Mulai Muncul Kerutan Wajah? Hirup Udara di Gili Iyang Terbukti Bikin Awet Muda

Mulai Muncul Kerutan Wajah? Hirup Udara di Gili Iyang Terbukti Bikin Awet Muda
info gambar utama

Kabupaten Sumenep memang istimewa jika dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lainnya. Kabupaten Sumenep diketahui punya 126 pulau yang membuat kabupaten ini dinobatkan sebagai kabupaten dengan pulau terbanyak di Jawa Timur.

Sebut saja Gili Laba yang menjadi kawasan khusus bagi pecinta snorkelling dan juga diving dengan hamparan pasir putih yang bisa dinikmati. Lalu ada pula dengan Gili Genting yang memiliki pantai berbentuk huruf sembilan. Tak heran jika masyarakat setempat juga menyebutnya dengan Pantai Sembilan.

Jika air laut sedang pasang, air laut yang menggenangi bibir pantai itu ternyata membentuk angka sembilan jika Kawan GNFI melihatnya dari ketinggian. Tentu saja Pantai Sembilan ini juga dihiasi dengan hamparan pasir putih.

Kalau mau eksplor budaya, Kabupaten Sumenep punya sejarah yang ternyata dulu memiliki kerajaan yang menguasai hampir seperempat wilayah Pulau Jawa. Obyek wisata sejarah ini juga masih terjaga di Keraton Sumenep dan makam Raja-Raja Sumenep terdahulu. Warisan budaya itu juga kerap diceritakan dengan berbagai tarian-tarian dan musik tradisional seperti Saronen.

Ada hal lain yang istimewa dari Kabupaten Sumenep. Siapa sangka, di Sumenep, di antara 126 pulau di sana, ada Gili Iyang yang ternyata dinobatkan sebagai tempat dengan kualitas udara terbaik di Indonesia. Bahkan disebutkan menjadi tempat dengan kualitas terbaik nomor dua di dunia setelah Laut Merah di Yordania.

Mengapa bisa?

Gili Iyang Punya Kadar Oksigen di Atas Rata-Rata

Hasil penelitian Balai Besar Teknis Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLP) Jawa Timur pada 2001 silam pernah membuktika bahwa kadar oksigen Gili Iyang pernah mencapai 21,5 persen. Angka ini diperkuat dengan hasil penelitian Air Visual Air Quality Index dan Lembaga Penelitian Antariksa Nasional (LAPAN) yang dilakukan pada tahun 2006 silam.

Padahal rata-rata kandungan oksigen di daerah lain sekitar Kabupaten Sumenep hanya sekitar 20 persen. Kandungan oksigen yang tinggi ini juga disebut-sebut mampu menduduki puncak tertinggi kedua setelah di Laut Merah, Yordania.

Penelitian paling aktual yang dilakukan oleh Badan Lingkungan Hidup dan Bapedda Kabupaten Sumenep pada tahun 2011 angka kandungan oksigen di Gili Iyang memang bisa lebih rendah pada waktu tertentu, seperti pada bulan Februari. Namun, angkanya pun hanya sampai ke 20,9 persen, yang artinya masih berada di atas rata-rata.

Selain mengandung oksigen yang tinggi, Gili Iyang juga dikenal dengan pulau yang jauh dari polusi. Ini karena Kawan GNFI akan sangat jarang menemukan kendaraan bermotor yang melintas di Gili Iyang. Kandungan karbon dioksida di Gili Iyang juga diketahui hanya 26,5 persen, sementara tingkat kebisingan hanya 36,5 dB.

Jika dibandingkan dengan Jakarta, mengutip dari data Komite Penghapusan Bensin Bertimbal tahun 2019, menyebutkan bahwa emisi gas karbon dioksida yang dihasilkan Jakarta sebesar 318.840 ton per harinya. Bus menyumbang 46 persen, truk menyumbang 33 persen, sepeda otor menyumbang 16 persen, mobil menyumbang 3 persen, dan mobil diesel menyumbang 2 persen. Sedangkan tingkat kebisingan Jakarta diketahui mencapai 78,85 dB.

Atas dasar pertimbangan kondisi udara di Gili Iyang tersebut, Pemerintak Kabupaten Sumenep memang sudah mencanangkan obyek wisata kesehatan di Gili Iyang sejak tahun 2015. Kampanye Visit Sumenep 2018 lalu juga mulai memasarkan Gili Iyang sebagai ‘’Pulau Awet Muda’’.

Apalagi Gili Iyang memang ditumbuhi pohon-pohon yang tumbuh subur dan rindang sehingga produsen udara berkualitas pun masih tetap terjaga dalam jumlah yang banyak. Jadi, tidak heran jika Kawan GNFI mengunjungi Gili Iyang, maka kawan akan menemukan warga setempat masih segar bugar melakukan aktivitas kesehariannya meski angka usianya sudah mendekati 100 tahun.

Bagaimana Cara ke Pulau Awet Muda Ini?

Untuk bisa sampai ke Gili Iyang yang berada di Desa Dungkek, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur ini, Kawan GNFI perlu pergi menuju Pelabuhan Dungkek. Dari Pelabuhan Dungkek, akan banyak perahu motor milik nelayan sebagai alat transportasi termudah menuju Gili Iyang.

Jarak tempuhnya memakan waktu antara 45 sampai 60 menit perjalanan jika kondisi dan cuaca dalam keadaan normal. Tiba di Gili Iyang, jika ingin menuju titik oksigen terbaik di Gili Iyang, maka Kawan GNFI masih perlu menyewa kendaraan lagi untuk menuju ke Desa Bancamara.

Supaya pulang-pulang bisa membawa oleh-oleh kulit bebas kerutan, lebih baik Kawan GNFI menyempatkan untuk bermalam di Gili Iyang. Tenang saja, aka nada homestay di rumah penduduk yang sudah disiapkan. Fakta menarik lainnya, ternyata Gili Iyang adalah pulau dengan pembangunan infrastruktur paling pesat jika dibandingkan dengan kawasan wisata lainnya.

Selain menikmati keindahan pantai khas Sumenep, Gili Iyang juga menawarkan keindahan alam menawan lainnya karena hiasan stalaktit dan stalagmite di beberapa sudut pulau. Ada pula goa di tepian pantai Gili Iyang yang bisa menjadi destinasi pilihan. Tujuh goa di Desa Banra’as dan tiga goa di Desa Bancamara.

Jadi, kapan sudah perawatan anti penuaan dini dengan alami di Gili Iyang?

--

Sumber: Kompas.com | Genpi.id | Travel.Detik.Com | Bisnis.com | Tingkat Kebisingan di DKI Jakarta dan Sekitarnya (2004), Hendro Martono dkk

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini