Perkumpulan Rasa Dharma dan Pluralisme dari Etnis Tionghoa Semarang

Perkumpulan Rasa Dharma dan Pluralisme dari Etnis Tionghoa Semarang
info gambar utama

Semarang adalah salah satu kota yang ditinggali oleh cukup banyak etnis Tionghoa sejak dulu. Hal ini juga berkaitan dengan sejarah kota yang memang kerap memiliki hubungan dengan etnis Tionghoa, apalagi dulunya Semarang sempat menjadi pusat perdagangan.

Di kota ini pula, ada sebuah perkumpulan sosial Tionghoa yang usianya hampir 1,5 abad. Perkumpulan ini bernama Rasa Dharma atau Boen Hian Tiong yang punya peran sebagai penggerak serta menjadi saksi sekaligus pelaku dari perkembangan kebudayaan tionghoa di Kota Semarang.

Selain itu, perkumpulan ini juga memiliki tujuan untuk menegakkan nilai-nilai pluralisme di Kota Lumpia. Bagaimanakah kiprah dari perkumpulan yang berpusat di kawasan pecinan Semarang ini?

Mengapa Banyak Orang Palembang yang Mirip Orang Tionghoa?

Awalnya adalah perkumpulan masyarakat elit

Rasa Dharma berdiri sejak tahun 1876 dengan nama awal Boen Hian Tiong, yang mana artinya adalah rumah atau tempat perkumpulan untuk seni dan budaya. . Inisiasi pembentukan kelompok ini diawali dari Tan Ing Tjiong dan beberapa tokoh tionghoa yang ada di kawasan pecinan.

Sebenarnya awal mula pembentukannya ini hanyalah sebagai perkumpulan sosial untuk senang-senang saja. Ketika itu, bila ada pesta atau pertunjukan musik Lam Kwan, orang-orang Boen Hian Tong inilah yang kerap mengadakan acara. Yang bisa diterima dalam kelompok masyarakat ini pun hanya orang-orang yang terpandang saja.

Namun, seiring berjalannya waktu komunitas ini berkembang menjadi perkumpulan sosial serta pelestarian seni dan budaya tionghoa. Tak cuma itu, mereka juga turut berpartisipasi dalam gerakan sosial komunitas.

Mulanya, mereka hanya mengembangkan beberapa kesenian yang menjadi tradisi seperti Lam Kwan. Selain itu, mereka juga turut mengembangkan dan berpartisipasi dalam pelestarian berbagai bentuk kebudayaan lain seperti gamelan, tradisi wedangan cap go, serta kuliner-kuliner khas masyarakat Tionghoa Semarang.

Dengan berbagai pengembangan dari seni budaya tersebut, Rasa Dharma juga melakukan kegiatan sosial untuk anggota. Salah satunya adalah sumbangan dana kematian yang dananya dihimpun dari para anggota.

Suku Tionghoa dan Kemahiran Ilmu Dagang yang Terwariskan di Makassar

Memegang teguh nilai pluralisme

Salah satu nilai sosial lain yang Rasa Dharma pegang adalah nilai-nilai pluralisme. Sebagai salah satu etnis minoritas, mereka sangat menghargai orang-orang yang berasal dari suku maupun agama lain.

Hal ini tercermin dari berbagai kegiatan-kegiatan mereka yang turut melibatkan berbagai kalangan tanpa memandang latar belakang.

Salah satu tradisi rutin yang kerap dilakukan adalah sembahyang arwah (King Hoo Ping), yang mana kegiatan ini diisi dengan kegiatan doa lintas agama yang dapat dihadiri oleh masyarakat agama apapun. Dalam kegiatan ini pula terdapat acara bakti sosial.

Lalu, ada pula peringatan tragedi Mei 1998 yang bertujuan agar masyarakat tidak melupakan kejadian ini sekaligus menjadi refleksi untuk masyarakat dari berbagai latar belakang agar tetap selalu menjaga perdamaian.

Satu hal yang unik di pusat sekretariat komunitas sini adalah adanya sinci atau papan arwah Gus Dur yang dijuluki sebagai Bapak Tionghoa. Lambang kehormatan ini diberikan atas upayanya menegakkan toleransi di indonesia, khususnya pada masyarakat Tionghoa.

Sejak adanya sinci Gus Dur ini pula, anggota yang tadinya kerap menggunakan babi ketika berdoa, sekarang menggunakan domba demi menghargai mendiang Gus Dur yang beragama Islam. Haul Gus Dur pun juga turut diperingati oleh Rasa Dharma.

Perkumpulan Rasa Dharma akan terus berusaha menjadi agen untuk pelestarian seni dan budaya khas Tionghoa sebagai identitas khas. Mereka juga akan terus menegakkan nilai-nilai pluralisme agar masyarakat bisa merayakan perbedaan dengan sukacita.

Mengingat Jejak Gus Dur dalam Perayaan Imlek di Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MM
SA
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini