Membanguni Harmonisasi Manusia dan Gajah di Aceh

Membanguni Harmonisasi Manusia dan Gajah di Aceh
info gambar utama

Sering kita dengar beragam satwa liar memasuki pemukiman warga yang umumnya terletak di dekat hutan-hutan atau ladang. Bahkan tak jarang kita mendengar berita mengenai hancurnya rumah atau rusaknya lahan-lahan warga akibat serangan satwa-satwa tersebut.

Rasanya tidak perlu mempertanyakan bagaimana bisa satwa-satwa tersebut masuk dan merusak aset warga sekitarnya, karena memang jarak pemukiman warga dengan lokasi kawanan satwa-satwa tersebut berdekatan. Satwa-satwa tersebut, tak terkecuali gajah, satwa herbivora lucu berbadan sangat besar.

Di Aceh, Juni 2018 lalu dikabarkan 21 gajah masuk ke desa dan menghancurkan rumah seorang warga, yang untungnya pemilik sedang tidak dirumah karena sedang berlibur lebaran. Dilaporkan selama beberapa tahun terakhir, gajah sering berkeliaran di dekat pemukiman warga, bahkan pernah ada warga yang sampai meninggal dunia.

Biasanya ketika penghujung tahun saat angin dan musim hujan mulai datang, gajah secara berkelompok akan menyebar amsuk ke desa-desa. Menurut lembaga konservasi WWF-Indonesia, wilayah Aceh Tenggara, Bener Meriah dan Bireuen adalah wilayah dengan tingkat konflik antara gajah dan manusianya cukup tinggi.

Tercatat ada lima orang tewas terserang gajah dan tiga ekor gajah mati diracun warga, diburu atau terperosok parit penghalang gajah yang dibuat di sekitar pemukiman.

Jalur pergerakan gajah ada di bawah lembah sungai Peusangan, salah satu kawasan gajah-gajah di Aceh. Sedangkan kawasan pemukiman dan kebun warga ada di atas bukitnya. Di bulan Agustus hingga Desember, gajah biasanya akan masuk ke pemukiman tersebut untuk memakan hasil-hasil panen warga.

Sejak 2015, WWF-Indonesia mulai melakukan pendampingan kepada desa-desa yang berkonflik dengan gajah liar. Warga-warga desa sama sekali belum pernah mendapat pelatihan dan pengetahuan mengenai cara menggiring gajah kembali ke kelompoknya. Mereka biasanya menggiring dengan usaha yang menyakiti satwa itu sendiri seperti menggunakan senjata api dan sejenisnya.

WWF-Indonesia dengan tim Flying Squad Riau, datang untuk meyakinkan masyarakat agar meninggalkan cara-cara ekstrem tersebut ketika menghadapi gajah, karena ketika diserang maka insting gajah juga akan memberikan perlawanan secara agresif.

Warga dari tiga kelompok masyarakat di desa-desa tersebut diberikan pelatihan selama empat tahun. WWF Indonesia menyebarkan praktik-praktik mitigasi konflik yang teralh diuji selama 20 tahun oleh tim Flying Squad, seperti teknik menggiring, jarak aman, membaca perilaku gajah serta menghindari perilaku tidak aman ketiga melakukan mitigasi sehingga menimbulkan jatuh korban di pihak manusia mau pun gajah.

WWF melatih dan juga membuat alat-alat untuk keperluan mitigasi konflik berupa meriam karbit dan boli asap yang berbiaya murah dari rakitan tabung dan pipa paralon, sebagai ganti alat mercon yang mahal. Hal ini bertujuan membangun komunikasi dengan gajah agar mereka mengerti untuk menjauhi suara meriam.

Ketua Tim Pengaman Flora Fauna (TPFF) Karang Ampar, Bergang Muslim, dilansir WWF-Indonesia mengatakan bahwa masyarakat kini menjadi lebih kompak dan taktis dalam menggiring gajah dan melakukan tindak mitigasi.

WWF-Indonesia juga melakukan pelatihan di Krueng Sabee Kabupaten Aceh Jaya serta di Kecamatan Cot Girek dan Langkahan, Aceh Utara. Pelatihan-pelatihan ini dapat menjadi langkah konservasi pula dan dapat mengharmoniskan kehidupan beragam antara warga dan gajah.


Sumber: WWF-Indonesia

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini