Rekam Kekejaman Westerling, Belanda-Indonesia Produksi Film De Oost

Rekam Kekejaman Westerling, Belanda-Indonesia Produksi Film De Oost

Raymond Westerling dalam film De Oost I ©Ideosource

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Nama Raymond Westerling tak asing di telinga masyarakat Indonesia hingga kini, apalagi di ingatan masyarakat Sulawesi Selatan. Dari berbagai buku dan artikel sejarah, kita dapat membayangkan aksi brutalnya yang begitu menggoyahkan moral rakyat sipil di desa maupun kota, gerilyawan, bahkan sesama serdadu Hindia Belanda kala itu.

Namun sepahit apapun, sejarah tetap sejarah, dan kita perlu menerimanya sebagai sebuah kenyataan yang membentuk perjalanan bangsa. Kabar baiknya, tidak lama lagi penggalan sejarah tersebut akan kita nikmati sekaligus pelajari melalui sebuah film.

Belum banyak informasi tentang film yang diberi judul De Oost atau The East ini. Namun sebuah cuplikan berdurasi kurang dari 50 detik cukup membuat penasaran seperti apa kisah yang akan disajikan dalam karya sinematik itu.

Dibuka dengan narasi doa oleh karakter bernama Johan yang diperankan aktor Belanda, Martin Lakemeier. Johan adalah tentara Hindia Belanda yang berada di bawah komando Raymond Westerling, yang datang ke Indonesia pada 1946.

Dikisahkan, pada awalnya Johan sangat mengagumi gaya kepemimpinan karismatik Kapten muda Westerling yang baru berusia 27 tahun saat itu.

Namun seiring perang yang memanas, Johan menyadari dirinya semakin tidak bisa membedakan batas antara yang baik dan buruk lagi. Semua begitu brutal.

Adegan film De Oost
Adegan Johan, salah satu anggota pasukan Westerling (Foto: Ideosource)

Ini karena De Turk atau si Turco (julukan bagi Westerling karena lahir di Istanbul, Turki) selalu membungkam rakyat Indonesia yang dianggapnya memberontak dengan sadis dan tanpa ampun.

Dalam film yang menurut situs IMDb sedang dalam proses paska produksi ini, Westerling diperankan oleh Marwan Kenzani, pemeran Jafar dalam film Aladdin (2019). Beberapa aktor tanah air seperti Lukman Sardi dan Putri Ayudya juga masuk dalam daftar pelakon.

Film thriller yang mulai dikerjakan sejak awal 2019 ini merupakan produksi bersama perusahaan Indonesia (Kaninga Pictures, Base Entertainment, Ideosource Entertainment) dan Belanda (New Amsterdam Film Company)

Dibesut oleh sutradara Jim Taihuttu yang sebelumnya dikenal lewat film Wolf (2013), rencananya De Oost akan tayang pada 10 September mendatang di Belanda.

Belum ada informasi kapan film ini akan ditayangkan di Indonesia, semoga tak lama setelah itu.

Belanda, Westerling, dan Pahit Manis Hubungan Bilateral Kita

Sudah menjadi mahfum dunia. Kemerdekaan Republik Indonesia adalah 17 Agustus 1945. Tepat ketika Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan degan heroik oleh Soekarno - Hatta dan para pemuda republik di Jakarta.

Namun tidak bagi Belanda, bekas penjajah Indonesia tersebut bersikukuh selama puluhan tahun bahwa Indonesia secara sah baru merdeka pada 27 Desember 1949, atau terhitung sejak penyerahan kedaulatan ditandatangani di Istana Dam, Amsterdam.

Bung Hatta di Amsterdam
Wakil Presiden Mohammad Hatta saat penandatanganan penyerahan kedaulatan Indonesia di Istana Dam, Amsterdam, 1949.

Barulah pada 16 Agustus 2005 pemerinah Belanda akhirnya mengakui kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945.

Ditandai dengan pidato resmi Menlu Belanda saat itu, Bernard Rudolf Bot, di Gedung Kementerian Luar Negeri RI. Pada kesempatan itu, Pemerintah Indonesia diwakili oleh Menlu Hasan Wirajuda.

Keesokan harinya, Menlu Bot menghadiri upacara kenegaraan Peringatan HUT ke-60 Kemerdekaan RI di Istana Negara. Kehadiran resmi ini menjadi yang pertama bagi pemerintah Belanda pada peringatan kemerdekaan Indonesia setiap tanggal 17 Agustus.

Mengapa Belanda begitu enggan hinga membutuhkan 60 tahun untuk mengakui selisih waktu yang “hanya” 4 tahun dari kemerdekaan Indonesia yang sebenarnya?

Mudah untuk mengatakannya sekarang. Saat hubungan antara negara telah pulih dan setara sebagai sesama warga dunia. Tapi pada masa lalu, pertanyaan ini sulit dijawab dan sangat sensitif.

Apalagi sangat banyak korban jatuh baik dari pihak Belanda, apalagi dari pihak rakyat Indonesia yang ditindas selama ratusan tahun.

Setelah Proklamasipun, saling hantam dan bunuh belum tampak akan berarkhir pada saat Negeri Kincir Angin tersebut berusaha merebut kembali republik yang baru merdeka paska Perang Dunia II.

Setidaknya dua kali Belanda habis-habisan membombardir Indonesia dalam upayanya itu, yaitu Agresi Militer I (21 Juli - 5 Agustus 1947) dan Agresi Militer II (19 Desember 1948 - 5 Januari 1949). Keduanya dilakukan di bawah kecaman dunia internasional karena berkali-kali Belanda melanggar kesepakatan yang dihasilkan di meja diplomasi.

Selain dua agresi yang ditujukan ke Jawa dan Sumatera sebagai jantung kekuatan republik. Sayap militer Belanda juga melakukan tekanan di daerah lain. Salah satu yang membuat bulu kuduk merinding adalah aksi 123 Depot Special Troops (DST), unit komando untuk misi khusus, yang dikirim ke Sulawesi Selatan dalam kurun waktu 1946 - 1947 untuk memadamkan perlawanan para gerilyawan Pro Republik.

Komandannya adalah Letnan Satu Raymond Paul Pierre Wersterling, yang kemudian diangkat menjadi Kapten. Tak perlu waktu lama, darah membanjiri kampung-kampung. Ribuan nyawa rakyat melayang. Banyak yang percaya korbannya mencapai 40 ribu, tersebar di seantero Sulawesi Selatan.

Ketika memasuki sebuah kampung untuk mencari gerilyawan, Westerling dan pasukannya menggiring penduduk ke tanah lapang, menginterogasi, meneror, lalu menembak dari jarak dekat atau menyiksa hingga tewas.

Aksi itu ia sebut sebagai Mahkamah Militer Rakyat. Memang tidak semua orang dibunuh, tapi kekejian yang sangat demonstratif ditunjukkan oleh pasukan Westerling efektif menggentarkan siapapun yang melihat maupun mendengar aksinya.

Kini, masing-masing negara sudah membuka lembaran baru sebagai sesama negara merdeka yang bekerja sama untuk kemajuan.

Raja Belanda Willem-Alexander dan Ratu Maxima menyampaikan konferensi pers di Istana Bogor (Twitter: @koninklijkhuis)
Raja Belanda Willem-Alexander dan Ratu Maxima menyampaikan konferensi pers di Istana Bogor. (Foto: @koninklijkhuis)

Maret 2020 lalu Raja Belanda Willem-Alexander berkunjung ke Indonesia. Di Istana Bogor, didampingi Ratu Maxima, Raja Belanda itu mengungkapkan permohonan maaf dan penyesalan atas nama pemerintah Belanda.

"Di tahun-tahun setelah diumumkannya Proklamasi, terjadi sebuah perpisahan yang menyakitkan dan mengakibatkan banyak korban jiwa. Selaras dengan pernyataan pemerintahan saya sebelumnya, saya ingin menyampaikan penyesalan saya dan permohonan maaf untuk kekerasan yang berlebihan dari pihak Belanda di tahun-tahun tersebut," kata Willem-Alexander dalam konferensi pers yang disaksikan oleh Presiden Joko Widodo.

Kembali ke De Oost. "Kemarin kami baru merilis teaser film baru kami. Sebuah cerita tentang bagian yang kurang terang dari sejarah Belanda kita yang perlu dibagikan kepada dunia," begitu keterangan New Amsterdam Films Company melalui akun Instagramnya beberapa hari lalu.

Tak sabar kembali menonton film perjuangan Bangsa Indonesia? Anda bisa mengikuti perkembangan rilis De Oost di sini.[]

Baca juga:

Sejarah Kina dan Opsi Pengobatan Virus Korona

Krisis di Eropa, 1500 Benda Budaya di Belanda Kembali ke Indonesia

Rekam Jejak Perang Dunia II di 7 Wilayah Indonesia

Sejarah Hari Ini - Kualifikasi Piala Dunia 1958, Indonesia Kalahkan Cina 2-0

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga33%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang33%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi33%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Yufi Eko Firmansyah

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Sejarah Hari Ini (12 Mei 1957) - Kualifikasi Piala Dunia 1958, Indonesia Kalahkan Cina 2-0 Sebelummnya

Sejarah Hari Ini (12 Mei 1957) - Kualifikasi Piala Dunia 1958, Indonesia Kalahkan Cina 2-0

Guru Besar UGM Sebut Pandemi Covid-19 Jadi Momentum Berhenti Merokok Selanjutnya

Guru Besar UGM Sebut Pandemi Covid-19 Jadi Momentum Berhenti Merokok

Wahyu Aji
@wahyu_aji

Wahyu Aji

http://www.wahyuaji.com

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.