Ketika Toleransi Etnis Bertemu dalam Sepiring Lontong Cap Go Meh

Ketika Toleransi Etnis Bertemu dalam Sepiring Lontong Cap Go Meh
info gambar utama

Setiap perayaan Cap Go Meh atau hari besar Tionghoa lainnya, tentunya ada berbagai hal yang menjadi ciri khas untuk meramaikan pelaksanaannya. Selain itu, kehadirannya juga tidak hanya sekedar meramaikan saja, namun juga telah menjadi tradisi yang sarat akan makna filosofis.

Salah satu hal yang bisa kita temukan adalah dari segi kuliner. Seperti dengan hadirnya Lontong Cap Go Meh sebagai santapan yang tak ketinggalan sebagai sajian ketika hari Cap Go Meh tiba.

Akulturasi Budaya Tionghoa dalam Sepiring Gado-gado Betawi

Makanan yang tercipta dari asimilasi kebudayaan

Ilustrasi masyarakat Tionghoa | JG ARIF WIBOWO (Shutterstock)
info gambar

Makananan ini bisa ditemui dalam perayaan oleh etnis Tionghoa yang tinggal di pulau Jawa, khususnya di daerah yang berada di kawasan pantai utara. Mereka pun tidak sekedar singgah saja, namun juga membaur dengan penduduk hingga ada yang menikah dengan warga lokal yang beretnis Jawa.

Membaurnya masyarakat Jawa dengan Tionghoa ini juga turut memberikan warna baru dari segi kebudayaan, termasuk dari segi kuliner. Misalnya dalam lontong cap go meh ini, isiannya merupakan perpaduan antara gaya masakan khas Jawa dengan makanan khas Tionghoa.

Bersumber dari Radar Semarang, dulu ketika ada hari besar dari agama yang dianut oleh masyarakat Jawa seperti Idul Fitri, orang-orang Jawa kerap memberikan makanan kepada orang-orang Tionghoa sebagai bagian dari masyarakat di lingkungan mereka.

“Saat Imlek dan Cap Go Meh, masyarakat Tionghoa melakukan adaptasi untuk kuliner baru yang spesial dan halal, seperti opor yang selalu hadir dalam pelaksanaan Idul Fitri,” Tutur Asrida Ulinuha selaku salah satu pegiat budaya Tionghoa di Kota Semarang sekaligus pemilik Waroeng Kopi Alam yang menyajikan makanan ini.

Seperti dalam yuanxiao atau bola-bola tepung beras yang diganti dengan lontong, serta adanya kehadiran kuah seperti opor dan adanya sambal. Kuliner ini juga telah menjadi lambang dari toleransi yang terjalin antara masyarakat Tionghoa dengan Jawa.

Pempek, Dijajakan oleh Orang Tionghoa Hingga Menjadi Makanan Rakyat Palembang

Sarat makna filosofis

Gunawan Kartapranata (Wikimedia)
info gambar

Tanda persaudaraan pun semakin mengikat dengan terciptanya sebuah kuliner yang merepresentasikan pembauran kedua kebudayaan tersebut. Sebenarnya, di beberapa daerah juga memiliki ciri khasnya masing-masing untuk lontong cap go meh ini.

Tak cuma itu, dalam sepiring lontong ini juga terdapat makna tersendiri bagi masyarakat Tionghoa.

Misalnya dalam lontong cap go meh yang kerap dibuat oleh masyarakat Tionghoa di Semarang, isian pelengkap lontongnya terdiri atas lodeh, ayam, separuh telur rebus, abing, sambal, yang kemudian ditaburi dengan koya. Tak lupa kerupuk udang juga hadir sebagai pelengkap.

Yang mana, terdapat 7 isian utama dalam lontong ini. Dalam kebudayaan peranakan Tionghoa, angka 7 sendiri melambangkan kesempurnaan dalam ritual.

Selain itu, lontong yang dipotong sehingga berbentuk bundar karena pelaksanaan Cap Go Meh dilakukan ketika bulan purnama. Bentuk tersebut merepresentasikan bentuk dari bulan. Bentuk bundar ini juga terlihat dari kuning telur yang dibelah.

Pada perayaan hari besar seperti ini juga terdapat pantangan untuk tidak menyajikan bubur yang bertekstur encer sebagai hidangan, sebab terdapat kepercayaan kalau bubur adalah makanan saat kondisi sedang sulit.

Sehingga, lontong yang bertekstur padat dan kenyal dianggap lambang keberuntungan.

Perkumpulan Rasa Dharma dan Pluralisme dari Etnis Tionghoa Semarang

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini