Bebas: Kebersamaan dalam Perpisahan

Bebas: Kebersamaan dalam Perpisahan

Para karakter di film Bebas © Twitter/MilesFilms

*Hati-hati, tulisan ini mengandung spoiler

Vina Panduwinata namanya. Dia siswi baru di sebuah SMA di Jakarta, yang mengalami proses adaptasi cukup sulit. Selain karena namanya yang mirip sang diva ternama Indonesia, Vina juga kerap mendapat ejekan dari teman-temannya karena berasal dari Sumedang, Jawa Barat.

Mulai dari bahasanya, logatnya, sepatunya, kepolosannya, seakan membuat apapun yang dilakukan atau diucapkan Vina adalah sesuatu yang layak ditertawakan. Siapa yang menertawakan? Ya gerombolan geng kelas, yang di tahun 1990-an sangat identik dengan masa remaja sekolah.

Film Bebas garapan Mira Lesmana dan Riri Riza mengambil setting di tahun 1995. Di masa jelang akhir Order Baru itu, tergambar jelas bagaimana situasi poilitik yang runyam turut berpengaruh pada tingginya tensi di lingkup sekolah, bahkan hingga keluarga.

Vina kecil yang diperankan oleh Maizura, menjadi pintu gerbang dimulainya alur cerita film Bebas. Dari sosok lugu itulah kebersamaan geng yang beranggotakan Kris (Sheryl Sheinafia), Jessica (Agatha Pricilla), Gina (Zulfa Maharani), Suci (Lutesha), dan Jojo (Baskara Mahendra), kian erat sejak bergabungnya Vina ke geng mereka.

Kris sendiri digambarkan sebagai sosok seorang pimpinan geng yang tegas dan tidak kenal takut. Dia yang mengajak rekan satu gengnya untuk berkonfrontasi dengan Baby Girl, geng sekolah lain, dan tanpa gentar menjadi yang terdepan menghadapi sang lawan.

Tapi, geng yang dinamai Bebas berkat rekues lagu di sebuah acara radio ini tidak hanya didominasi Vina dan Kris saja. Walau kehadiran keduanya sangat sentral, tapi tokoh-tokoh lain juga punya peran kunci masing-masing, dan membawa isu sosial yang sangat khas Indonesia.

Jojo sebagai lelaki berkepribadian wanita yang di masyarakat sering tidak dianggap jantan, Gina yang dibesarkan oleh ibunya sebagai single parent, dan Suci seorang maskot sekolah berkat paras jelita yang membuatnya jadi gadis sampul sebuah majalah.

BACA JUGA: Pretty Boys, Joker, dan Kesunyian Kelompok Minoritas

Geng Bebas di waktu SMA | Foto: YouTube Miles Films

Kebersamaan dalam perpisahan

Film Bebas membingkai persahabatan ala remaja 1990-an berbalut isu-isu sosial yang intens terjadi di masyarakat Indonesia saat itu. Kekesalan yang memuncak pada rezim kepemimpinan Soeharto, koran-koran yang mulai berani mengkritik dan akhirnya dibredel, aparat yang menyusup ke sendi-sendi kehidupan rakyat untuk membungkam siapa pun yang berani mengolok-olok pemerintah, beriringan dengan maraknya tawuran pelajar dan perpecahan di keluarga akibat pandangan politik yang berbeda.

Fenomena yang disebut terakhir memang mirip dengan kondisi sekarang. Bedanya konflik terjadi dengan adu mulut secara langsung, bukan adu jempol di layar gawai.

Di masa-masa itulah anggota geng Bebas tumbuh. Dari latar belakang sosial yang berbeda-beda, mereka bersatu dengan alasan yang sangat sederhana: nyaman dalam berteman. Seketika perbedaan logat Sumedang dan Jakarta runtuh, stigma negatif ke pria melambai diabaikan, dengan menjunjung tinggi azas kenyamanan.

Di tengah masa-masa ceria itu, Mira Lesmana langsung memberi konflik bagai petir di siang bolong. Sebuah perkelahian di kantin sekolah berujung pada terlukanya wajah Suci, seorang gadis pujaan seantero sekolah yang harum namanya berkat menjadi gadis sampul sebuah majalah ternama.

Kepala Sekolah akhirnya membuat keputusan. Geng Bebas dikeluarkan dari sekolah, yang menjadi awal mula perpisahan mereka.

Namun, perpisahan itu tidak terjadi selamanya. 23 tahun berselang mereka dipertemukan kembali, yang ironisnya, ketika seorang anggota geng hendak berpulang ke pangkuanNya. Kris dewasa (Susan Bachtiar) yang sakit berat divonis hanya bisa bertahan hidup paling lama dua bulan lagi.

BACA JUGA: Review Gundala: Hujan, 10% Kenangan, 90% Kekuatan

Kris yang semasa remaja menjabat ketua geng ternyata saat dewasa hidupnya penuh cobaan. Dia cerai dengan suaminya, tidak punya anak, dan usianya di ujung tanduk. Walau bertabur kekayaan, tapi ketika nikmat kesehatan dicabut dari diri manusia, apa yang bisa dilakukan? Tidak ada selain terus berdoa dan berharap sembuh.

Di tengah keprihatinan itu Kris mengungkapkan permintaan terakhirnya. Ingin bisa bertemu lagi dengan geng Bebas. Permintaan yang langsung diupayakan terkabul oleh Vina dan Jessica, yang sedang menjenguknya saat itu.

Pencarian para anggota geng Bebas pun dilakukan. Bukan hal yang mudah mencari mereka yang keberadaannya entah di mana. Keterbatasan teknologi di era 1990-an menjadi kendala terbesar.

Saya saja yang lulus SD tahun 2003 butuh 15 tahun buat reuni mini dengan teman SD, bayangkan mereka yang menimba ilmu di bangku SMA tahun 1995 dan sekarang sudah berkeluarga dan umurnya sudah kepala tiga mungkin lebih. Pastinya lebih sulit untuk melakukan reuni karena keterbatasan waktu dan tenaga.

Tapi berkat kerja keras Vina dan Jessica plus terbantu dengan Dedi, seorang debt collector yang semasa SMA sering menyanyikan lagu ke Vina, kontak para anggota geng Bebas satu per satu didapatkan. Tapi nahasnya, reuni tidak bisa dilakukan secara full-team.

Di saat Kris berjuang mempertahankan nyawanya, Suci adalah satu-satunya anggota geng yang masih dalam pencarian. Dan ketika Kris sudah berpulang ke Yang Maha Kuasa, Suci baru muncul lagi setelah melihat iklan layu-layu di koran yang berisi ajakan geng Bebas untuk berkumpul lagi.

BACA JUGA: Bumi Manusia : Annelies, Jan Dapperste dan Pandangan Tentang Pribumi

Poster film Bebas | Foto: YouTube Miles Films

Balutan musik nostalgia dan kekhasan anak 90an

Musik-musik yang mengiringi film Bebas semakin memperkuat aroma nostalgia yang membawa penonton mengingat lagi masa-masa di tahun 1990-an. Lagu Bebas yang diaransemen ulang dan dinyayikan Iwa K bersama Sheryl Sheinafia, Maizura, dan Agatha Pricilla menjadi pengiring utama film yang diadaptasi dari film Korea berjudul Sunny ini.

Selain itu ada juga lagu Cerita Cinta (Kahitna), Bidadari (Andre Hehanussa), Aku Makin Cinta (Vina Panduwinata), Sendiri (Chrisye), dan Cukup Siti Nurbaya (Dewa), adalah lagu-lagu yang populer pada zamannya, di tahun 1990-an. Hanya lagu Sendiri yang rilis paling awal, di tahun 1984.

Kekhasan anak 90an juga menjadi bahan nostalgia sendiri di film ini. Walkman, stiker majalah BoBo, gelang dari lilitan kain, kue kepang, telpon yang digembok di malam hari, sampai bahasa slang yang menyisipkan huruf 'G' di setiap kata seperti 'apa kabar' jadi 'apaga kagabagar', tak ubahnya lautan nostalgia bagi para penonton yang tumbuh besar di tahun 1990-an.

Oh nostalgia, memang selalu menjadi kenangan bahagia. Di tengah rutinitas harian yang terus mendera, ketika umur mendekati kepala tiga, empat, dan seterusnya.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang100%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Sebuah Inovasi Agar Layanan Ojek Online Lebih Cepat dan Rapi Sebelummnya

Sebuah Inovasi Agar Layanan Ojek Online Lebih Cepat dan Rapi

Mulai Desember, 4 Stasiun di Jawa Timur Ini Berganti Nama. Sudah Tahu? Selanjutnya

Mulai Desember, 4 Stasiun di Jawa Timur Ini Berganti Nama. Sudah Tahu?

Aditya Jaya Iswara
@adityajoyo

Aditya Jaya Iswara

Tidak bisa masak tapi suka makan. Tidak bisa main bola tapi suka nonton bola.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.