Liem Koen Hian dan Surat Kabar Tionghoa yang Menyuarakan Nasionalisme

Liem Koen Hian dan Surat Kabar Tionghoa yang Menyuarakan Nasionalisme
info gambar utama

Masyarakat China di Hindia Belanda sejak abad 20 banyak memberi perhatian kepada perkembangan percetakan surat kabar. Hal ini menjadi upaya untuk mengedepankan semangat jurnalistik di kalangan kaum terdidik China.

Awalnya dari segi redaksional dan susunan staf, surat kabar Tionghoa menggunakan tenaga orang Eropa, seperti surat kabar Chabar Perniagaan dan Sin Po. Tetapi dalam perkembangannya, surat kabar Tionghoa peranakan itu tumbuh secara mandiri.

Sedangkan dari segi politis, surat kabar Tionghoa terbagi menjadi tiga dimensi yakni: kelompok Sin Po, kelompok Chung Hwa Hui, dan kelompok Indonesiers atau orang Indonesia. Kelompok Sin Po menolak kewarganegaraan Belanda dan menghendaki tumbuhnya nasionalisme Tiongkok.

Sedangkan kelompok Chung Hwa Hui, cenderung pro-Belanda tetapi masih ingin mempertahankan identitas etnis Chinanya. Sedang kelompok Indonesiers tetap ingin mempertahankan identitas etnik China, tetapi secara politik ingin berasimilasi dengan masyarakat lokal dan bersedia berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.

Dari kalangan Indonesiers inilah nama Liem Koen Hian muncul. Dirinya lahir di Banjarmasin, 3 November 1897. Sejak kecil, Leim telah menjadi pribadi yang berapi-api jika bicara ketidakadilan di sekitarnya.

Bahkan ketika ELS (Europeesche Lagere School, setara SD), dirinya pernah dikeluarkan karena mengajak gurunya yang orang Belanda berkelahi.

Oei Tiong Ham, Taipan International Asal Semarang yang Berpengaruh pada Masanya

"Sejak muda dia memang orang yang idealis, tidak suka melihat ketimpangan sosial di masyarakat. Apa yang dia anggap tidak benar, akan dia tentang, kalau perlu berkelahi,” catat Sejarawan Didi Kwartanada dalam webinar bertajuk Liem Koen Hian: Bapak Bangsa yang Ditolak yang dimuat Historia.

Dirinya kemudian terjun dalam dunia jurnalistik ketika mengadu nasib di Surabaya pada tahun 1915. Liem kemudian bekerja di surat kabar Tjhoen Tjioe. Dirinya kemudian melebarkan sayap dengan menerbitkan sendiri bulanan Soe Liem Poo (1917).

Pada tahun 1917-1923, Liem mengasuh Sinar Soematra di Medan. Kemudian kembali ke Surabaya di bawah naungan koran Pewarta Soerabaia (1917-1923). Pada 1925-1929, dirinya mendirikan dan menjadi pemimpin harian Soeara Poeblik, hingga akhirnya memimpin surat kabar Sin Tit Po (1929-1932).

Sin Tit Po dan nasionalisme

Leim telah memiliki gagasan tentang kemerdekaan sejak tahun 1928, ketika menuliskan ide kebangsaan, Indisch Burgerschap. Kemudian bertransformasi menjadi Indonesierschap (kewarganegaraan Indonesia).

Di mana secara singkat, tertuang gagasan bahwa peranakan adalah satu intergal yang tidak terpisahkan dari bangsa. Padahal ketika itu masyarakat Tionghoa lebih mendesak Belanda menjadikan mereka sebagai masyarakat kelas satu, seperti halnya Jepang setelah berhasil lewat Restorasi Meijinya.

Tetapi benih-benih kalangan Tionghoa yang berpikiran nasionalis mulai muncul. Hal ini dipicu karena munculnya Indische Partij yang terbentuk pada tahun 1912. Partai ini melibatkan segala etnis, termasuk Eropa dan peranakannya (Indo).

Dinukil dari National Geographic, nasionalisme ini mengalami puncaknya pada momen Sumpah Pemuda pada 1928. Ketika itu Sumpah Pemuda menjadi ajang persatuan antara peranakan Tionghoa, Arab, dan bumiputra, untuk jati dirinya sebagai orang Indonesia.

Pada 1932, harian Melayu-Tionghoa Sin Tit Po mengkritik asosiasi sepak bola Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB). Organisasi ini dianggap melakukan diskriminasi kepada etnis Tionghoa.

Belajar dari Yap Thiam Hien, Singa Pengadilan yang Mengaum Membela Kemanusiaan

Diskrimasi yang dilakukan oleh NIVB membuat Leim geram, dirinya bahkan membuat gelaran sepak bola tandingan. Abdurahman Baswedan yang ketika itu berada di Surabaya menyempatkan hadir menonton.

Tidak disangka, dari lapangan sepak bola menjadi awal pertemuan antara Liem dengan A.R Baswedan. Mereka berdua kemudian bekerja sama di media Sin Tit Po untuk mengampanyekan persatuan.

Sin Tit Po bukan lagi koran Tionghoa, melainkan koran bagi [seluruh] bangsa kulit berwarna,” kata Baswedan, dikutip Didi dan Sutarmin dalam Biografi A.R Basewedan: Membangun Bangsa, Merajut Keindonesiaan.

Sin Tit Po semula bernama Sin Jit Po dan merupakan surat kabar pengganti dari Sin Po edisi Jawa Timur yang mengalami kegagalan dan diambil-alih oleh Lim Bok Sioe. Dirinya kemudian mengganti menjadi Sin Jit Po dengan nama Sin Tit Po.

"Surat kabar ini menjadi koran ternama di Jawa Timur pada zaman pergerakan nasional Indonesia," tulis Ahmad Kosasih dalam Jurnal Kajian Sejarah & Pendidikan Sejarah berjudul Pers Tionghoa dan Dinamika Pergerakan Nasionaldi Indonesia, 1900–1942.

Didi Kwartanada dalam tulisan berjudul Belajar dari Liem, Baswedan, dan Sin Tit Po, yang dimuat di koran Tempo menyebut walau berciri dasar Tionghoa, surat kabar ini sangat bhineka, dengan awak dan konten yang beragam, sehingga mampu menembus sekat-sekat rasial ciptaan kolonial.

Liem pula yang merekrut jajaran redaksi Sin Tit Po. Dirinya kemudian menjadi mentor dari A.R Baswedan. Di Sin Tit Po, Baswedan mengisi rubrik "Pojok" dengan nama pena Abunawas.

Melalui harian ini pulalah, Baswedan menyatakan perang terbuka kepada golongan Ar Rabitah yang tetap setia kepada Yaman sebagai tanah airnya.

Selama di Sin Tit Po, Baswedan menikmati masa kewartawanannya. Dirinya mengemukakan bagaimana Sin Tit Po dikendalikan tiga engkoh dan dua bung yang masing-masing menempati posisi redaktur.

"Engkoh" yang dimaksud adalah Liem Koen Hian, Kwee Thiam Tjing, dan Chua Chee Liang. Sementara "bung" merujuk kepada J.D. Syaranamual dan Baswedan sendiri.

"Sebab sambil mengetik, mereka tidak berhenti bersenda gurau dan berketawaan," ucap Baswedan.

Sin Tit Po dan pergerakan nasional

Selain bergelut dalam dunia jurnalistik, Liem bersama teman-temannya pada tahun 1932 mendirikan Partai Tionghoa Indonesia (PTI) di Surabaya. Dirinya bersama rekan-rekannya dan kelompok peranakan Tionghoa menyadari mereka adalah orang Indonesia.

Pergerakan Liem disuarakan secara lantang melalui harian Sin Tit Po. Bahkan dengan berani harian Melayu-Tionghoa ini mengganti Hindia Belanda dengan kata Indonesia.

Penggunaan kata Indonesia masih tabu di tahun 1920-an. Lagu Indonesia Raya karya WR Soepratman juga dipublikasikan di sini.

"Itu dilakukan dua tahun sebelum sumpah pemuda, dimuat di rubrik, itu berani sekali," ungkap Pemilik Museum Pustaka Peranakan Tionghoa, Azmi Abubakar yang dikabarkan Merdeka.

Sin Tit Po juga banyak menampung para tokoh nasional, selain WR Soepratman, Soekarno juga dekat dengan banyak tokoh di media ini. Menurut Azmi, surat kabar milik etnis Tionghoa ini banyak menyokong pergerakan para aktivis saat itu.

Bukti Cinta di Balik Kemegahan Mausoleum OG Khouw Petamburan

Pada Januari 1933, Liem memutuskan untuk keluar dari Sin Tit Po. Keluarnya Liem pun diikuti Baswedan yang kemudian memutuskan bergabung sebagai redaksi Soeara Oemoem yang saat itu diasuh Dr. Soetomo.

Liem pun menginspirasi Baswedan untuk membentuk Persatoean Arab Indonesia (PAI) pada 5 Oktober 1934. Seperti halnya kelompok PTI, PAI juga bertujuan untuk menerima Indonesia sebagai tanah air dan budaya Indonesia sebagai budaya mereka, selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

"Tanah air kita adalah Indonesia. Allah yang tetapkan begitu, walaupun orang lain tidak mau menerima, dan kita pun tidak menerima permintaan orang lain," ujar Baswedan yang dimuat di Tirto.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini