Di Era Pandemi, Indonesia Jadi Negara Ekonomi Terbaik Kedua Setelah China

Di Era Pandemi, Indonesia Jadi Negara Ekonomi Terbaik Kedua Setelah China
info gambar utama

Pada Juli 2020 lalu, di tengah upaya keras pemerintah dan seluruh negara di dunia menghadapi pandemi Covid-19, data World Bank dan International Monetary Fund (IMF) pernah mengatakan bahwa pada tahun 2024 Indonesia diprediksi dapat menjadi negara dengan perekonomian terbesar ke-5 di dunia. Hal tersebut dihitung berdasarkan data produk domestik bruto (PDB) dan paritas daya beli.

Namun pada penutupan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) antara kelompok negara G-20 November lalu, IMF lagi-lagi meninggalkan kesan ‘’manis’’ untuk Indonesia Indonesia. Pasalnya, di tengah krisis kesehatan dan ekonomi karena pandemi Covid-19, perekonomian Indonesia justru diproyeksikan akan mencatatkan pertumbuhan yang lebih mengesankan.

Hal tersebut diungkap langsung oleh pihak International Monetary Fund (IMF) melalui laporannya di sela-sela KTT G20 dan diungkapkan langsung oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani. Dia mengatakan bahwa tidak bisa dipungkiri kondisi perekonomian global sedang menghadapi tekanan luar biasa sepanjang 2020. Tak pandang bulu negara apa, negara anggota G20—yang merupakan kelompok negara perekonomian terbesar dunia—juga mengalami kontraksi.

Namun, Sri Mulyani mengungkapkan, posisi Indonesia masih lebih baik. Indonesia diperkirakan hanya mengalami kontraksi ekonomi di angka -1,5 persen pada tahun 2020.

‘’Indonesia di antara kelompok G20 pertumbuhan ekonominya masih terbaik kedua setelah RRT [China],’’ kata Sri Mulyani dalam konferensi pers ‘’APBN Kita’’ dikutip Bisnis.com, Selasa (24/11/2020).

China sendiri diperkirakan IMF memang mengalami kontraksi ekonomi, namun di akhir tahun 2020 pertumbuhan negaranya yang satu-satunya berada di area positif, yaitu di angka 1,9 persen. Setelah China, Indonesia berada di posisi kedua dengan angka -1,5 persen. Lalu disusul Korea Selatan yang diproyeksinya kontraksi -1,9 persen, lalu Rusia di angka -4,1 persen.

Kenaikan Hutang Indonesia Tidak Melonjak Terlalu Tinggi

Hutang Indonesia
info gambar

Sepanjang tahun 2020, seluruh negara memang sedang diuji ketahanan ekonominya. Oleh karena itu, semua negara di dunia sedang melakukan dukungan yang disebut countercyclical melalui APBN atau kebijakan fiskal di negaranya, termasuk Indonesia jelas Sri Mulyani.

Menurutnya dua dukungan itu, bagi Indonesia menjadi salah satu upaya yang dianggap paling mampu untuk mengatasi kontraksi ekonomi di negeri ini saat di sisi lain tetap diupayakan penanganan Covid-19. Sri Mulyani bilang bahwa dua dukungan tersebut akan kembali menarik ekonomi Indonesia ke titik terang.

‘’Indonesia ada di bagian yang dianggap cuku rendah modest yaitu di sebelah kanan, sesudah China dalam hal ini. Dan perubahan dari sisi defisit ini adalah untuk memberikan support bagi ekonomi dan untuk belanja-belanja di bidang kesehatan,’’ jelas Sri Mulyani dalam konferensi pers melui kanal Youtube Ministry of Finance, Republic of Indonesia.

Lebih lanjut Sri Mulyani menjelaskan bahwa countercyclical ini masih memberi dampak lain yaitu kenaikan hutang pemerintah yang pasti terjadi di semua negara, termasuk Indonesia. Hal ini juga diungkapkan pada laporan IMF terhadap kelompok negara G20.

Berdasarkan pengamatan IMF, kelompok negara G20 rata-rata mengalami angka kenaikan hutang yang luar biasa tinggi. Jika dibandingkan pada saat sebelum krisis, maka kini negara G20 mengalami peningkatan rata-rata 130 persen dari PDB pada masa pandemi.

Namun, Indonesia terlihat mampu menekan angka kenaikan hutang itu. Sebelum pandemi melanda, rata-rata hutang Indonesia berada di sekitar 30 persen, lalu di tengah kontraksi ekonomi akibat pandemi, kenaikan hutang Indonesia hanya menjadi 36 sampai 37 persen. Angka ini tidak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan angka kenaikan hutang negara G20 lainnya.

‘’Memang masih ada di bawah garis yang titik-titik merah ini. Namun itu tidak berarti kita tidak waspada, kita tetap akan terus menjaga kondisi semua hal, semua lini supaya ekonominya tetap baik dan fiskalnya sustainable,’’ lanjut Sri Mulyani.

Pemerintah Tetap Patok Proyeksi Negatif di Tahun 2020

Proyeksi IMF
info gambar

Untuk diketahui, Indonesia pernah mengalami kontraksi ekonomi paling dalam pada kuartal kedua dengan mencatatkan pertumbuhan di angka -5,32 persen. Adapun di kuartal ketiga, pertumbuhan ekonomi masih di area negatif namun memperlihatkan pergerakan kea rah positif dengan mencatatkan pertumbuhan di angka -3,49 persen.

Lalu pada Agsutus lalu, Sri Mulyani pernah menuturkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada tahun ini diperkirakan bisa masuk ke area positif di dalam rentang kisaran -1,1 persen hingga 0,2 persen. Namun proyeksi itu akhirnya direvisi. Sri Mulyani justru akan mempertahankan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 di rentang kisaran -1,7 persen hingga -0,6 persen.

Meski begitu, Indonesia masih memperlihatkan tren perbaikan ekonomi yang diprediksi akan terus berlanjut hingga kuartal akhir 2020.

Sedangkan proyeksi pada tahun 2021, Indonesia mungkin bisa melihat pengamatan World Economic Outlook dari IMF yang dipublikasikan Oktober 2020 lalu. Secara global, IMF memprediksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2021 mampu mencapai 5,2 persen, setelah kontraksi di angka -4,4 persen pada tahun 2020.

Salah satu pengungkit pertumbuhan ekonomi global adalah cepatnya pemulihan ekonomi China yang diprediksi akan tumbuh 1,9 persen di tahun 2020 dan 8,2 persen di tahun depan. Indonesia, sebagai salah satu negara emerging market terbesar Asia juga dinilai menjadi salah satu penopang perekonomian global. Dengan prediksi angka pertumbuhan ekonomi di angka 6,1 persen di tahun 2021.

--

Sumber: Bisnis.com | CNBCIndonesia.com | Kontan.co.id | Bareksa.com

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini