Makanan khas Indonesia terlebih lagi makanan tradisional memang tidak akan ada habisnya, terutama makanan khas Surabaya yang banyak sekali ragamnya. Makanan tradisional dari Surabaya sesuai dengan lidah dan cita rasa Jawa Timuran biasanya. Makanan khas daerah sudah menjadi salah satu penunjang perekonomian sebagai penarik pariwisata khas kota asalnya seperti halnya Surabaya.

Salah satu makanan Indonesia khas Surabaya adalah Semanggi. Semanggi yaitu makanan asli Surabaya selain lontong balap, tahu tek, rawon dan rujak cingur. Dikenal orang dari berbagai kalangan sejak dahulu, namun amat disayangkan beberapa remaja masa kini jarang mengenalnya karena jarangnya para penjual Semanggi yang bertebaran di kota Surabaya.

Berbahan dasar daun Semanggi yang sudah direbus dengan tambahan kecambah rebus lalu disiram dengan bumbu kacang khas pecel menjadi makanan ini mudah digemari masyrakat. Semanggi akan lebih nikmat apabila disantap langsung dari penjual tradisional yang masih menggunakan peralatan tradisional dalam berjualan seperti bakul yang berisi bahan-bahan pecel dan jarik untuk menggendong bakul.

Berbeda dengan pecel kebanyakan, Semanggi di sajikan sederhana tanpa nasi dan beralaskan bukan piring melainkan pincuk daun pisang dengan tambahan krupuk tentunya. Campuran daun Semanggi dan bumbu kacang memang tidak diragukan lagi, namun amat disayangkan makanan Semanggi khas Surabaya ini tidak banyak orang berjualan Semanggi sehingga dapat dikatakan hampir punah.

Meskipun penjual Semanggi sudah mulai jarang, tetapi Semanggi masih banyak peminatnya. Hal ini dikarenakan selain untuk mengganjal perut, daun Semanggi juga dapat dimanfaatkan untuk kesehatan seperti menurunkan hipertensi serta dapat mengencangkan kulit sehingga tetap awet muda.

Sugiati (53), penjual Semanggi di Taman Bungkul Surabaya mengakui bahwa sulitnya berjualan Semanggi saat ini adalah keterbatasan bahan baku daun Semanggi meskipun para peminatnya masih banyak di luaran. Selain bahan baku yang sulit ditemukan, Semanggi khas Surabaya tergerus zaman modern sehingga berdampak pada kelangkaan makanan ini.

Penyebab sedikitnya penjual Semanggi di Surabaya timbul karena bahan baku daun Semanggi itu sendiri. Daun Semanggi di Surabaya sulit untuk ditemukan keberadaanya karena tidak ada lahan untuk tumbuhnya daun Semanggi atau lahan untuk menanam daun Semanggi yang lebih dipergunakan untuk pembangunan.

Indentiknya panganan Semanggi dengan kota Surabaya tidak bisa dilepaskan. Penjual Semanggi biasanya hadir di taman-taman sekitar kota Surabaya, sebelum dahulunya mereka berjualan dengan berkeliling sambil mengendong Semanggi di belakang.

”Saya disini (Taman Bungkul) sudah 14 tahun berjualan Semanggi, sebelumnya 2 tahun berjualan sambil ngider tapi hasilnya tidak seberapa. Hasilnya lumayan setelah menetap di sini, karena itu saya teruskan ke 4 anak saya yang biasanya berjualan Semanggi di sabtu-minggu.” Ujar Sugiati.

Semanggi tetap bertahan dari kelangkaan di tengah zaman modern. Hal tersebut dilakukan oleh para penjual Semanggi dengan tetap berjualan dan melestarikannya. Persaingan dengan makanan modern lainnya di rasakan Sugiati tidak terlalu ketara karena masing-masing makanan dapat menarik pembelinya sendiri. Sugiati juga bercerita bahwa Semanggi masih tetap digemari masyarakat walaupun makanan dari luar negeri merajarela.

Walaupun tidak semua tempat dapat dijumpai makanan khas Surabaya ini, namun Semanggi masih setia menjadi makanan tradisional utama rujukan masyarakat Surabaya.
Sumber:

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu