Menjaga Permata Paling Berharga di Asia Tenggara Bernama Lorentz

Menjaga Permata Paling Berharga di Asia Tenggara Bernama Lorentz
info gambar utama

Kawan GNFI, setiap tanggal 10 Agustus, Indonesia memperingati Hari Konservasi Alam Nasional. Dan patut dicatat, negara kita tercinta ini memiliki Taman Nasional (TN) terluas di Asia Tenggara yang terletak di ujung timur, atau tepatnya di Papua. TN Lorentz namanya.

Nama TN ini diambil dari seorang Penjelajah asal Belanda, Hendrikus Albertus Lorentz, yang melewati daerah tersebut pada tahun 1909. Ia telah melakukan ekspedisi sebanyak 10 kali ke TN ini.

Dengan luas wilayah 2,4 juta hektare, TN Lorentz yang belum sepenuhnya dipetakan ini merupakan kawasan dengan ekosistem paling beragam di Asia Pasifik. Pada 1999 Taman Nasional ini diterima sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO.

TN ini membentang dari puncak gunung yang diselimuti salju (5.030 mdpl), hingga membujur ke perairan pesisir pantai dengan hutan bakau dan batas tepi perairan Laut Arafura.

Karena wilayahnya kaya akan mineral, tak heran banyak penambangan besar-besaran yang cukup aktif di sekitar kawasan itu.

Meski begitu, upaya untuk menjaga keutuhan TN terus dilakukan oleh masyarakat dan aktivis lingkungan secara mandiri. Mereka menyebut misi itu dengan Proyek Konservasi Taman Nasional Lorentz.

Sementara sejak tahun 2003 hingga saat ini, WWF Indonesia Regional Sahul Papua tengah melakukan pemetaan wilayah adat dalam kawasan TN Lorentz secara spesifik.

Pada 2003 hingga 2006, WWF Indonesia telah melakukan pemetaan di wilayah TN yang berada di Distrik (Kecamatan) Kurima, Kabupaten Yahukimo. Sedangkan pada 2006 hingga 2007, dilakukan pemetaan lanjutan yang menyisir Distrik Sawaerma, Kabupaten Asmat.

Secara umum, kawasan konservasi TN terbentang sepanjang 10 kabupaten dan memiliki ekosistem terlengkap di dunia, mulai dari padang rumput, rawa-rawa, hutan hujan, hutan sagu, hutan gambut, pegunungan, pantai, dan masih banyak lagi.

Cris Sembay, dari Balai TN Lorentz, pernah mengatakan bahwa hingga saat ini terus dilakukan pemanduan bagi para pengunjung TN Lorentz yang sebagian di antaranya ingin menjelajah ke Puncak Cartensz.

Ia juga menyebut, pemanduan-pemanduan itu dilakukan oleh masyarakat setempat yang mengenal betul seluk beluk Taman Nasional, sehingga apa yang dilakukan para penjelejah itu dapat dikontrol dengan baik.

''Sumber pendapatan masyarakat sekitar secara umum memang sebagai pemandu (guide) para pendaki yang ingin menuju kawasan Carstensz,'' ungkapnya. Karenanya kontrol itu perlu dijaga betul.

Daya tarik Taman Nasional Lorentz

Tak heran jika masyarakat sekitar bermata pencarian sebagai pemandu para turis, karena memang nyatanya banyak sekali pengunjung yang mendatangi Taman Nasional ini.

Data dari Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) pada 2015 mencatat, kunjungan kawasan wisata alam dan konservasi alam di Papua tertingginya diraih oleh TN Lorentz.

Tercatat jumlah kunjungan ke TN Lorentz mencapai 2,3 jutaan pengunjung. Peringkat kedua dicapai oleh Suaka Margasatwa (SM) Pegunungan Jayawijaya dengan catatan kunjungan 789,2 ribu. Dan, TN Teluk Cendrawasih menutup posisi tiga besar dengan total kunjungan 749,3 ribu.

Data kunjungan wisata alam Papua 2015

Pesona eksotis TN Lorentz menjadi alasan banyaknya pengunjung yang menyambangi tempat tersebut. Keanekaragaman hayati serta pesona Puncak Cartensz yang terlihat dari kejauhan menjadi nilai tersendiri TN ini.

Beberapa wilayah eksotik yang bisa ditemui di taman nasional ini di antaranya Danau Habema yang dijuluki danau berselimut awan, karena untuk mencapainya mesti hiking menuju Pegunungan Tengah. Lain itu ada lautan Pasir Putih Aikima yang secara geografis jauh dari pantai.

Goa Kontilola dengan pilar batu alamnya juga tak kalah menawan, serta Telaga Biru Maima yang airnya sebening kristal berwarna biru toska.

Pesona Lembah Baliem

Lembah Baliem
info gambar

Area yang bisa dibilang paling populer di Taman Nasional Lorentz adalah Lembah Baliem. Kawasan yang berada di dalam wilayah kota Wamena ini memiliki latar pemandangan Pegunungan Jayawijaya dan menyimpan ragam pesona alam yang elok.

Ragam vegetasi

Ragam vegetasi Taman Nasional Lorentz
info gambar

Sekiranya ada sebanyak 34 tipe vegetasi yang di antaranya berupa hutan rawa, hutan tepi sungai, hutan sagu, hutan gambut, pantai pasir karang, hutan hujan lahan datar/lereng, hutan hujan pada bukit, hutan kerangas, hutan pegunungan, padang rumput, dan lumut kerak.

Tercatat pula jenis-jenis tumbuhan di taman nasional ini seperti nipah (Nypa fruticans), bakau (Rhizophora apiculata), pandan (Pandanus julianettii), talas (Colocasia esculenta), api-api putih (Avicennia marina), ki putri (Podocarpus pilgeri), dan tumbuhan merambat (Nauclea coadunata), menambah keanekaragaman flora di taman nasional ini.

Habitat satwa langka endemik

satwa langka Papua
info gambar

TN Lorentz merupakan tempat untuk habitat dari 630 spesies burung (73 persen jenis burung yang ada di Papua) dan 123 mamalia yang sejauh ini telah berhsil diidentifikasi.

Satwa mamalia yang tercatat antara lain babi duri moncong panjang (Zaglossus bruijnii), babi duri moncong pendek (Tachyglossus aculeatus), empat jenis kuskus, walabi, kucing hutan, dan kanguru pohon yang merupakan kanguru endemik Papua..

Selain itu, hewan endemik lainnya yang bisa ditemukan di TN Lorentz terdapat pula jenis burung yang menjadi ciri khas taman nasional ini.

Ada dua jenis kasuari, empat megapoda, 31 jenis dara/merpati, 30 jenis kakatua, 13 jenis burung udang, 29 jenis burung madu, dan 20 jenis endemik di antaranya cendrawasih ekor panjang (Paradigalla caruneulata), serta puyuh salju (Anurophasis monorthonyx).

Salju abadi di Puncak Jaya

Salah satu kawasan yang paling memikat pengunjung adalah Puncak Jaya, yang merupakan salah satu dari 7 puncak tertinggi (Seven Summits) di dunia dengan ketinggian 4.884 mdpl. Di lokasi ini juga terdapat gletser Carstensz, yang merupakan satu-satuya gletser tropis di Indonesia.

Dalam dialek lokal, puncak ini lazim disebut sebagai Nemangkawi Ninggok, yang bermakna Puncak Panah Putih. Sayangnya, saat ini gletser Papua tengah mengalami penyusutan besar-besaran.

Puncak jaya
info gambar

Beberapa kondisi yang menyebabkan susutnya salju Papua ini menjadi konsentrasi beberapa pihak, terkhusus bagi pemerintah, ilmuwan, pengamat lingkungan, juga tentunya masyarakat sekitar yang bakal terdampak.

Catatan-catatan penting lainnya menyebut bahwa perubahan iklim yang ekstrem, pemanasan global, panasnya permukaan laut, dampak emisi karbon dioksida, dan efek rumah kaca, menjadi biang kerok penyusutan gletser di seluruh dunia, tak terkecuali salju Papua.

Dalam laporan Indonesia Third National Communication, dijelaskan oleh Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Sri Tantri Arundhanti, beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan bahwa suhu permukaan cenderung meningkat 1,5 derajat celsius serta suhu permukaan laut yang naik 0,25 derajat celsius per dekade, juga berperan dalam penyusutan salju abadi ini.

Para ilmuwan juga memperkirakan gletser-gletser di Papua telah kehilangan sebanyak 85 persen luasnya sejak beberapa dekade terakhir. Studi anyar yang dilakukan National Academy of Science mencatat luas gletser yang dulu terhampar sekira 2.000 hektare, menyusut menjadi kurang dari 100 hektare.

Setidakya ada enam hal yang sedang diupayakan untuk mencegah percepatan susutnya salju abadi Papua yang dilakukan oleh berbagai kalangan. Hal-hal tersebut adalah:

  • Langkah-langkah mitigasi dan adaptasi,
  • Peringatan serius soal penggunaan energi (fosil dan batubara),
  • Dibuat batas yang tegas antara eksplorasi tambang dan taman nasional,
  • Pendekatan banyak pihak, mulai dari pemerintah dan para pakar, psikolog, dan antropolog,
  • Membangun komunikasi strategis dalam konteks memberikan edukasi kepada pendaki soal limbah sampah, dan
  • Mengangkat isu agar didengar semua kalangan untuk bersama-sama mencegah hilangnya gletser di Papua.

Tempat berdiam suku asli Papua

Suku Dani Papua
info gambar

Sejauh ini telah diidentifikasi sembilan kelompok suku pedalaman yang tinggal di dalam wilayah Taman Nasional Lorentz.

Diperkirakan kebudayaan taman nasional yang telah berumur 30.000 tahun itu didiami oleh Suku Nduga, Dani, Dani Barat/Lani, Amungme, Sempan, Moni, Somahai, Komoro, dan Asmat. Lain itu, diduga masih banyak lagi suku yang tinggal di wilayah pedalaman Taman Nasional Lorentz.

Dari semua penjabaran di atas, penting kiranya kita menjaga keanekaragaman hayati Taman Nasional Lorentz layaknya menjaga sebuah permata paling berharga yang kita miliki. Menjaga TN Lorentz, artinya kita menjaga harkat, martabat, dan budaya Indonesia.

Selamat Hari Konservasi Alam Nasional 2020, jaga alam kita agar tetap lestari!

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini