Belajar Makna Idul Fitri dari Perjalanan Hidup Sunan Kalijaga

Belajar Makna Idul Fitri dari Perjalanan Hidup Sunan Kalijaga
info gambar utama

Hari Raya Idul Fitri merupakan momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Hari itu, dimaknai sebagai waktu diampuninya seluruh perbuatan dosa yang pernah dilakukan manusia.

Menurut istilah, Idul Fitri mempunyai makna yang berkaitan erat dengan tujuan yang dicapai dari kewajiban puasa yang telah dilakukan sebelumnya selama bulan Ramadan, yakni demi menjadi manusia yang bertakwa.

Menurut beberapa pendapat, kata ''fitri'' bisa berarti berbuka puasa atau bisa juga berarti suci.

Dikutip dari laman Nu.or.id, beberapa makna kata ''fitri'' bersumber dari hadis Rasulullah Saw., yang artinya berbuka puasa.

''Dari Anas bin Malik: Tak sekalipun Nabi Muhammad SAW. Pergi (untuk shalat) pada hari raya Idul Fitri tanpa makan beberapa kurma sebelumnya.''

Dalam Riwayat lain: "Nabi Saw., makan kurma dalam jumlah ganjil." (HR Bukhari).

Sedangkan kata fitri yang berarti suci, bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, keburukan berdasarkan dari hadis Rasulullah Saw., yang berbunyi:

''Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap rida Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.'' (Muttafaq 'alaih).

''Barang siapa yang salat malam di bulan Ramadan dengan didasari iman dan semata-mata karena mengharap rida Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.'' (Muttafaq 'alaih).

ketupat idul fitri
info gambar

Dari beberapa penjelasan tadi, bila diartikan secara bebas, maka makna Idul Fitri dapat digambarkan sebagai kembalinya seseorang kepada keadaan suci, atau bebas dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, dan keburukan sehingga berada dalam kesucian atau fitrah.

Berkaitan dengan proses seorang muslim untuk kembali kepada fitrah. Kita mungkin bisa belajar dari perjalanan hidup Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga adalah seorang ulama penyebar agama Islam di Nusantara --khususnya Pulau Jawa--yang juga merupakan salah satu anggota Wali Songo.

Sebagai seorang ulama besar, hidupnya tidak selalu diliputi dengan cahaya-cahaya keislaman. Di masa mudanya, ia pernah terjerumus dalam dunia hitam yang membuatnya menjadi perampok yang sangat disegani.

Berbagai perbuatan dosa pernah ia lakukan, hingga akhirnya ia kembali ke fitrah dengan sungguh-sungguh bertobat dan menjadi salah satu ulama paling berjasa dalam menyebarkan agama Islam di bumi Nusantara.

Berandal Lokajaya yang Ditakuti

Kisah awal tokoh yang kelak dikenal dengan sebutan Sunan Kalijaga ini. Dimulai dengan cerita mengenai masa mudanya yang diliputi dengan kenakalan.

Di masa mudanya, ia kerap melakukan kegiatan-kegiatan tercela seperti, ‘’Suka berjudi, minum minuman keras, mencuri sampai diusir oleh orang tuanya yang malu dengan kelakuan anaknya,’’ tulis Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo .

Sunan Kalijaga merupakan anak seorang Adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta. Kedudukan adipati kala itu, berbeda dengan jabatan bupati, atau kepala daerah di zaman sekarang. Saat itu, kekuasaan adipati sama dengan raja, hanya saja ia masih harus tunduk pada kekuasaan maharaja.

Kadipaten Tuban waktu itu berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Karena itu, Adipati Wilatikta, masih harus tunduk kepada Maharaja Majapahit.

Sunan Kalijaga yang pada masa kecil bernama Raden Syahid, lahir dalam kondisi kemakmuran Kerajaan Majapahit yang sudah mulai surut. Karena hal itu, beban upeti kadipaten terhadap pemerintah pusat semakin besar.

Besarnya beban upeti membuat kadipaten menarik pajak yang besar pula dari rakyat. Sehingga di masa remajanya ia melihat kondisi rakyat yang penuh dengan keprihatinan.

Ia tidak tega melihat kondisi semacam itu menimpa rakyatnya. Raden Syahid pun memutuskan untuk menjadi maling cluring, yaitu seorang pencuri yang hasil curiannya dibagikan kepada orang miskin.

sunan kalijaga berandal lokajaya
info gambar

Awalnya ia membongkar gudang kadipaten, mengambil makanan, lalu dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan secara diam-diam. Namun, tak disangka, aksinya itu ketahuan penjaga dan diadukan kepada Adipati Tumenggung Wilatikta, ayahnya.

Tumenggung Wilatikta merasa sangat malu, hingga ia mengusir putranya itu keluar dari istana kadipaten. Akan tetapi pengusiran itu tidak membuat Raden Syahid jera. Ia malah membegal dan merampok orang-orang kaya di Kadipaten Tuban.

Hasil rampokannya tetap dibagi-bagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Aksinya tersebut ketahuan lagi oleh ayahnya. Kali ini ia diusir keluar dari wilayah Kadipaten Tuban. Ia diperingatkan, jika tertangkap masih beraksi di Kadipaten Tuban, tiada ampun baginya.

Pengusiran itu membuatnya melangkahkan kakinya entah ke mana, yang jelas ia tidak menghentikan perbuatan maling cluring-nya. Di luar Kadipaten Tuban, namanya malah semakin dikenal dan disegani dalam dunia hitam.

Dalam dunia hitam, ia mendapatkan gelar “berandal Lokajaya” karena tidak segan menyakiti sasaran perampokannya.

''Gelar Lokajaya sendiri bermakna ‘penguasa wilayah’ karena kata Loka (tempat, wilayah, daerah) dan jaya (menang, menguasai),'' tulis Agus Sunyoto. Selain oleh orang-orang kaya, berandal Lokajaya juga sangat disegani para bandit lain karena keampuhan ilmu kanuragannya.

Dari Berandal Lokajaya hingga Sunan Kalijaga

Sepak terjang Raden Syahid dalam dunia hitam sungguh meresahkan. Sampai pada suatu hari, ia bertemu dengan sosok lelaki tua yang ternyata adalah Sunan Bonang. Salah satu ulama yang lebih dulu menjadi anggota dewan wali dalam Wali Songo.

Raden Syahid atau berandal Lokajaya tidak mengenal siapa lelaki tua yang ternyata seorang ulama tersebut. Ia tetap ingin membegalnya karena melihat kepala tongkatnya yang terbuat dari emas. ‘’Pikirnya, ada orang kaya yang bisa dibegal,’’ seperti dikutip dalam buku Sunan Kalijaga: Mistik dan Makrifat karya Achmad Chodjim.

Dengan kemahiran pencak silatnya, Sunan Bonang bisa dilumpuhkan. Ia memaksa Sunan Bonang menyerahkan seluruh bekal yang dibawanya. Termasuk tongkatnya yang tampak berkilauan. Tentu saja Sunan Bonang tidak mau menyerahkan hak miliknya.

Lalu Lokajaya mengancam Sunan Bonang sambil mengatakan bahwa hasil merampoknya itu untuk menolong mereka yang membutuhkan. Singkat cerita, Sunan Bonang kemudian menunjukkan karamahnya hingga membuat Lokajaya, menyadari atas semua kesalahannya. Sang berandal Lokajaya pun tobat.

Ia sadar meski perbuatannya tampak mulia, tapi ia lakukan dengan cara yang salah. Akhirnya ia menyatakan diri untuk berguru kepada Sunan Bonang. Berandal Lokajaya atau Raden Syahid pun diterima sebagai muridnya.

Dalam berbagai referensi diceritakan bahwa ketika Raden Syahid diterima sebagai murid. Sunan Bonang menyuruhnya untuk bersemadi selama bertahun-tahun di pinggir sungai atau kali hingga ia dibangunkan kembali.

Setelah itu, ia dididik berbagai pemahaman ilmu agama oleh Sunan Bonang. Kemudian berguru lagi ke beberapa guru seperti Sunan Ampel dan Sunan Giri. Usai belajar ke banyak guru, lantas ia ditugaskan untuk membantu menyebarkan agama Islam di beberapa wilayah Nusantara.

Karena sepak terjangnya dalam membantu penyebaran Islam, ia diangkat menjadi salah satu anggota Wali Songo dan bergelar Sunan Kalijaga.

sunan kalijaga
info gambar

Momen Kembali ke 'Fitri'

Pesan moral yang bisa diambil dari kisah hidup Sunan Kalijaga adalah perjalanannya dalam mencapai pertobatan. Sebagai seorang manusia, Sunan Kalijaga juga pernah membuat berbagai kesalahan dan dosa besar.

Tidak main-main, ia pernah merampok, berjudi, minum minuman keras hingga mabuk, bahkan menyakiti orang lain. Namun, karena kesungguhannya dalam bertobat, di akhir hayatnya ia dikenal sebagai seorang ulama besar yang menyebarkan agama Islam di bumi Nusantara.

Belajar dari kisah Sunan Kalijaga, di momen Idul Fitri ini, semoga kita juga bisa kembali 'fitri' (suci), meski banyak kesalahan dan dosa yang telah kita perbuat.

Kuncinya hanya satu, kita benar-benar bertobat dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Insyaallah, seluruh perbuatan dosa kita akan diampuni oleh Allah SWT., sehingga kita menjadi pribadi yang lebih baik di hari depan.

Bagi Kawan GNFI yang merayakan, saya ucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah. Selamat Lebaran, kawan. Semoga kita menjadi manusia yang lebih baik setelah Ramadan tahun ini, seperti Raden Syahid yang bertobat dari Berandal Lokajaya hingga menjadi Kanjeng Sunan Kalijaga. Amin.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini