5 Metode Menulis Puisi bagi Sastrawan Pemula

5 Metode Menulis Puisi bagi Sastrawan Pemula
info gambar utama

Apakah Kawan suka menulis puisi? Bagaimana cara atau metode Kawan dalam menulis puisi? Pastinya bagi seorang penulis puisi, metode tersebut bermacam-macam.

Namun, Kawan perlu ketahui bahwa ada beberapa metode menulis puisi yang cocok untuk calon sastrawan atau pemula. Dengan penggunaan metode ini, penulisan puisi Kawan jadi lebih ciamik dan keren. Lalu, apa saja metode menulis puisi bagi sastrawan pemula?

Cara menulis puisi bagi pemula
info gambar

1. Peta Pasang Kata

Dilansir dari rumpunnektar.com, metode ini berpusat pada keberanian dalam memasangkan kata secara bebas, tetapi imajinatif. Hal inilah yang membuat Kawan mendapat ragam kata baru dalam karya puisi Kawan.

Selain itu, Kawan berpotensi untuk mengembangkan kata-kata tersebut menjadi larik yang menarik. Kemudian, timbul suatu bait sehingga Kawan sempurnakan sebagai puisi yang utuh.

Caranya adalah Kawan membayangkan sentral atau kata yang menginspirasi pikiran. Kawan bisa mencari rujukan atau menyeleksi dari beragam pengalaman dan empati Kawan untuk memilih sentral kata tersebut. Setelah itu, kata yang dipilih akan menggerakkan ingatan Kawan pada hal lain secara tidak sadar.

Baca juga: Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Lulus Mau Jadi Apa?

Hal inilah yang bisa Kawan eksplorasi secara mengagumkan. Selanjutnya, Kawan bisa mengaitkan kata dengan kata lain. Perhatikan bahwa mengaitkan kata itu butuh keberanian agar tidak terjebak pada kegugupan antara salah atau benar sesuai dengan PUEBI.

Sebenarnya, dalam menulis puisi, Kawan tidak mengenal salah atau benar. Penyair memiliki kebebasan untuk menyimpang dari kaidah yang dikenal dengan licensia poetica. Contohnya, harum dusta, dada serut, dan sebagainya.

Selanjutnya, Kawan dapat memasangkan kata ke berbagai kata secara bebas. Lalu, Kawan bisa mengreasikan hingga jadi larik yang menarik. Tidak perlu khawatir, Kawan bebas mengembangkannya tanpa terikat kaidah kebahasaan.

Kemudian, Kawan bisa mengelompokkan larik-larik yang telah dibuat ke dalam tema kecil (pokok permasalahan) yang biasa disebut subject matter. Kawan membutuhkan kemampuan analisis terhadap isi dan makna larik. Kemudian, merangkai gagasan larik ke dalam keutuhan bait yang memukau.

Terakhir, Kawan bisa mengategorikan larik ke dalam kelompok larik yang membangun bait. Kawan membutuhkan ketelitian tingkat tinggi terkait lirik yang memiliki nuansa yang sama, berdekatan, dan berurutan.

2. Metode Ukaba

Kebanyakan orang tidak bisa menulis puisi karena sulit mencari kata-kata yang puitis dan merasa tidak berbakat. Maka dari itu, salah satu metode menulis puisi kedua adalah metode ukaba. Dilansir dari radarsemarang.jawapos.com, cara menggunakan metode ini ialah mengulang kata atau mengulang baris dalam baris atau bait.

Metode ini senada dengan gaya bahasa repetisi. Gaya tersebut adalah gaya bahasa yang menggunakan perulangan, kata, frasa, atau klausa dalam sebuah kalimat. Metode ukaba dibagi dua, yakni anafora dan katafora.

Anafora adalah teknik ulang kata atau baris yang terdapat di awal baris atau bait. Sementara itu, katafora adalah teknik ulang kata atau baris yang terdapat di akhir baris atau bait.

Kawan bisa menerapkan metode ini setelah menentukan tema puisi dan kata kunci yang ingin diambil. Setelah itu, Kawan bisa mengulang kata kunci tersebut di awal atau di akhir baris dalam bait.

Baca juga: Jurusan Sastra Asing yang Tak Banyak Tersedia di Perguruan Tinggi Indonesia

3. Metode Concept Sentence

Menurut Suprijono (2012: 132), concept sentence adalah salah satu metode pembelajaran yang dilakukan dengan penyajian beberapa kata kunci sesuai materi yang disajikan. Lalu, kata kunci itu disusun ke beberapa kalimat dalam kelompok dan didiskusikan kembali.

Dalam hal ini, metode ini dapat digunakan untuk menulis puisi karena bisa mengembangkan kata kunci menjadi bait-bait puisi yang menarik. Dalam hal ini, Kawan dapat menyajikan beberapa kata kunci yang diperlukan. Apabila masih kesulitan, Kawan dapat memanfaatkan barang-barang di sekitar Kawan.

Menurut Yuani (2013), kelebihan dari metode ini adalah meningkatkan semangat belajar, membantu terciptanya suasana belajar yang kondusif, mendorong dan mengembangkan proses berpikir kreatif, dan lebih memahami kata kunci dari hal-hal yang telah dipelajari.

4. Metode Field Trip

Metode ini adalah metode pencarian ide puisi atau menulis puisi dengan memanfaatkan lingkungan sebagai tempat sekaligus sumber inspirasi bagi calon sastrawan (pemula). Untuk tempatnya, Kawan tidak perlu mencari lokasi yang jauh.

Metode ini memang sering digunakan di berbagai kelas. Namun, Kawan bisa terapkan dalam kehidupan sastra Kawan. Caranya Kawan dapat pergi ke beberapa tempat yang strategis, seperti taman bermain, lapangan, jalan raya, atau fasilitas umum.

Selanjutnya, Kawan bisa menulis puisi secara bebas sesuai apa yang dilihat oleh Kawan. Lalu, revisi beberapa kata kunci dalam bait atau baris yang tidak sesuai dengan topik yang Kawan ambil. Setelah itu, cari kembali objek dari tempat-tempat lain untuk dimasukkan kata kuncinya ke dalam bait atau larik Kawan.

5. Metode Picture and Picture

Metode picture and picture adalah metode yang menggunakan gambar sebagai sumber inspirasi dalam menulis puisi. Metode ini hampir sama dengan metode field trip, tetapi Kawan tidak perlu keluar rumah atau lingkungan sekitar.

Kawan hanya perlu mencari beberapa gambar, baik di sekitar Kawan maupun internet. Untuk gambarnya, Kawan bisa mencari foto wisata, kenangan masa kecil, atau gambar bersejarah.

Dalam hal ini, penulisan puisi dapat dituangkan berdasarkan sugesti dari imajinasi Kawan dari gambar yang dipilih.

Baca juga: Serba-Serbi Jurusan Sastra Jawa yang Tidak Banyak Diketahui

Itulah beberapa metode dalam menulis puisi untuk calon sastrawan (pemula). Beberapa teknik dapat dipicu dengan beragam sumber ide, seperti audiovisual, observasi, wawancara, atau imajinatif dari berbagai pengalaman Kawan.

Sebelum menggunakan metode di atas, pastikan Kawan mengetahui pengetahuan tentang puisi, seperti unsur dan kaidah penulisannya.

Referensi:radarsemarang.jawapos.com| jurnal.fkip.uns.ac.id| journal.ainarapress.org | rumpunnektar.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AR
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini