Cara Duterte Menghadapi Kutukan "The Sick Man of Asia"

Cara Duterte Menghadapi Kutukan "The Sick Man of Asia"
info gambar utama

Diakui atau tidak, bagi banyak orang Indonesia, Filipina adalah tetangga yang 'jauh'. Meski secara geografis begitu dekat dengan Indonesia (terutama wilayah bagian selatannya yang berbatasan dengan Sulawesi Utara), namun Manila tidaklah sedekat Singapura, Kuala Lumpur, atau Bangkok. Pun mungkin orang Indonesia yang pernah ke Filipina tak sebanyak orang Indonesia yang mengunjungi Singapura atau bahkan Vietnam.

Bagi yang pernah mengunjungi Manila, tentu mafhum bahwa kota ini dulunya pernah makmur. Tata kota di pusat kota Manila adalah tata kota modern yang direncanakan sejak lama, dan 'sisa-sisa' sinar kejayaannya sebenarnya masih terasa hingga kini. Mungkin sedikit mirip layout kota Los Angeles di California. Negeri ini kini memang bukanlah negeri paling makmur di Asia Pasifik. Bahkan, sejak lama dijuluki "The Sick Man of Asia", si sakit dari Asia.

Namun tak banyak yang menyangka, bahwa pada awal 1950-an, Filipina adalah salah satu dari sedikit negara paling kaya dan maju di Asia, setelah Jepang. Setelah berakhirnya Perang Dunia II, banyak yang meyakini bahwa Filipina akan menjadi bintang dalam percaturan ekonomi dan politik dunia. Waktu itu, kedekatannya dengan AS dirasa sangat menguntungkan bagi Filipina, selain itu, Filipina juga sudah menganut sistem demokrasi. Ditambah lagi dengan populasinya yang besar, dengan kemampuan berbahasa Inggris yang baik, Filipina memang punya potensi besar menjadi negara maju di Asia.

Pada tahun 1960, pendapatan perkapita rakyat filipina 10% lebih tinggi dibandingkan Korea Selatan, Filipina juga penerima investasi luar negeri tersebar di kawasan Asia Pasifik pada masa itu. Ketika Korsel masih menjadi negara yang miskin dengan penduduk mayoritas bekerja di bidang agraris, Filipina sudah menjadi kekuatan industri di Asia.

Waktu itu, Filipina adalah satu dari sedikit negara yang sudah memproduksi bahan baku yang sudah diproses, pusat-pusat perakitan mobil. televisi dan alat-alat rumah tangga. Pabrik-pabrik kimia memproduksi obat-obatan, logam batangan diimpor dan dibuat baja untuk memproduksi kapal, pabrik-pabrik semen, tektil, dan pupuk pun sudah ada di berbagai tempat.

Makati, Jantung Ekonomi Filipina | wikitravel
info gambar

Namun setelahnya, ekonomi negara tersebut stagnan selama puluhan tahun. Pada tahun 1995, pendapatan perkapita rakyat Filipina 75% lebih rendah dibandingkan Korea Selatan, dan investasi asing juga sangat kecil. Sebelumnya, di tahun 70-an dan 80-an, kehebatan ekonomi Filipina memudar dan turun, sementara tetangga-tetangganya tumbuh. Negara ini pun menjadi negara non-komunis paling miskin di Asia Tenggara.

Kemakmuran dan momentum kemajuan Filipina di dekade sebelumnya (50-an dan 60an) harus hilang...kalah dari korupsi, merebaknya kekronian, dan salah urus di era pemerintahan diktator Ferdinand Marcos dan lemahnya pemerintahan Corazon Aquino pasca jatuhnya Marcos.

Hilangnya momentum Filipina itu memicu derita panjang tak berkesudahan. Kemudian dikenal-lah label yang menyakitkan bagi seluruh bangsa Filipina, yakni "Sick man of Asia", atau "Latin-style banana republic in the South China Sea." Pendapatan perkapitanya jauh di bawah tetangga-tetanggaya, dan banyak sekali orang-orang terpelajar dan berketrampilan, bekerja di luar negeri.

Jeepney, Metafora Filipina | Rappler
info gambar

Majalah The Economist menulis sebuah ulasan menarik tentang Filipina pada tahun 2007:

"Yang membedakan antara Manila (ibukota Filipina) dengan ibukota-ibukota lain di Asia Tenggara adalah kendaraan Jeepney yang ada di mana-mana, minibus hasil modifikasi yang dipakai oleh penduduk kurang mampu. Dulunya adalah hasil modifikasi jip-jip tentara AS, kini kebanyakan Jeepney menggunakan bodi bekas dari Jepang. Jeepney telah menjadi metafora bagi ekonomi Filipina; tak efisien, dan mudah dibalap.

Pada tahun 70, Filipina lebih kaya dari tetangga-tetangganya. Namun, saat negara ini tumbuh 2% saja, tetangga-tetangganya menekan gas dalam-dalam dan bergerak jauh lebih cepat, dan dilibas oleh Singapura, Malaysia, Thailand, dan China. Sebagai bekas koloni AS, Filipina gagal memanfaatkan kedekatan kulturalnya dengan AS, apalagi adanya penggunaan bahasa inggris yang luas di Filipina.

Pemerintahan Ferdinand Marcos yang tak kompeten dan korup dari tahun 1965-1986 memang puya andil besar menjatuhkan kehebatan ekonomi Filipina. Ekonomi yang lambat, dicampur dengan pertumbuhan populasi yang begitu cepat, memaksa jutaan orang Filipina (10% dari populasi) mencari kerja di luar negeri"

Filipina tak kunjung membaik pasca jatuhnya Marcos, mulai dari Aquino, Ramos, Estrada, Arroyo, dan Benigno Aquino. Di era Benigno, sebenarnya muncul harapan yang tinggi. Negeri ini tumbuh sangat cepat, melampaui banyak negara lain. Ekonomi tumbuh 7,2% di 2013, 6.8% di 2012, 3.7% di 2011, dan 7.6% di 2010.

Benigno Aquino, mewarisi banyak tantangan | Global Risk Insight
info gambar

Ekonomi Filipina (dikatakan) membaik pada tahun 2000an di bawah Presiden Benigno Aquino III. Ekonominy tumbuh 7.2% pada 2013, 6.8% di 2012, 3.7% di 2011, dan 7.6% di 2010. Pengeluaran pengeluaran pemerintah naik 12%, sementara konsumsi naik 6.1 %.

Meski begitu, pertumbuhan tinggi di sana tak diikuti dengan terbukanya banyak peluang kerja. Ekonomi yang bergerak cepat ternyata hanya dinikmati beberapa gelintir orang yang memang sudah kaya. Angka pengangguran tetap tinggi.

Meskipun sisi jasa Filipina masih kuat (pusat call center terbesar di dunia, mengalahkan India), dari sisi manufaktur, negara ini sangat lemah. Pabrik-pabrik untuk memproduksi barang tidak dibangun. Sebagai contoh, di China, banyak penduduk miskin dari berbagai pelosok China terangkat hidupnya berkat adanya pabrik-pabrik dimana mereka bisa bekerja dan mendapat penghasilan tetap. Di Filipina,..hal itu belum juga ada.

Pengangguran yang menjadi masalah laten | GMANetwork.com
info gambar

Daily Inquirer menyatakan pendapatnya dengan berani, bahwa Aquino seolah sengaja membanjiri media dengan berita-berita pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Namun hasilnya tak cukup bagus, dampak sosialnya tak terasa, terutama dalam hal mengatasi kemiskinan dan mengecilkan jurang pendapatan antara si kaya dan si miskin. Pertumbuhan tinggi tak serta merta menciptakan lapangan kerja bagi penduduk miskin, yang akan memungkinkan mereka keluar dari jurang kemiskian.

Meski begitu, orang mengenang Benigno Aquino (berkuasa selama 6 tahun) sebagai sebuah era yang monumental, peletak dasar pertumbuhan ekonomi Filipina, dan keluar dari label The Sick Man of Asia. Ekonomi tumbuh tinggi, investasi luar negeri mulai mengalir, kepercayaan dunia internasional tumbuh tinggi, dan sikap politik internasionalnya pun dipuji.

Para pekerja migran Filipina. Sumber nadi ekonomi | LA Now
info gambar

Namun, pencapaian-pencapaian Pak Aquino ini kini dikhawatirkan akan menguap, karena kelemahan yang mendasar dalam perpolitikan Filipina, yang lebih menyukai 'showmanship' dan personalitas dibandingkan kebijakan dan kemampuan memerintah. Petinju dan pemain film seringkali menjadi politisi dan pengambil kebijakan, sementara orang-orang yang sebenarnya punya kemampuan sama sekali tak terpakai. Dan rasanya, inilah yang terjadi saat Presiden Duterte terpilih menjadi presiden baru menggantikan Aquino.

Duterte, Beast of Davao | Inquirer News
info gambar

Waktu beliau memang baru memimpin, namun kebijakan-kebijakannya sudah mulai membuat banyak orang berkeringat, dan was-was. Apakah dia bisa melanjutkan momentum ekonomi yang dikembangkan oleh Aquino, ataukah Filipina kembali menjadi Si Sakit dari Asia.

Duterte memang menjadi bulan-bulanan media barat saat menerapkan tindakan tegas terhadap siapapun yang terlibat dalam perdagangan obat-obatan terlarang. Bahkan mahkamah internasional pun mengancam akan membawanya ke pengadilan internasional di Den Haag.

Rupanya Duterte justru sedang menikmati dukungan luas dari rakyat Filipina. Negara ini kini menjadi salah satu tujuan investasi favorit, salah satunya besarnya angkatan muda, dan angkatan kerja yang menjanjikan.

Setelah lebih dari satu dasawarsa reformasi ekonomi makro yang berkelanjutan, dimulai pada pertengahan tahun 2000-an dan mencapai puncaknya dalam beberapa tahun terakhir, Filipina benar-benar mulai menjadi 'dambaan' para investor dunia.

Tahun lalu, Investasi Asing Langsung (Foreign Direct Investment /FDI ) Filipina mencapai rekor tertinggi, yakni $ 10 miliar. Tidak pernah dalam sejarahnya , negara Asia Tenggara ini mencapai rekor tersebut. Ekonomi pun tumbuh cepat dengan pertumbuhan mencapai 6.7 % pada 2017, di saat yang sama, ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5.07%).

Bahkan dalam laporan terbarunya, The US News & World Report, menobatkan Filipina sebagai "Negara Terbaik untuk Berinvestasi" pada tahun 2018. Sebagian besar optimisme tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa Filipina akan mampu memanfaatkan kekuatan ekonomi China untuk mengkatrol ekonomi negaranya, termasuk memanfaatkan tenaga kerja dalam negeri yang jumlahnya besar.

Salah satu faktor utama tumbuh cepatnya ekonomi Filipina adalah pengeluaran pemerintah dalam membangun infrastruktur. Duterte dikenal mempunyai tagline "build, build, build" atau "bangun, bangun, bangun".

Pemerintahan Duterte meluncurkan proyek-proyek infrastruktur besar , di antaranya pembangunan Mega Manila Subway, perluasan sistem kereta api yang ada yang menghubungkan Metro Manila ke provinsi-provinsi terdekat, dan perluasan beberapa bandara di seluruh Filipina, membangun jembatan-jembatan yang akan mempersingkan waktu transportasi, dan lainnya. Dorongan infrastruktur pemerintah ini benar-benar telah memicu pergerakan ekonomi lintas sektor, yang pada akhirnya menjadi faktor penentu mantapnya pertumbuhan ekonomi negara tersebut.

Selama ini, infrastruktur yang buruk selalu menjadi penghalang Filipina mencapai pertumbuhan yang tinggi dengan pemerataan yang maksimal. Inilah yang ingin dicapai Duterte. Dan kinimulai banyak orang (Filipina) yang menyebut era Duterte sebagai Era Emas Infrastruktur (Golden Age of Infrastructure) di Filipina. Beberapa area kunci yang ingin dibangun oleh Duterte adalah:

Bidang utama reformasi adalah:

  • Mendorong konektivitas jalan lokal.
  • Menggunakan informasi geospasial standar. Melalui Nota Kesepakatan antara DILG dan Pemetaan Nasional dan Otoritas Informasi Sumber Daya (NAMRIA), yang juga difasilitasi oleh CfC, pemerintah daerah sekarang memiliki informasi geospasial kelas standar dan nasional yang dapat digunakan dalam perencanaan investasi jalan.
  • Memprioritaskan sektor penggerak ekonomi utama.
  • Mendorong partisipasi kuat dari asosiasi bisnis.
  • Memberikan referensi untuk semua fasilitas pendanaan jalan.

Konektifitas adalah benang merahnya. Dan apakah hal ini akan menjadikan Filipina merengguk kembali era emasnya di tahun 50-60an? Tak ada yang tahu, tapi sepertinya negeri tetangga kita itu mulai berani memimpikannya. Jika tak segera berlari cepat, Filipina berpotensi melewati Indonesia.

(dari berbagai sumber)

Gambar utama : IBTIMES UK

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

Terima kasih telah membaca sampai di sini