Imlek Sebentar Lagi, Waktunya Ramai-ramai Membersihkan Patung Dewa

Imlek Sebentar Lagi, Waktunya Ramai-ramai Membersihkan Patung Dewa
info gambar utama

Mendekati tahun baru Imlek, mereka yang merayakannya tentu saja bersiap. Salah satunya dengan membersihkan patung dewa.

Patung dewa adalah hal yang tidak terpisahkan dengan klenteng yang merupakan tempat ibadah umat Konghucu. Di mana ada klenteng, di situ ada patung dewa-dewi.

Patung dewa adalah representasi yang maha kuasa bagi umat Konghucu. Oleh karena itu, patung dewa merupakan benda yang sakral dan tentunya tidak boleh diperlakukan sembarangan.

Setiap menjelang Imlek tiba, kita bisa melihat bagaimana patung dewa begitu diperlakukan dengan penuh hormat. Ada tradisi menarik yang biasa dilakukan umat Konghucu di berbagai daerah dalam rangka menyambut Imlek, yakni membersihkan patung dewa sekitar sepekan sebelum Imlek.

Di Madiun misalnya, pencucian patung dewa dilakukan di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hwie Ing Kiong atau Klenteng Madiun. Ritual ini juga dikenal sebagai "Kimsin" di kalangan warga Tionghoa.

Pengurus sekaligus sesepuh TITD Hwie Ing Kiong Madiun Herman Tanaka menjelaskan bahwa pembersihan patung dewa ini bukan sekadar menyingkirkan kotoran yang menempel di patung, namun juga bermakna bahwa manusia pun turut menyambut imlek dalam keadaan jiwa yang bersih.

"Membersihkan patung itu kita menyongsong hari baru di Tahun Baru Imlek. Maka, semua harus bersih, kita tinggalkan yang lalu. Termasuk diri kita harus lebih baik dari hari yang lalu. Kita songsong tahun baru dengan diri kita yang bersih," ujar Herman Tanaka seperti dilansir Antara.

Kimsin adalah ritual sakral. Oleh karena itu, orang yang melakukannya pun harus mandi dan keramas dahulu. Bahkan ada pula yang sampai menjadi vegetarian. Terdapat 22 patung yang dibersihkan dalam waktu tiga hari.

Lalu di Magelang, kimsin juga dilakukan di TITD Liong Hok Bio. Sebelum pembersihan dimulai, terlebih dahulu dilakukan sembahyang untuk mengantarkan naiknya Dewa Dapur.

"Di sini ada 11 kimsin, kalau altar ada 13. Tadi sudah dilakukan sembahyang di dapur, untuk menghantarkan Dewa Dapur naik ke atas. Melaporkan segala tindak tanduk yang telah dilakukan umat manusia, ujar Wakil Ketua Harian TITD Liong Hok Bio Magelang, Gunawan sebagaimana diwartakan Kumparan.

Sementara itu di Cirebon, kimsin dilakukan di Vihara Dewi Welas Asih. Patung yang dicuci di sana terbilang banyak, ada 40-an rupang sementara altarnya ada 19.

Sebagaimana di daerah lain, kimsin di Cirebon juga diawali dengan puasa makan daging oleh orang-orang yang terlibat. Ternyata ini bermakna bahwa manusia perlu mengendalikan diri. Setiap seseorang memakan yang bernyawa, maka ada nyawa lain yang dikorbankan.

Penyerbuan Jatinegara, Kisah Pertempuran Prancis dan Inggris di Batavia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan A Reza lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel A Reza.

Terima kasih telah membaca sampai di sini