Tradisi Mandi Suci Sebelum Ramadan: Marpangir, Padusan, Balimau

Tradisi Mandi Suci Sebelum Ramadan: Marpangir, Padusan, Balimau
info gambar utama

Bulan Ramadan selalu disambut bahagia oleh seluruh umat muslim. Tidak hanya di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Selain karena ada “obral” berkah, hal yang selalu menjadi istimewa adalah meriahnya masyarakat Indonesia dalam menyambut bulan suci ini.

Apalagi Indonesia punya ribuan adat dan tradisi yang selalu menjadi warna tersendiri bagi kebudayaan kita. Salah satunya adalah tradisi mandi "suci” yang dilakukan di beberapa daerah dalam menyambut bulan Ramadan.

Riset GNFI menemukan ada 3 tradisi mandi yang unik dari seluruh Indonesia, yaitu:

  1. Marpangir – Medan, Sumatera Utara

Marpangir adalah kegiatan mandi dengan cara tradisional dengan tidak menggunakan wewangian dari sabun mandi atau sabun cair. Melainkan dari paket dedaunan dan rempah yang disebut Pangir.

Paket Pangir terdiri dari daun pandan, daun serai, bunga mawar, kenanga, jeruk purut, daun limau, akar wangi, dan bunga pinang. Jika sedang mudah ditemukan, terkadang ada juga yang menambahkannya dengan akar kautsar dan embelu.

Bahkan ada yang menyebutkan yang terpenting ada tujuh macam dedaunan dan rempah di dalamnya. Bahan bakunya pun banyak yang menjual dengan harga yang sangat terjangkau. Pasar-pasar tradisional banyak menjual ini dan hanya ada saat menjelang bulan Ramadan.

Cara membuat pangir yaitu dengan merebus pangir. Setelah itu, air rebusannya digunakan untuk mandi.

Tradisi Marpangir
info gambar

Biasanya marpangir dilakukan sehari sebelum hari Ramadan dan dilakukan beramai-ramai di tempat pemandian. Meski disebutkan sebagai tradisi di Sumatera Utara, namun yang masih melakukan tradisi ini sampai sekarang adalah Kota Medan.

Untuk melakukan tradisi ini, biasanya sekolah diliburkan sehari sebelum puasa. Sehingga masyarakat berbondong-bondong pergi ke pemandian untuk marpangir bersama.

Meski sebenarnya tradisi ini juga bisa dilakukan sendiri di rumah.

Sejarah Marpangir

Tradisi mandi diketahui adalah leburan tradisi umat Hindu sebelum Islam masuk ke Indonesia. Terutama masyarakat Hindu Kuno di Sumatera Utara.

Setelah Islam masuk, awalnya marpangir hanya dilakukan oleh masyarakat batak muslim Suku Mandailing Natal di rumah masing-masing atau beramai-ramai ke tempat pemandian dengan aliran sungai. Hingga akhirnya masyarakat Kota Medan yang rutin melakukan tradisi ini.

Tradisi marpangir dipercaya untuk menghapus dosa. Meski begitu seiring berjalannya ajaran Islam, marpangir dilakukan lebih kepada antusiasme masyarakat menyambut bulan suci Ramadan.

Dengan membuat badan jadi lebih wangi dan bersih, dipercaya akan memperlancar pelaksanaan ibadah puasa terutama saat melaksanakan shalat tarawih. Karena wewangian memberi rasa nyaman dan sejuk.

  1. Padusan – Jawa Timur dan Jawa Tengah

Tradisi padusan juga dilakukan beramai-ramai dengan mendatangi tempat pemandian, umbul, dan pantai. Hanya saja, tidak ada dedaunan atau rempah khusus yang digunakan dalam tradisi Padusan.

Istilah Padusan diambil dari kata adus yang berarti mandi.

Selain itu tradisi padusan juga harus tetap memperhatikan tata krama dan perilaku. Seperti laki-laki dan perempuan harus tetap menutup auratnya masing-masing. Yang terpenting jangan melanggar syariat.

Beberapa tempat pemandian yang sampai sekarang masih dijadikan sebagai tempat Padusan antara lain Umbul Ponggok (Klaten), Sendang Kasihan (Bantul), Pantai Baron (Yogyakarta), sampai tempat modern seperti Jogja Bay.

Sejarah Padusan

Sama halnya dengan tradisi mandi lainnya, tradisi padusan dilakukan untuk menyucikan diri secara lahir dan batin untuk menyambut kedatangan bulan Ramadan. Konon, tradisi padusan sudah ada sejak zaman Wali Songo.

Di Yogyakarta sendiri, tradisi padusan dipercaya sudah dilakukan sejak zaman Hamengkubuwono I. Saat itu tempat padusan dilakukan di kolam-kolam masjid atau sumber mata air yang sudah ditentukan Kraton.

Tradisi Padusan di Yogyakarta
info gambar

Namun, sejak tahun 1950, terjadi pergeseran tradisi padusan. Masyarakat tidak lagi mendatangi kolam-kolam di masjid maupun sumber mata air pilihan Kraton. Bahkan ada pula yang melakukannya di rumah masing-masing, di tengah mulai tercemarnya beberapa sumber air karena ulah manusia.

Berbeda halnya dengan yang dilakukan oleh masyarakat Boyolali. Konon, air terjun merupakan sumber air yang dianggap kramat. Sehingga mereka berbondong-bondong mendatangi air terjun terdekat di sana untuk melaksanakan tradisi padisan.

  1. Balimau – Minangkabau, Sumatera Barat

Kata balimau diambil dari “ba” dan “limau”. Secara bahasa, limau berarti jeruk nipis dan “ba” dalam bahasa Minang berasal dari imbuhan kata “ber” yang artinya memakai atau menggunakan atau melakukan.

Jadi, balimau adalah mandi dengan menggunakan limau. Awalnya, tradisi balimau dilakukan oleh masyarakat Minangkabau. Namun, seiring berjalannya waktu, masyarakat Padang juga melakukan tradisi balimau.

Berbeda halnya dengan yang dilakukan di Padang, mereka tidak hanya menggunakan jeruk nipis, tapi juga ditambahkan dengan daun pandan, bunga kenanga, dan akar tanaman gembelu.

Tradisi balimau juga dilakukan oleh masyarakat Riau untuk menyambut bulan Ramadan. Khususnya masyarakat Kabupaten Kampar dan Kabupaten Kuantan Singingi yang memiliki kemiripan tradisi dengan masyarakat Minangkabau.

Tradisi Balimau di Riau
info gambar

Sejarah Balimau

Mengapa tradisi balimau memilih menggunakan jeruk limau atau jeruk nipis?

Konon hal tersebut dilakukan karena keterbatasan zaman dulu untuk mencari bahan alami yang dapat dijadikan untuk membersihkan diri. Tradisi balimau memang dipercaya sudah dilakukan sejak berabad-abad silam dan diwariskan hingga saat ini.

Bahkan sebelum ajaran Islam masuk, tradisi balimau sudah dilakukan. Penggunaan jeruk nipis juga karena khasiatnya yang dapat melunturkan minyak dan kotoran pada tubuh.

Di Riau, ada juga dikenal dengan tradisi “Balimau Kasai”. Bedanya, balimau kasai tidak dilakukan untuk menyambut bulan Ramadan. melainkan dilakukan untuk upacara pengangkatan kepala suku, adat perkawinan, menyambut kelahiran anak, serta upacara kematian.

Hal tersebut tertulis juga pada buku Makna Simbol dalam Upacara Perkawinan Masyarakat Adat Limakoto Kabupaten Kampar Riau karya Elfiandri.

Namun seiring berjalannya waktu, makna tradisi balimau mulai bergeser. Balimau kini lebih dimaknai dengan bertamasya ke tempat-tempat pemandian.

Itulah beberapa tradisi mandi “suci” di beberapa daerah yang masih dijadikan momen antusiasme masyarakat hingga saat ini. Sayangnya, tradisi itu mungkin belum bisa dilakukan Ramadan tahun ini karena pandemi Covid-19.

Dan perlu diingat, tradisi-tradisi itu bukan bagian dalam syariat Islam, ya. Yang terpenting adalah tradisi itu jadikan sebagai wujud rasa syukur kita karena diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan penuh rahmat ini.

Selamat menunaikan ibadah puasa, Kawan GNFI!

--

Sumber: Good News From Indonesia | Natamagazine.co | Mudanews.com | Tribun Medan | Merdeka.com | Okezone.com | Covesia.com

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dini Nurhadi Yasyi lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dini Nurhadi Yasyi.

Terima kasih telah membaca sampai di sini