World CleanUp Day Indonesia Adakan Sayembara, Ubah Sampah Jadi Seni dan Edukasi

World CleanUp Day Indonesia Adakan Sayembara, Ubah Sampah Jadi Seni dan Edukasi
info gambar utama

Dalam rangka menyambut perhelatan World Water Forum ke-10, World CleanUp Day Indonesia mengadakan kompetisi Sayembara Apresiasi Seniman. Event tersebut berjalan pada 13 Mei 2024 dan memiliki tema besar “Kurangi Pencemaran Air, Ubah Sampah Jadi Seni”.

Kompetisi ini mengajak para seniman dan pecinta lingkungan untuk mengeksplorasi kreativitas dari material daur ulang, sekaligus membangun kesadaran akan pentingnya menjaga sumberair agar tidak tercemar oleh sampah.

Art Curator dan Arsitek sekaligus juri Sayembara Apresiasi Seniman, Cosmas Gozali, mengatakan sayembara ini telah melalui proses penjurian yang panjang. Dalam prosesnya, di awal peserta wajib menghasilkan video yang menjelaskan tentang karya seni yang dibuat. Setelah itu, terdapat sesi wawancara untuk 20 karya seni yang lolos seleksi.

“Selain melihat estetika visual, keakuratan teknis, dan kecermatan dalam penggunaan bahan, kami juga menilai apakah karya seni yang dibuat mampu mencerminkan tema sayembara. Setiap karya harus memiliki pesan pentingnya pelestarian lingkungan atau ajakan untuk mengurangi pencemaran air,” sebut Cosmas lagi.

Menikmati Karya Seni dari Sampah, Apresiasi Seniman untuk World Water Forum ke-10 di Bali

Ada dua kategori yang dijurikan, yaitu karya seni 3 dimensi (3D) dan 2 dimensi (2D), dengan total submission sebanyak 95 peserta. Kemudian, 20 karya yang terseleksi akan masuk tahap wawancara oleh para juri. Gunanya untuk mendalami makna atau ide dari karya seni yang dibuat. Tak hany itu, dilakukan juga penyaringan untuk mendapatkan 10 karya terbaik.

Kompetisi ini dimenangkan oleh REEXP dengan tema “Hirup Aing Kieu-Kieu Wae” untuk kategori 3 Dimensi, dan Deddy Iskandar dengan tema “Perangkap Bubu” untuk kategori 2 Dimensi.

Para pemenang akan mendapatkan hadiah berupa uang tunai dan piagam penghargaan.

REEXP merupakan pasangan seniman Evan Driyananda dan Attina Nuraini yang mengangkat karya “Hidup saya gini-gini aja”. Sebuah cerita mengenai pelestarian lingkungan, sustainability, profesi dan penilaian anggapan diri mengenal kehidupan.

Ia terinspirasi dari sosok para petugas kebersihan dan pemulung sampah. Keberadaan mereka dibutuhkan, tetapi sayangnya sering dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang.

Karya ini menjadi pengingat bahwa semua profesi yang dijalankan dengan kebaikan dan bermanfaat untuk sesama seluruhnya adalah emas. Sebagai tambahan, karya seni itu diciptakan dari pemanfaatan benda-benda temuan yang mempunyai massa, kekuatan, dan ketebalan tertentu. Setelahnya akan dialihfungsikan dengan menggunakan teknik potong sambung konstruksi.

Pada kategori karya seni dua dimensi, seniman Deddy Iskandar mengangkat karya “Perangkap Bubu”. Karya tersebut dilatarbelakangi oleh penggunaan plastik sebagai bahan yang praktis, murah, relatif kuat, dan memudahkan kehidupan.

Di sisi lain, masyarakat masih banyak yang tidak peduli dengan lingkungan dan kerap membuang sampah plastik di sungai, selokan, dan sebagainya. Akibatnya, plastik yang tidak mudah terurai, dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, kotor, kumuh, dan tidak sehat. Tentunya ini sangat berbahaya bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Proses pembuatan karya yang dilakukan dengan menggunakan sampah plastik yang didapat langsung dari sungai, yang membuat karya tersebut menjadi begitu hidup dengan memanfaatkan limbah yang langsung ditemui di tepian sungai.

Dorong Perjanjian Plastik Gobal untuk Kurangi Sampah Plastik dan Tembakau

Leader World Clean-up Day Indonesia, Andy Bahari atau akrab disapa Abe, mengapresiasi seluruh karya seni yang diikutsertakan dalam sayembara.

Upaya para peserta dalam mengubah sampah menjadi karya seni merupakan bukti nyata kepedulian terhadap lingkungan dan kecintaan terhadap seni.

“Kami sangat terinspirasi oleh antusiasme dan kreativitas para peserta yang telah menuangkan ide-idenya dalam karya seni yang indah dan penuh makna,” kata Abe dalam sebuah wawancara.

Abe berharap dengan berakhirnya kegiatan Sayembara Apresiasi Seni dalam rangka menyambut kegiatan World Water Forum 2024, dapat memberi perspektif baru untuk mempromosikan kepedulian terhadap lingkungan dan memperkuat pesan penting tentang daur ulang dan penggunaan material yang ramah lingkungan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

NF
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini