Tulis berita baik Anda di sini..

Sejarah Indonesia selalu bercerita bahwa negeri ini kaya akan budaya dan tradisinya. Sebagai masyarakat Indonesia tentunya menjalankan suatu tradisi masih sangat melekat dihati dan enggan untuk meninggalkannya begitu saja dan sepertinya tidak mungkin ditinggalkan demi modernitas semata. Sesekali kita harus mengakui dan bersyukur ada yang dibanggakan dari negeri kita tercinta ini. Budaya dan tradisi, berjalan beriringan bersama kebutuhan masyarakat Indonesia.

Kali ini tradisi yang akan saya bahas adalah tradisi "bodo kupat" di Tuban Jawa timur. Mungkin kota ini tidak cukup familiar dikalangan masyarakat Indonesia sendiri. Tapi inilah kenyataanya kota kecil di pesisir Utara Jawa ini menyimpan segala budaya dan tradisinya yang luar biasa. Bagaimana masyarakatnya masih mempertahankan dan ramah menjalankan segala urusan agama serta budaya tradisinya karena acuan masyarakatnya sendiri adalah hidup seimbang dan menghargai warisan leluhurnya.

Sebelumnya saya akan menjelaskan apa itu "bodo kupat", bodo kupat merupakan tradisi makan ketupat bersama di mushola atau di langgar enam hari setelah hari raya idul Fitri. Mungkin makan ketupat adalah hal yang biasa bagi sebagian masyarakat Indonesia, namun bagi masyarakat Tuban hal ini merupakan suatu tradisi yang sakral dan penuh filosofi. Tidak heran jika masyarakatnya selalu menyempatkan waktu demi membuat ketupat ini sendiri disetiap tungku di dapurnya.

Sebelum membahas filosofi "bodo kupat" saya akan menceritakan sedikit kenapa tradisi itu ada. Sangat jelas bahwa bodo kupat merupakan tradisi Jawa, mengingat bahwa masuknya agama Islam yang dibawa oleh wali songo tak lepas dari asimilasi budaya Hindu. Sebelum Islam masuk tradisi ini digunakan masyarakat sebagai sarana mengirim doa kepada arwah anak kecil, namun setelah Islam masuk tradisi ini tidak dihilangkan namun tetap dilestarikan karena untuk mendekati masyarakat Jawa pada saat itu adalah menyelipkan ajaran Islam melalui budaya dan tradisinya agar tetap diterima dengan baik.

Mengingat masyarakat Jawa penuh dengan filosofi tentunya ketupat juga begitu, daun yang digunakan untuk membuat ketupat adalah daun kelapa atau disebut "janur kuning" bukan tanpa alasan menggunakan janur kuning. Janur kuning merupakan simbol penolak balak yang artinya mengandung harapan dari masyarakat terhindar dari marabahaya. Sedangkan bentuk persegi pada ketupat juga memiliki makna "kiblat papat lima pancer" adalah lambang dari empat arah mata angin yang memiliki satu pusat yaitu filosofi dari keseimbangan alam. Secara umum arah mata angin terbagi menjadi empat yaitu Utara, Selatan, Barat dan Timur. Dari keempat mata angin tersebut bertumpu pada satu pusat dan jika salah satunya dihilangkan maka tidak akan membentuk suatu keseimbangan alam. Begitupun dengan keadaan alamiah seorang manusia, kemanapun manusia pergi ke penjuru manapun tetap akan kembali kepada pusatnya yaitu Tuhannya agar manusia tetap seimbang.

Selanjutnya beras sebagai isiannya mempunyai makna kemakmuran dan kesuburan. dimana hal tersebut merupakan harapan dari semua umat manusia dalam menjalankan setiap kebutuhan hidupnya. Sedangkan kenapa makan ketupat harus dihari keenam atau ketujuh setelah idul Fitri ini berkaitan dengan asal usul penyebutan ketupat itu sendiri yaitu "ngaku lepat" yang artinya mengakui kesalahan dan saling bermaafan.
Sebenarnya semua budaya dan tradisi itu ada sebab asalnya, kita sebagai generasi muda harus bisa berfikir lebih dalam mencari tau bagaimana tradisi itu ada bukan hanya memberi justifikasi bahwa itu melenceng atau apapun yang akan membuat kita semakin kebingungan dengan identitas negeri ini. Sekali lagi kita harus mempelajari dan jangan sampai kita berlari melampaui tradisi. Saya sebagai masyarakat Indonesia percaya semakin tinggi kualitas mental maka kita akan semakin bersinergi dengan budaya dan tradisi.


Sumber :

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu