Iya, namanya adalah Siti, yang memiliki orang tua bermatapencaharian sebagai petani biasa. Siti lahir pada 15 Juni 1881 (namun ada juga yang menyebutkan kelahiran Mei 1880) di Manggopoh, sebuah desa kecil dan terpencil di wilayah Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Karena lahir di Manggopoh, perempuan ini lebih dikenal dengan nama Siti Manggopoh.

Siti adalah anak bungsu dari enam bersaudara dan merupakan anak perempuan pertama sekaligus terakhir dalam keluarga mereka. Ia tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah umum karena waktu itu di desanya belum ada sekolah. Tapi ia sering ikut kegiatan mengaji bersama kelima kakak laki-lakinya.

Selain mengaji, Siti juga sering ikut ke gelanggang persilatan. Mungkin inilah yang menyebabkan Siti berani maju ke medan perang untuk melawan penjajahan Belanda di daerahnya sehingga ia diberi julukan Singa Betina dari Manggopoh.

Siti Manggopoh | Foto: Wikipedia
Siti Manggopoh | Foto: Wikipedia

Terbentuknya Badan Perjuangan

Siti memang membenci Belanda, bahkan setelah menikah dengan Rasyid, yang diberi gelar Bagindo Magek, dan memiliki anak perempuan. Kebenciannya memuncak ketika Belanda menerapkan Peraturan Pajak di tanah Minangkabau pada awal Maret 1908 sebagai pengganti Peraturan Tanam Paksa terhadap rakyat.

Siti dan masyarakat lainnya merasa harga dirinya diinjak-injak, mengingat peraturan yang disebut dengan belasting op de bedrijfsen andere inkomsten (selanjutnya disebut belasting) ini mengenakan pajak tanah yang dimiliki secara turun-temurun. Dengan kata lain, belasting ini bertentangan dengan adat Minangkabau.

Pemberontakan rakyat awalnya terjadi di Kamang hingga akhirnya merambah ke Manggopoh. Siti pun tak mau tinggal diam mengingat tindakan Belanda yang semena-mena dan biadab itu.

Ia bersama dengan pemuda militan dari Manggopoh membentuk badan perjuangan yang terdiri dari 14 orang. Mereka adalah Rasyid (suami Siti), Siti, Majo Ali, St. Marajo Dullah, Tabat, Dukap Marah Sulaiman, Sidi Marah Kalik, Dullah Pakih Sulai, Muhammad, Unik, Tabuh St. Mangkuto, Sain St. Malik, Rahman Sidi Rajo, dan Kana.

Dengan pembentukan badan tersebut, mereka bersumpah untuk siap mati melawan penjajah Belanda yang telah memeras dan menindas rakyat sekian lama.

Perang dengan Belanda Bagian I

Kamis malam, 15 Juni 1908 adalah aksi pertama badan perjuangan. Siti merelakan diri menjadi umpan dan menyusup ke markas Belanda yang pada saat itu sedang mengadakan pesta yang meriah. Setelah berhasil menyusup, Siti memadamkan lampu dan memberi tanda kepada para pejuang yang sudah siaga di luar. Mereka pun langsung menyerbu markas tersebut.

Pertarungan para pejuang dan Belanda pun terjadi dalam kegelapan. Siti berhasil menghabisi puluhan tentara Belanda yang panik karena ada serangan tiba-tiba. Pun para pejuang lainnya dapat melampiaskan dendam rakyat Manggopoh yang ditindas dan disengsarakan Belanda.

Dalam serangan gelap itu, para pejuang, yang tidak satupun gugur berhasil membunuh 53 dari 55 serdadu Belanda. Dua yang selamat berhasil kabur ke Lubuk Basung walaupun dengan luka serius di sekujur tubuhnya.

Perang dengan Belanda Bagian II

Dua antek Belanda yang berhasil kabur itu meminta bantuan tentara dari Bukittinggi dan Padang Pariaman. Mereka sengaja memporak-porandakan Manggopoh untuk balas dendam. Tak sedikit warga yang menjadi korban kemurkaannya.

Aksi penyerangan kedua yang berlangsung pada Jumat sore, 16 Juni 1908 ini menewaskan seluruh pejuang yang melawan pada saati itu. Ada yang mengatakan pejuang saat itu hanya 5 orang (Tuanku Cik Padang, Tabat, Sidi Marah Khalik, Muhammad, dan Kana), namun ada juga yang mengatakan 3 orang (Tuanku Cik Padang, Kana, dan Unik).

Di lain kesempatan, Siti dan suaminya berhasil ditangkap lalu dipenjarakan secara terpisah. Adapun suaminya Rasyid dibuang ke Manado, sedangkan Siti dibuang ke Padang Mariaman lalu ke Padang.

Tugu Kenangan Kisah Perjuangan Siti dkk

Tugu Opstant Kamang Manggopoh | Foto: Melancong ke Bukittinggi
Tugu Opstant Kamang Manggopoh | Foto: Melancong ke Bukittinggi

Perang Kamang dan Perang Manggopoh membuat luka mendalam bagi penjajah Belanda. Untuk mengenang perang tersebut, mereka membangun tugu bertuliskan “OPSTANT KAMANG MANGGOPOH”.

Tugu yang terletak di Bukittinggi ini menjadi saksi sejarah yang membuktikan keberanian masyarakat Kamang dan Manggopoh, yang di dalamnya ada seorang perempuan bernama Siti.

Akhir Hayat Siti Manggopoh

Makam Siti Manggopoh | Foto: Mapio.net
Makam Siti Manggopoh | Foto: Mapio.net

Siti meninggal pada 20 Agustus 1965 di Gasan Gadang, Padang Pariaman. Jenazah Siti dimakamkan dengan upacara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Negara, Lolong, Padang.

Meski belum ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, pemerintah sudah mengakui jasa-jasa Siti Manggopoh dan menetapkannya sebagai Perintis Kemerdekaan sejak 1964. Penetapan ini berdasarkan Surat Keputusan Menteri Sosial Nomor Pol: 1379/64/P.K. Lembaran Negara nomor 19/1964, tanggal 17 Januari 1964.

Sumber: Buku "Perempuan-perempuan Pengukir Sejarah" karya Mulyono Atmosiswartoputra

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu