Mengenal Festival Tabuik di Kota Pariaman

Mengenal Festival Tabuik di Kota Pariaman
info gambar utama

Sebagai negara yang memiliki beragam kebudayaan, Indonesia selalu dapat memukau dunia dengan keunikan tiap budayanya. Salah satu budaya daerah di Indonesia yang menarik untuk dibahas adalah Festival Tabuik tradisi tahunan masyarakat Pariaman, Sumatra Barat.

Festival Tabuik merupakan salah satu tradisi tahunan masyarakat Pariaman, yang telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Festival ini diperkirakan telah ada sejak abad ke-19 Masehi yang dipengaruhi oleh keturunan India, penganut Syiah yang tinggal di Pariaman.

Festival tabuik menjadi salah satu bagian dari peringatan hari wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, yaitu Hussein bin Ali yang jatuh pada 10 Muharram. Sejarah mencatat, Hussein beserta keluarganya wafat dalam perang di padang Karbala. Nama tabuik berasal dari bahasa arab 'tabut' yang memiliki arti peti kayu.

Nama tersebut mengacu pada legenda mengenai kendaraan Rasullulah SAW yang diberi naama buraq. Buraq memiliki wujud sebagai kuda bersayap dan berkepala manusia. Buraq dipercaya sebagai kendaraan yang membawa jenazah Hussein ketika wafat.

Masyarakat berkumpul di alun-alun kota untuk rayakan festival tabuik © Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pariaman
info gambar

Untuk itu, masyarakat Pariaman membuat tiruan dari buraq yang sedang mengusung tabut di punggungnya. Sejarah tersebut yang menjelaskan festival tabuik yang sangat dipengaruhi oleh budaya Timur Tengah. Pada tahun 1910, muncul kesepakatan antar nagari untuk menyesuaikan perayaan Tabuik dengan adat istiadat Minangkabau, sehingga berkembang menjadi seperti yang ada saat ini.

Tabuik terdiri dari dua macam, yaitu Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. Keduanya berasal dari dua wilayah berbeda di Kota Pariaman. Tabuik Pasa merupakan wilayah yang berada di sisi selatan dari sungai yang membelah kota tersebut hingga ke tepian Pantai Gandoriah. Sedangkan, tabuik subarang berasal dari daerah subarang, yaitu wilayah di sisi utara dari sungai atau daerah yang disebut sebagai Kampung Jawa.

Sejak tahun 1982, perayaan tabuik dijadikan bagian dari kalender pariwisata Kabupaten Padang Pariaman. Festival tabuik ini memiliki berbagai tahapan yaitu mengambil tanah, menebang batang pisang, mataam, mengarak jari-jari, mengarak sorban, tabuik naik pangkek, hoyak tabuik, dan membuang tabuik ke laut.

Perayaan puncak festival Tabuik di Pantai © Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pariaman
info gambar

Dalam perayaan puncaknya, masyarakat dari berbagai pelosok Sumatra Barat ikut serta dalam festival tabuik ini di pantai. Tidak hanya menarik masyarakat lokal, festival ini pun menarik banyak wisatawan asing. (YUR)

Referensi: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pariaman

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini