Sejarah Hari Ini (20 Mei 2012) - Ribuan Penari Bangkitkan Tari Umbul Situraja

Sejarah Hari Ini (20 Mei 2012) - Ribuan Penari Bangkitkan Tari Umbul Situraja

Sejumlah siswa Sekolah Dasar mengikuti event tari umbul Situraja di Kabupaten Sumedang pada 2012. © Kabar-priangan.com

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Upaya membangkitkan tari umbul khas masyarakat Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat pada 2012.

Tari umbul adalah salah satu tari tradisional yang sudah mulai ada di Parugpug sejak 1940-an.

Menurut budayawan Sumedang, Tatang Sobana, Tari Umbul pertama kali dibawa oleh seniman bernama Kalsip yang berasal dari Kota Indramayu.

Kemudian dikembangkan oleh penari asal Kecamatan Paseh yang bernama Bu Misren atau yang sering dipanggil Ma Jaer.

Tari umbul kolosal pada akhir tahun 2019.
Tari umbul kolosal pada akhir tahun 2019. Sumber: Media-Istana

''Tari Umbul lahir sebagai bentuk ketidaksenangan masyarakat terhadap penjajah Belanda sehingga ekspresi tersebut disalurkan dalam bentuk tarian,'' ujar Tatang dikutip GNFI dari Pikiran Rakyat.

''Awalnya disajikan pada pertunjukan longser, sehingga ada unsur lagu, gerak tari, dan lawak,'' tambahnya.

Dalam pagelarannya, para penari akan membawakan lagu yang berjudul umbul atau adem ayem sambil menari secara bergantian.

Penari tarian umbul terbilang unik karena selain setelan kebaya, kain samping, dan selendang, biasanya mereka memakai kacamata hitam saat menari.

Tari umbul sempat vakum pada 1994 akibat ada pro dan kontra terkait goyangannya yang erotis.

Namun, setelah ada pengurangan nilai-nilai erotis pada gerakannya, tari umbul kembali hidup pada milenium baru dengan sering muncul di acara-acara yang digelar di Sumedang seperti pernikahan, khitanan, 17 Agustus-an, sampai kegiatan kepariwisataan.

Sebuah kegiatan tari umbul besar-besaran bahkan dilakukan di Alun-Alun Kabupaten Sumedang pada 20 Mei 2012.

Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, pada saat itu tari umbul diharapkan diikuti ribuan orang.

''Semula kita akan menampilkan 1.500 orang, tetapi dalam rapat tadi ketua Apdesi Kecamatan Situraja, sanggup untuk menyediakan sampai 2.012 orang, ini sangat membanganggakan kami. Dan momentum itu sebagai kebangkitan seni umbul Situraja,'' ujar Camat Situraja Syarif Efendi Bahar sebulan sebelum pelaksanaan, dikutip GNFI dari Sumedang Online.

Awalnya 1.500, lalu target angkanya berubah menjadi 2.012 untuk menyamakan angka tahun digelarnya event tersebut.

Namun realisasinya tari umbul saat itu diikuti 2.342 penari dan tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai "Tari umbul dengan Peserta Terbanyak".

Rekor tersebut tidak bertahan lama, karena 5.000 penari melakukan hal serupa di Lapangan Sepak Bola Madukara Paseh pada 31 Agustus 2016 sehingga tercatat dalam Original Rekor Indonesia (ORI).

Tiga tahun kemudian atau tepatnya 31 Desember 2019, kesuksesan yang sama diulang lagi oleh masyarakat Kabupaten Sumedang.

Saat itu tercatat sebanyak 5.555 orang mengikuti pagelaran tari umbul kolosal dengan tema "Dari Masyarakat Sumedang untuk Dunia" di Satker Waduk Jatigede.

Baca Juga:

Referensi: Pikiran-rakyat.com | Kabar-priangan.com | Sumedang.online | Aylawati Sarwono, "Rekor-Rekor Muri Volume IV (2012-2013)"

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Cantik Ala Suku Dayak Yang Hampir Punah Sebelummnya

Cantik Ala Suku Dayak Yang Hampir Punah

Apakah TNI AL Perlu Mengoperasikan Kapal Induk? Selanjutnya

Apakah TNI AL Perlu Mengoperasikan Kapal Induk?

Dimas Wahyu Indrajaya
@dimas_wahyu24

Dimas Wahyu Indrajaya

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.