Abidin pun naik tahta Masa akhir Kerajaan Samudera Pasai juga ditandai dengan mulai sepinya pelabuhan di Pasai yang membuat pantai di pelabuhan tersebut mulai dangkal, sehingga membuat banyak kapal pedagang pindah ke Pelabuhan Malaka.

Sejak saat itu, perdagangan dan penyebaran agama Islam yang dilakukan Samudera Pasai kian menurun, serta banyaknya warga Samudera Pasai merantau ke Jawa Timur yang merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Selain karena sepinya pelabuhan di Pasai, kepergian sejumlah warga Samudera Pasai saat itu juga disebabkan oleh adanya serangan dari Portugis.

Salah satu warga Samudera Pasai yang pindah ke Jawa Timur adalah Fatahillah atau Syarif Hidayatullah. Di Jawa, ia memutuskan berkarier sebagai panglima perang di Demak yang berhasil mengalahkan Pajajaran dan Demak. Setelah menjadi panglima perang, Fatahillah pun lantas sukses mendirikan kota Banten dan Cirebon yang kita kenal sekarang.

Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai

batu nisan peninggalan kerajaan samudera pasai
info gambar

Kerajaan Samudera Pasai meninggalkan berbagai macam peninggalan bersejarah. Beberapa di antaranya adalah:

  • Makam para Sultan Kerajaan Samudera Pasai, seperti Sultan Malikussaleh, Sultanah Nahrasiyah, Sultan Muhammad al-Zahir, dan Sultan Mahmud Malik Malik az-Zahir.
  • Lonceng Cakra Donya yang merupakan hadiah dari Kekaisaran Cina.
  • Koin emas yang menjadi alat tukar di masa Kerajaan Samudera Pasai.
  • Hikayat Raja-Raja Pasai yang ditulis dalam Bahasa Melayu.

Baca juga: Perpustakaan di Aceh Ini Merupakan Satu-Satunya Perpustakaan Islam di Nusantara!

Referensi:
https://www.gramedia.com/literasi/pendiri-kerajaan-samudera-pasai/
https://tirto.id/sejarah-kerajaan-samudera-pasai-pendiri-masa-jaya-peninggalan-f9R4
https://acehprov.go.id/berita/kategori/jelajah/kerajaan-samudera-pasai
https://regional.kompas.com/read/2022/11/28/162640178/5-peninggalan-kerajaan-samudera-pasai-ada-hikayat-raja-raja-pasai?page=all#

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Anggie Warsito lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Anggie Warsito.

AW
RP
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini