Dasa Darma Pramuka jadi Rujukan Perilaku Komunitas Harley-Davidson

Dasa Darma Pramuka jadi Rujukan Perilaku Komunitas Harley-Davidson
info gambar utama

Kawan GNFI, setiap tanggal 14 Agustus, Bangsa Indonesia memperingati Hari Pramuka, yang sebelumnya dikenal sebagai gerakan Kepanduan. Sebuah gerakan sejak zaman kolonial Hindia Belanda yang mencerminkan nilai-nilai luhur sesuai dengan budaya dan kultur masyarakat di Indonesia.

Terkait dengan Hari Pramuka, beberapa tahun lalu penulis pernah berbincang dengan salah satu pendiri komunitas motor besar (Moge) di Indonesia. Namanya Indrodjojo Kusumonegoro, atau tenar disapa Indro ''Warkop''.

Dalam perbincangan dengan pendiri komunitas moge Harley-Davidson Club Indonesia (HDCI) itu, ia mengaku banyak makna-makna dasar dari gerakan kepanduan melalui ''Dasa darma Pramuka'' yang diterapkan pada komunitas moge tersebut.

Paham Dasa Darma Pramuka, berpengaruh dalam bersikap

Komedian legendaris Indonesia itu kemudian menyatakan bahwa mempelajari dan menghayati Dasa Dharma Pramuka bisa memengaruhi perilaku para pemotor di jalan. Baik ia perorangan maupun tergabung dalam komunitas motor.

Dengan memahami Dasa Darma Pramuka, sambung Indro, bisa melatih mental manusia sebagai pribadi yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Lain itu juga bisa memacu individu untuk terampil, kreatif, dan memiliki toleransi yang tinggi. Ini yang penting.

"Ada beberapa poin dari Dasa Dharma Pramuka yang memang cukup menjadi bekal jika kita berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Kita dituntut memiliki mental yang kuat, gak cengeng atau manja, dan yang paling penting peka dengan lingkungan dan kreatif," beber Indro kala itu.

Seluruh poin dalam Dasa Darma Pramuka, menurut Indro dapat dijadikan acuan untuk membentuk mental yang tangguh dan penuh toleransi.

Secara umum, bunyi Dasa Darma Pramuka, adalah;

  1. Takwa kepada Tuhan yang Maha Esa,
  2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia,
  3. Patriot yang sopan dan kesatria,
  4. Patuh dan suka bermusyawarah,
  5. Rela menolong dan tabah,
  6. Rajin, terampil, dan gembira,
  7. Hemat, cermat, dan bersahaja,
  8. Disiplin, berani, dan setia,
  9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya,
  10. Suci dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan.

Dari 10 poin dalam Dasa Darma Pramuka, beberapa poin misalnya poin 3, 4, dan 10, bisa jadi menjadi yang terpenting untuk jadi acuan para pemotor di jalan raya.

"Kalau Anda punya bekal pramuka, dijamin Anda akan menjadi biker yang santun, toleran, dan kreatif. Dan yang paling penting adalah tahan banting, sehingga mampu beradaptasi dalam situasi apapun," tandasnya.

Jika tak memahami nilai Dasa Darma Pramuka, pemotor cenderung arogan

Saat ini, Indro melihat banyak pemotor yang tidak mengindahkan norma-norma dalam berkendara. Mereka kerap abai akan keselamatan diri dengan tak memakai helm.

Lazim juga kita temui beberapa oknum pemotor yang berpotensi membahayakan orang lain dengan memacu motor seenaknya dan tak taat pada peraturan.

Ia pun berkomentar dengan nada sindiran, "Pemotor itu boleh jadi tak dapat mengontrol emosinya, egois, atau ngerasa paling jago. Dan itu membahayakan secara mental dan juga lingkungan sekitar. Pemotor seperti itu, biasanya kepribadiannya arogan."

Pendiri komunitas motor gede Black Angels itu juga mengatakan bahwa kesadaran akan keselamatan berkendara di jalan raya pada awalnya harus datang dari diri sendiri. Setelah itu biasanya pengendara akan lebih patuh pada peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah maupun aparat kepolisian.

Bergabung dengan sebuah komunitas, jelas Indro, bisa membuat orang berkendara lebih baik. Selain mesti menjaga diri sendiri, para anggota komunitas motor juga membawa beban nama baik komunitasnya, sehingga cenderung bisa memberikan contoh baik pada orang lain.

Sejarah Pramuka di Indonesia

Secara umum, gerakan Kepanduan di tanah air skala nasional dimulai pada 1923 dengan berdirinya Nationale Padvinderij Organisatie (NPO) di Bandung dan Jong Indonesische Padvinderij Organisatie (JIPO) di Batavia, lalu dilebur menjadi Indonesische Nationale Padvinderij Organisatie (INPO) pada 1926.

Istilah Pramuka resmi digunakan untuk menyebut gerakan Kepanduan nasional baru dikukuhkan pada 1961 pada tanggal 14 Agustus.

gagasannya datang dari Presiden Soekarno yang ingin menyatukan seluruh gerakan Kepanduan di Indonesia. Karenanya, setiap tanggal 14 Agustus diperingati sebagai Hari Pramuka.

Misi utama gerakan Pramuka adalah untuk mendidik pemuda dan pemudi Indonesia, dari usia anak-anak hingga remaja untuk meningkatkan rasa cinta tanah air dan bela negara.

Istilah Pramuka pun dicetuskan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana IX yang terinspirasi dari kata Poromuko yang bermakna pasukan terdepan dalam perang.

Namun kemudian Pramuka menjadi sebuah singkatan dari kepanjangan Praja Muda Karana, yang bermakna ''Jiwa Muda yang Gemar Berkarya''.

Sri Sultan Hamengkubuwono IX pun menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka pertama hingga 4 periode selanjutnya hingga tahun 1974.

Karena berjasa melambungkan nama Pramuka di kancah internasional, maka gelar Bapak Pramuka Indonesia pun tersemat untuknya.

Selamat Hari Pramuka ke-59!

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini