Suku Tionghoa dan Kemahiran Ilmu Dagang yang Terwariskan di Makassar

Suku Tionghoa dan Kemahiran Ilmu Dagang yang Terwariskan di Makassar
info gambar utama

Jalan Sulawesi telah menjadi cermin sejarah suku-suku Tionghoa yang ada di Makassar. Para pendatang ini berasal dari China yang mulai bermukim dan mengawali bisnisnya di kawasan pusat perdagangan ini.

Frans Heming Wang, tokoh masyarakat Tionghoa menyebut masyarakat China datang secara berkelompok berdasarkan suku mereka. Kelompok pertama yang datang berasal dari suku Hokkian yang masuk melalui Pelabuhan Makassar.

Menurut Frans, tidak dapat dipastikan tahun kedatangan imigran dari China tersebut. Namun dirinya memperkirakan pada abad ke 18, rakyat China sudah ada di Makassar yang dilihat dari berdirinya Klenteng di sekitar kawasan pecinan itu.

Dengan keuletan dan kerajinan, Suku Hokkian menelusuri setiap pelosok Sulawesi Selatan. Mereka berdagang barang kelontong dan terkenal tidak kenal lelah. Frans menyebut semboyan yang mereka pegang adalah terus berjuang di negara baru.

Pelayaran Laksamana Cheng Ho: Perubahan pada Dunia yang Tersisa di Nusantara

Bahkan suku Hokkian juga terkenal sebagai pribadi yang hemat, hingga sehari-harinya hanya menyantap bubur yang dicampur kacang merah atau jenis kacang lainnya. Hingga kini mereka menetap di kawasan pesisir Makassar bagian utara.

“Tetapi itu dulu. Sekarang mereka sudah warga keturunan yang telah lama tinggal di Makassar. Makanan sini pun menjadi santapan setiap hari,” ujar dia yang dimuat dalam Melihat Suku Tionghoa Mendiami Makassar terbitan Tempo.

Tidak lama berselang, Suku Kanton masuk dan bermukim di Makassar. Mereka juga memilih berdagang. Tetapi disebut Frans, suku ini memilih berdagang lebih kepada pertukangan, baik itu kayu maupun penjualan emas.

Disebutkan oleh Frans, perihal kebudayaan dan sikap hidup, Suku Kanton dan Hokkian tergolong sama. Mereka selalu menanamkan keuletan, rajin, teliti, dan berhemat yang hingga kini masih terjaga.

Warisan keahlian berdagang

Di Makassar ada empat suku besar dari negeri Tiongkok, yakni Hokkian, Kanton, Hainan, dan Hupe. Tetapi semua suku tersebut masih terbagi dalam beberapa suku-suku berdasarkan daerah asalnya masing-masing.

Hokkian adalah suku besar di China yang banyak berdiam di Makassar. Thomas Kusuma, pengurus Yayasan Amal Sejahtera mengatakan suku Hokkian terdiri atas enam sub suku, yakni Hokkian Can Cou, Nan Ang, Chin Ciang, Yong Chin, Hok Chiam dan Hin Hwa.

Selain itu disebutkan Thomas, Suku Hokkian identik dengan usaha dagang. Mereka juga membuka toko kelontong, tetapi usaha tersebut baru eksis pada tahun 1980. Sementara pioner dari usaha toko kelontong di Makassar berasal dari Suku Hakka.

Suku Hakka ini termasuk dalam Suku Kanton. Mereka berasal dari salah satu kota kota kecil di Provinsi Kanton. Hakka juga dikenal dengan sebutan Ke. Penyebutan serupa dengan Hupe, Oew Pek atau Upe.

Oei Tjeng Hien, Sosok Muslim Tionghoa Pembela Agama dan Negara

Wen U Ling (70 tahun) salah satu pengurus yayasan Abdi Sejahtera mengatakan Hakka atau Ke identik dengan usaha kelontong pertama di Makassar. Ayah dan kakeknya salah satu pembuka usaha kelontong pertama di daerah Palopo.

“Saya waktu itu belajar di sekolah Tionghoa di Makassar, tepatnya di Jalan Cakalang. Saya naik sepeda dan tinggal di Jalan Sulawesi. Sementara bapak dan kakek saya pulang-pergi dari Makassar ke Palopo,” katanya.

U Ling yakin bahwa Suku Hakka di Makassar adalah salah satu suku pertama yang membuka usaha toko kelontong. Dirinya menyebut orang Hakka dulu terkenal sebagai pedagang dan juga tukang obat.

“Toko Semi Selatan itu orang Hakka,lho” kata U Ling menyebut salah satu usaha toko obat tertua di Jalan Sulawesi.

Ilmu dagang milik semua suku

Di Jalan Gunung Merapi, Makassar berjejer tokoh yang didominasi penjual lampu dan alat listrik. Para pemilik toko di jalan itu didominasi oleh kalangan Tionghoa. Tetapi kini semuanya berasal dari berbagai suku, tidak tunggal dari Suku Hokkian.

Suku Hokkian memang mendominasi warga Makassar keturunan Tionghoa. Mereka juga kerap diidentikkan sebagai warga yang mahir berdagang. Namun kini kalangan pedagang sudah lebih merata dari suku lain, seperti Kanton dan Hainan.

“Dulu Hokkian dikenal berbakat dagang, tapi sekarang siapa saja yang punya bakat dagang. Sama dengan dengan toko yang ada di sini, tidak semua Hokkian,” kata Jeffry pemilik toko kelontong Tiga Sama.

Sejarah mencatat, sebagian besar orang China sudah bermukim di sepanjang pesisir Pantai Losari pada 1800-an. Di permukiman ini mereka menjalani berbagai profesi termasuk orang tua Jeffry yang telah bermukim di sekitar Kampung Melayu pada 1960-an.

Liem Koen Hian dan Surat Kabar Tionghoa yang Menyuarakan Nasionalisme

“Dulu masih banyak ditemukan tukang kayu, petani, dan sebagainya,” kata Jeffry.

Yonggris Lao, Wakil Ketua Perwalian Umat Buddha Indonesia Sulawesi Selatan menyebutkan penyebab perdagangan tidak lagi didominasi kalangan Suku Hokkian lantara berkaitan dengan diskriminasi terhadap warga Tionghoa di Indonesia.

Pada zaman kekuasaan Soeharto, orang Tionghoa dilarang menjadi pegawai negeri, tentara, seniman, petani, dokter, dan sebagainya, sehingga profesi pedagang lantas menjadi pelarian.

“Orang banyak melakukan perdagangan karena melihat ada peluang bisnis dan mampu mewujudkan itu,” jelasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini