Mimpi Besar BUMN untuk Bersaing dengan GoPay dan OVO

Mimpi Besar BUMN untuk Bersaing dengan GoPay dan OVO
info gambar utama

Layanan keuangan elektronik kerjasama antar BUMN, LinkAja, akan resmi dirilis pada 13 April 2019. Walaupun masih H-Sebulan, namun fitur dan keunggulan dari LinkAja sudah digembor-gemborkan. Seperti pembayaran tagihan listrik, pembelian tiket kereta, pembelian obat di apotek, sampai dengan transaksi di jalan tol.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Republik Indonesia, Rini Soemarno mengatakan sejumlah BUMN yang berkolaborasi untuk LinkAja ini akan menandingi layanan serupa yakni Go-Pay dan OVO dari swasta.

Perusahaan BUMN tersebut antara lain 4 bank BUMN (Mandiri, BRI, BNI, dan BTN), PT Jiwasraya, PT Telkom dan PT Pertamina. Dengan pembagian saham : Telkomsel 25%, tiga bank lainnya (Bank Mandiri, BNI dan BRI) memegang saham masing-masing 20 persen. Sementara BTN dan Pertamina memegang masing-masing tujuh persen dan Jiwasraya akan memegang satu persen saham di LinkAja.

Bagaimana dengan GoPay dan OVO saat ini?

Sebelum LinkAja diluncurkan, GoPay dan OVO sudah lebih dulu menguasai pasar Indonesia. Dikutip dari Katadata.com, Go-Pay dinilai sebagai uang elektronik yang paling banyak digunakan. Menurut data yang dirilis Go-Jek per tanggal 1 Februari 2019, sepanjang tahun 2018, gross transaction Value (GTV) atau transaksi pengguna di Go-Jek di seluruh pasar di mana Go-Jek beroperasi menyentuh angka US$9 miliar (Rp 125 triliun). Sedangkan penggunaan Go-Pay di Indonesia mencapai US$6,3 miliar (Rp 87 triliun) atau setara dengan 69,6% dari transaksi keseluruhan Go-Jek.

Sementara itu, total transaksi pengguna OVO pada tahun 2018 masih belum jelas jumlahnya. Namun Harianto Gunawan, Direktur OVO mengklaim tahun lalu jumlah penggunanya naik 400%.

"Sementara transaksi OVO tumbuh 75 kali lipat tahun lalu, atau sekitar satu miliar transaksi," kata Harianto dikutip dari CNBC Indonesia.

Akhir tahun lalu, OVO bekerja sama dengan Tokopedia.Karena Tokocash milik Tokopedia belum keluar izin uang elektroniknya, maka OVO menggantikan dompet digital tersebut.

Selain Tokopedia, OVO juga menjadi alat pembayaran layanan Ojek Online, Grab, di Indonesia.

Langkah yang dilakukan oleh LinkAja

Demi terwujudnya mimpi besar ini, langkah-langkah tepat harus segera dilakukan oleh LinkAja. Dikutip dari CNBC Indonesia, Rohas Hafas, selaku Corporate Secretary Bank Mandiri mengatakan, untuk memperkenalkan LinkAja kepada masyarakat akan menggunakan strategi promo-promo.

"Nanti promo akan ke masing-masing produk dari BUMNnya, bukan bersifat seragam tapi ada promo baku yang sudah ditetapkan. Produknya kan beda-beda,"

LinkAja juga mengandalkan para nasabah dari Bank yang sudah eksisting, seperti Tbank dari BRI, Yap! dari BNI dan ecash dari Bank Mandiri. Termasuk pengguna T-cash yang berubah menjadi LinkAja.

Untuk mendominasi pasar, memang butuh langkah-langkah yang tepat. Selain promo dan pengguna eksisting, LinkAja juga harus memutar otak bagaimana cara meraih dan merebut pasar GoPay dan Ovo. Semoga hal ini dapat terwujud.

--

Sumber : CNBC Indonesia, Detik, InvestorDaily, WartaEkonomi.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini