Hari Buku Sedunia dan Berbagai Faktor Rendahnya Literasi Anak Indonesia

Hari Buku Sedunia dan Berbagai Faktor Rendahnya Literasi Anak Indonesia
info gambar utama

Hari Buku Sedunia diperingati setiap tanggal 23 April. Penetapan yang dilakukan oleh United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) ini bukanlah tanpa alasan.

Tanggal ini merupakan tanggal meninggalnya sejumlah tokoh sastra terkemuka, termasuk Miguel de Cervantes, William Shakespare, Inca Garcilaso de la Vega, William Wordsworth, dan David Halberstam.

Penetapan tanggal tersebut sebelumnya didasari oleh berbagai pertimbangan. Seorang penulis kelahiran Valencia, Vicente Clavel menyarankan bahwa pemilihan tanggal untuk Hari Buku Sedunia seharusnya didedikasikan untuk menghormati penulis Spanyol Miguel de Cervantes.

Sehingga ada dua pilihan tanggal, yaitu 7 Oktober sebagai hari lahirnya atau 23 April sebagai hari kematiannya. Pada akhirnya, tanggal 23 April dipilih sebagai Hari Buku Nasional, mengingat tanggal tersebut juga bertepatan dengan tanggal kematian tokoh sastra lainnya.

Sejak tahun 2011, UNESCO bersama beberapa organisasi internasional yang mewakili tiga sektor industri perbukuan, penerbit, penjual buku dan perpustakaan secara khusus akan memilih sebuah kota yang ditunjuk sebagai Ibu Kota Buku Dunia atau World Book Capital.

Tahun ini, Audrey Azoulay, Direktur Jenderal UNESCO telah menunjuk Tbilisi (Georgia) sebagai World Book Capital atas rekomendasi World Book Capital Advisor Committee.

Selama satu tahun kedepan, sampai 23 April 2022, Tbilisi akan bertugas untuk mempromosikan buku serta minat membaca dan menjadwalkan perayaan buku dan membaca.

Peringatan hari buku sedunia yang telah dimulai sejak tahun 1995 ini diharapkan meningkatkan kesadaran akan pentingnya membaca, mengajarkan anak-anak menjadi pembaca serta mempromosikan cinta sastra serta integrasi seumur hidup ke dalam dunia kerja.

Upaya mempromosikan pentingnya membaca juga dilakukan bagi anak-anak Indonesia. Hal ini akibat masih rendahnya literasi di Indonesia yang terlihat dari berbagai survei.

Rendahnya literasi di Indonesia

UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah. Menurut data ini, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001 persen. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca.

Hal ini juga terlihat dari hasil penelitian Program for International Student Assessment (PISA) rilisan Organisation for Economic Co-Operation and Develompent (OECD) tahun 2018.

Penilaian ini dilakukan setiap tiga tahun sekali dan dibagi menjadi tiga poin utama, yaitu literasi, matematika, dan sains. Hasil pada tahun 2018 mengukur kemampuan 600 ribu anak berusia 15 tahun dari 79 negara.

Pada kategori kemampuan membaca, Indonesia menempati peringkat ke-6 dari bawah (74) dengan skor rata-rata 371. Turun dari peringkat 64 pada tahun 2015.

Survei ini menempatkan Cina dan Singapura di posisi dua negara teratas. Cina memiliki skor 555, sementara Singapura 549 untuk skor kemampuan memahami bacaan dalam berbagai tingkat kesulitan

Di antara negara-negara Asia Tenggara, Indonesia berada paling bawah bersama Filipina yang mendapat peringkat terakhir dalam membaca dan skor sebelum terakhir di dua bidang lain.

Kemudian kedua, peringkat literasi bertajuk 'World's Most Literate Nations' yang diumumkan pada Maret 2016, produk dari Central Connecticut State University (CCSU).

Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara yang disurvei. Indonesia masih unggul dari satu negara, yakni Botswana yang berada di kerak peringkat literasi ini. Nomor satu ada Finlandia, disusul Norwegia, Islandia, Denmark, Swedia, Swiss, AS, dan Jerman.

Pada survei CCSU ini, tidak hanya melihat dari minat literasi dari negara terkait. Namun ada juga beberapa faktor seperti ukuran perpustakaan dan kemudahan aksesnya, negara-negara Asia dan tepian Pasifik langsung merosot peringkatnya.

Alasan rendahnya minat baca anak-anak Indonesia

Nirwan Ahmad Arsuka Inisiator Pustaka Bergerak, menyatakan ketidak setujuan dengan cap bahwa anak-anak Indonesia malas membaca buku. Menurutnya, survei PISA dan CCSU menimbulkan kesimpulan yang salah tentang minat baca orang Indonesia.

"Kawan-kawan di Pustaka Bergerak selalu melihat minat baca dari masyarakat itu tinggi sekali. Begitu disodorkan buku-buku yang sesuai, mereka sangat antusias," katanya menukil Detik.

Menurutnya ada pelbagai faktor yang membuat Anak-anak tidak banyak membaca. Pertama, akses ke buku sulit. Kemudian buku-buku yang ada tidak menarik bagi anak. Lalu yang terakhir minimnya peran pemerintah.

Pemerintah sendiri sudah melakukan berbagai kampanye seperti Gerakan Literasi Nasional yang digagas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sejak 2016. Tapi hal ini terhambat oleh terbatasnya akses ke perpustakaan dan buku bacaan yang berkualitas.

Menurut laporan dari Perpustakaan Nasional tercatat perpustakaan yang ada di Indonesia saat ini baru mencapai 154.000 atau hanya memenuhi 20 persen dari kebutuhan nasional.

Kekurangan perpustakaan ini terdiri di antaranya dari perpustakaan umum (baru 26 persen dari kebutuhan 91.000) dan perpustakaan sekolah (baru 42 persen dari kebutuhan 287.000)

Minimnya akses terhadap perpustakaan juga terasa hingga level kecamatan. Dari total kebutuhan 7.094 perpustakaan kecamatan di seluruh Indonesia, baru terpenuhi sekitar 6 persen atau 600 perpustakaan yang letaknya masih terpusat di Pulau Jawa.

Hal ini membuat akses masyarakat terhadap perpustakaan dan buku di daerah luar Jawa masih sulit. Masalah minimnya jumlah perpustakaan juga diperparah dengan sedikitnya jumlah buku bacaan yang berkualitas.

Bedasarkan survei dari Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI), program kemitraan Pemerintah Australia dengan Indonesia. Memberikan gambaran tentang kondisi literasi di masyarakat.

Di Kalimantan Utara, meskipun 80% anak mengaku suka membaca, namun bahan bacaan mereka didominasi oleh buku pelajaran (67 persen). Hanya sedikit dari mereka yang membaca buku cerita (13 persen) atau buku pengetahuan umum (2 persen).

Pemerintah sendiri telah melaksanan berbagai program untuk mendongkrak angka literasi. Seperti menjalankan program pengiriman buku gratis tiap tanggal 17 melalui Kantor Pos (PT Pos Indonesia).

Disayangkan program itu berhenti karena persoalan biaya. Padahal menurut catatan, PT. Pos Indonesia sudah menyalurkan 42.000 ton buku gratis sejak program tersebut diluncurkan pada 2017.

Kebijakan ini seharusnya tetap dijalankan karena program saling kirim buku ke taman bacaan pelbagai daerah mampu menumbuhkan nasionalisme.

Anak-anak Papua yang mendapat kiriman buku dari Aceh, atau orang Manado yang mendapat kiriman buku dari Malang, bisa mempunyai bayangan kebangsaan karena saling terhubung lewat buku.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini