Gantikan Boscha, LAPAN Bangun Observatorium Terbesar di Asia Tenggara

Gantikan Boscha, LAPAN Bangun Observatorium Terbesar di Asia Tenggara

Observatorium Bosscha Sterrenwacht © infobandung.co.id

Indonesia saat ini memiliki satu observatorium pengamatan angkasa yang ada di Lembang Bandung, Observatorium Bosscha Sterrenwacht atau yang lebih akrab dikenal Observatorium Bosscha. Observatorium ini sampai ini digunakan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) untuk memajukan sains astronomi di Indonesia.

Observatorium Bosscha yang didirikan sejak 1926 itu merupakan kebanggan Indonesia dan telah menjadi Objek Vital Nasional. Namun kini, observatorium tersebut dianggap tidak lagi efektif melakukan pengamatan karena wilayah sekitarnya semakin ramai dan polusi cahaya semakin menyulitkan pengamatan luar angkasa. Itu sebabnya LAPAN telah merencanakan pembangunan Observatorium Nasional baru di Nusa Tenggara Timur.

Baca juga: Kisah-Kisah Observatorium di Indonesia

Sebagaimana diberitakan ANTARA (8/11), observatorium baru tersebut akan dibangung berdasarkan kerja sama antara Institut Teknologi bandung, Universitas Nusa Cendana, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Pemerintah Kabupaten Kupang. Lokasi yang dipilih untuk pembangunan observatorium ini berdasarkan penelitian tim ITB adalah Gunung Timau, Kupang.

"Observatorium Nasional di Timau ini dibangun karena observatorium di Boscha, Lembang sudah kurang layak untuk penelitian astronomi, karena di sana sudha banyak polusi cahaya," kata Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin.

Kawasan Hutan Lindung Gunung Timau, Kupang, Nusa Tenggara Timur dipilih sebagai tempat berdirinya observatorium baru karena memiliki malam yang cerah sehingga sangat baik untuk pengamatan bintang (Gambar: LAPAN)
Kawasan Hutan Lindung Gunung Timau, Kupang, Nusa Tenggara Timur dipilih sebagai tempat berdirinya observatorium baru karena memiliki malam yang cerah sehingga sangat baik untuk pengamatan bintang (Gambar: LAPAN)

Alasan terpilihnya Gunung Timau antara lain karena daerah itu berada di lokasi yang memiliki musim kering panjang sehingga ideal untuk pengamatan astronomi. Selain itu, Gunung Timau juga relatif masih jauh dari wilayah perkotaan sehingga polusi cahaya cukup minim.

Observatorium baru tersebut akan dibangun di lahan seluas 30,25 hektare dan akan memiliki lensa berdiameter 3,8 meter. Pembangunan observatorium ini ditargetkan akan selesai pada tahun 2020 dan diklaim akan menjadi observatorium terbesar di Asia Tenggara.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Pilih BanggaBangga43%
Pilih SedihSedih5%
Pilih SenangSenang28%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi12%
Pilih TerpukauTerpukau12%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Indonesia Menuju Era Cashless Society Sebelummnya

Indonesia Menuju Era Cashless Society

Lepas Dari Gadget, Bank Indonesia Kenalkan Literasi Pada Anak Selanjutnya

Lepas Dari Gadget, Bank Indonesia Kenalkan Literasi Pada Anak

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.