Terminal Kijing, Miliki Jembatan Penghubung Terpanjang di Indonesia

Terminal Kijing, Miliki Jembatan Penghubung Terpanjang di Indonesia
info gambar utama

Kawan GNFI, Proyek Pembangunan Terminal Kijing yang dilaksanakan oleh PT Wijaya Karya (WIKA) akan memiliki trestle terpanjang di Indonesia dengan panjang yang mencapai 3.374 meter (3,3 km). Pembangunan itu tentunya untuk menyesuaikan struktur dan kedalaman yang dibutuhkan.

Trestle merupakan jembatan penghubung antara dermaga dengan area darat, yang biasanya dimiliki oleh pelabuhan besar dengan dermaga yang berlokasi di tepi laut. Terminal Kijing juga akan menjadi pelabuhan berskala internasional di Kalimantan.

Berlokasi di Kecamatan Sungai Kunyit, Kabupaten Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Terminal Kijing mampu menampung kapal besar bermuatan hingga 100.000 DWT, dan dapat disinggahi draft (batasan permukaan air hingga dasar konstruksi bodi kapal) yang dimiliki kapal besar hingga kedalaman 15 meter.

"Trestle ini menjadi yang terpanjang dalam sejarah WIKA dan telah disepakati bersama owner juga agar tidak terlalu dekat jaraknya ke darat untuk memperoleh kedalaman air yang cukup agar kapal berukuran sampai 100.000 DWT bisa berlabuh, yaitu kedalaman 17 meter," terang Eko Sudjianto, kepala tim proyek dalam siaran pers perusahaan, Senin (9/11/2020).

Pembangunan 2 struktur

Untuk membangun jembatan itu, struktur trestle ini terbagi atas dua bagian, yakni struktur bawah dan struktur atas. Struktur bawah terdiri atas Concrete Spun Pile (CSP) diameter 800 dan 600 milimeter, serta free standing (tiang) yang berdiri bebas di atas tanah dasar, dari 4 meter sampai dengan 17 meter.

Sedangkan struktur atas atau deck menggunakan sistem girder simple span made continuous, yang membentang selebar 21,6 meter dan 24,6 meter.

Sistem girder dengan bentang menengah tersebut dapat mempercepat konstruksi dibanding sistem pile slab dengan bentang pendek (5-12 meter), karena mampu mengurangi jumlah pemancangan tiang di laut yang butuh waktu lama dengan tingkat risiko hambatan pekerjaan yang tinggi.

Jembatan yang terdiri dari 4 lajur dengan 2 jalur itu masing-masing dikerjakan menggunakan slab girder full precast yang juga pertama kali diterapkan pada pekerjaan sejenis, dan dapat dimanfaatkan sebagai akses konstruksi sehingga mempercepat masa prosesnya.

Pada metode ini, precast telah dirakit sebelumnya dan tidak membutuhkan pengecoran slab di atas tongkang untuk meminimalisir risiko serta mempercepat proses konstruksi.

''Bukan hanya itu, kita juga menggunakan 3 crane di atas 3 tongkang yang bekerja secara paralel untuk melakukan instalasi girder dan pelat precast,'' terang Eko.

Segala upaya dan terobosan yang dilakukan tim proyek pada akhirnya membuahkan hasil dengan selesainya trestle ini dalam waktu yang lebih cepat dari yang diperkirakan.

Pencapaian ini pun tak hanya menjadi milik tim proyek saja, karena juga didukung oleh keterlibatan anak perusahaan, WIKA Beton pada suplai PCI Girder dan WIKA Rekayasa Konstruksi pada instalasi MEP untuk proses penyelesaian akhir (finishing) jembatan.

Rekor baru WIKA

Saat terpasang nanti, trestle terpanjang di Indonesia itu akan masuk dalam rangkaian milestone yang telah dicatatkan oleh WIKA. Pada proyek ini, WIKA juga meraih penghargaan atas 2,9 jam kerja selamat.

Sejumlah rekor penting juga telah dicatatkan oleh WIKA Group sebelumnya, di antaranya adalah pembangunan Yogyakarta International Airport (YIA) yang merupakan proyek underpass terpanjang di Indonesia.

Dua rekor lain oleh entitas anak WIKA Gedung, yakni:

  • Pelaksana alih fungsi RS BUMN menjadi RS Rujukan Covid-19 tercepat di RS Pertamina Jaya Jakarta hanya dalam waktu pengerjaan 16 hari kerja.
  • Pelaksana pembangunan RS BUMN rujukan Covid-19 modular dengan ruang rawat inap terbanyak di RSPP extension Covid-19 di Simprug, Jakarta, yang berhasil menyediakan fasilitas penanganan pasien Covid-19 sebanyak 300 Ruang Rawat Inap.

Semoga ragam prestasi ini menggambarkan kemapanan dan keberdayaan perusahaan kontruksi di Indonesia dalam membangun infrastruktur berskala internasional.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini