Mau WFH Seterusnya? Ini yang Perlu Anda Siapkan

Mau WFH Seterusnya? Ini yang Perlu Anda Siapkan
info gambar utama

Salah satu perubahan yang dibawa oleh gelombang pandemi Covid-19 adalah bekerja dari rumah. Istilah kerennya: work from home disingkat WFH. Ya, karena kita harus membatasi mobilitas dan berkumpulnya orang, salah satunya di kantor, kita harus bekerja dari rumah.

Sebenarnya, WFH sudah lama ada dalam dunia kerja. Mereka yang memilih sebagai pekerja lepas (freelance) terutama di bidang kreatif, seperti seni, desain grafis, atau menulis, telah terbiasa dengan metode bekerja seperti ini.

Setelah lebih dari satu tahun bekerja di rumah, kini muncul perbincangan bahwa model WFH ini bisa dilanjutkan pada masa pasca-pandemi. Bayangkan berapa banyak jam terbuang di jalan dan macet bisa dihemat, ketika sebenarnya bisa langsung membuka laptop atau gawai di rumah untuk kemudian langsung bekerja.

Work from home juga membuat kita belajar bedanya bekerja dan ngantor. Bekerja tidak perlu ngantor, kehadiran di kantor tidak lagi jadi yang utama ketika kita bisa menghasilkan output dari mana saja. Batas antara "di rumah" dan "bekerja" menjadi nisbi.

Pendek kata, bekerja dari rumah atau dari kantor, akan sama baiknya ketika output yang dihasilkan bakal optimal.

Hasil penelitian soal WFH

Sejumlah riset menunjukkan manfaat bekerja di rumah. Penelitian dari perusahaan konsultan Global Workplace Analytics, seperti dikutip Aline Holzwarth, kontributor Forbes (16/2/2021), mengungkapkan alasan mengapa masyarakat Amerika Serikat memilih WFH.

Beberapa alasannya adalah:

  • Keseimbangan bekerja dan berkehidupan, atau dengan kata lain work-life balance yang memberikan persentase sebesar 91 persen,
  • Meningkatnya produktivitas dan fokus yang lebih baik (79 persen),
  • Berkurangnya tingkat stres (78 Persen), dan
  • Menghindari perjalanan ke kantor atau commuting (78 persen).

Namun, ada juga catatan tentang sisi negatif bekerja di rumah terutama soal berkurangnya interaksi dengan rekan kerja, yang biasanya penting untuk menjawab masalah-masalah praktis dan pengambilan keputusan tingkat tertentu.

Artinya, tidak semua masalah harus dibahas saat rapat. Sementara dalam WFH, kita harus mencocokkan waktu sebelum bertemu. Begitu juga, tidak semua masalah nyaman dan tuntas dibicarakan via telepon.

Begitu juga risiko kesehatan karena kurangnya bergerak dan tubuh kita menetap dalam posisi atau postur tertentu, atau sirkulasi udara yang terbatas. Begitu juga kelelahan dan kebosanan Dalam jangka panjang ini bisa membawa masalah kesehatan fisik dan kejiwaan.

Salah satu masalah kesehatan yang terkait soal WFH ini adalah Zoom fatigue. Anda bisa membaca artikelnya secara lengkap di sini.

Work-life balance
info gambar

Lalu, apa yang harus disiapkan?

  • Rutinitas pagi

Jessica Thiefels di majalah Fast Company (23/4) menjelaskan rutinitas dan ritual pagi sangat penting agar hari kita bekerja di rumah produktif. Jangan sampai pagi kita hanya habis oleh rebahan dan scrolling media sosial di gawai. Juga tidak disarankan memulai pagi dengan bekerja dengan komputer di tempat tidur.

Beberapa ritual pagi yang bisa diterapkan untuk memicu energi kita mencakup mengganti pakaian dengan baju kerja, tetap berinteraksi dengan teman dan keluarga untuk mencegah isolasi sosial, serta membuat jurnal atau daftar tujuan setiap hari.

  • Buat ruang kerja di dalam rumah

Kesadaran ruang antara kantor yang artinya publik dan rumah sebagai ruang privat sudah masuk ke dalam pikiran dan pola hidup kita. Agar pikiran kita jernih dan tidak "butek" karena selalu melihat meja makan yang berantakan oleh urusan pekerjaan, ada baiknya kita membuat sebuah ruang yang didedikasikan untuk ruang kerja. Minimal, sebuah meja kerja dengan peralatan kantor yang memadai.

Ini penting untuk meminimalkan distraksi dan menambah produktivitas kita.

  • Disiplin dan motivasi diri

Ketika bekerja di rumah, tidak ada kartu yang mencatat jam berapa kita hadir, atau atasan yang mengawasi. Bagaimana kita memanfaatkan waktu dalam sehari sangat tergantung pada diri kita sendiri.

Di sinilah dibutuhkan disiplin agar waktu kita termanfaatkan dengan baik. Jangan sampai kita merasa burnout karena pekerjaan kita tak kunjung selesai hingga malam, padahal itu disebabkan oleh banyaknya gangguan dan lemahnya fokus.

Memang, menonton web series atau drakor lebih menyenangkan daripada memeriksa Excel atau membuat report, bukan?

Disconnection
info gambar

Selain koneksi, kita membutuhkan diskoneksi

Bekerja jarak jauh sangat identik dengan koneksi internet sebagai sarana komunikasi kita. Tapi, selain koneksi, kita juga butuh diskoneksi. Apa maksudnya?

Seperti bekerja secara ngantor, kita perlu ada waktu yang jelas untuk beristirahat bahkan menegaskan pekerjaan kita selesai pada hari itu dan “kembali” ke rumah. Disiplin sangat dibutuhkan untuk mengatur waktu, mulai dari kapan kita harus rehat, makan, dan menyelesaikan pekerjaan. Kita tidak ingin sepanjang hari hingga malam terpaku di depan laptop, apalagi sampai lupa makan.

Dengan rumah dan tempat kerja berada di tempat yang sama, sangat mudah bagi kita untuk kehilangan batas. Padahal, batas itu kita perlukan untuk kesehatan dan produktivitas. Di sinilah kita harus mampu melakukan diskoneksi dengan pekerjaan dan fokus pada kehidupan di rumah.

Sebaliknya, jika kita “selalu on” dengan pekerjaan kita, dengan cepat kita akan merasa burnout, stres, dan memicu ketidakpuasan. Kita harus mampu menarik garis batas yang jelas sehingga kita fokus, baik fokus dalam bekerja, maupun fokus pada keluarga dan kehidupan pribadi kita.

Sudah siap WFH seterusnya?

Referensi: Aline Holzwarth, “Remote Work Is (Mostly) Here To Stay” (Forbes.com, 16 Februari 2021) | Jessica Thiefels, “6 things you must do if you’re palling to work remotely permanently”, (fastcompany.com, 23 April 2021)

Baca juga:

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dadi Krismatono lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dadi Krismatono.

DK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini