Apa Itu ''Zoom Fatigue'' dan Dampaknya Bagi Kesehatan

Apa Itu ''Zoom Fatigue'' dan Dampaknya Bagi Kesehatan
info gambar utama

Kawan GNFI, pandemi Covid-19 memang telah mengubah kebiasaan manusia seantero jagat. Banyak kegiatan atau aktivitas yang dilakukan mulai dari belajar, rapat, dan bekerja yang dilakukan tak lagi dengan tatap muka, tapi dilakukan secara daring (online).

Aktivitas melalui sarana video konferensi memang tercatat meningkat pesat selama pandemi Covid-19. Hal ini sejalan dengan pelaksanaan bekerja dan belajar dari rumah (WFH dan PJJ), serta peralihan kegiatan komunikasi lainnya ke forum online.

Masyarakat pun mulai akrab dengan ragam platform yang menyediakan layanan video konferensi, seperti Zoom, Teams, dan Google Meet.

Dalam beberapa catatan lembaga analisis, penggunaan layanan video konferensi Zoom meningkat drastis. Pada kuartal II 2020, layanan ini seperti diberikatan BBC mencatat jumlah pelanggan yang terdongkrak sebesar 458 persen ketimbang periode sama tahun lalu. Pendapatan aplikasi ini juga melonjak sebesar 355 persen, menjadi 663,5 juta dolar AS per akhir Juli 2020 lalu.

Teams yang dikembangkan Microsoft, juga mencatat peningkatan jumlah pengguna aktif harian sebanyak 75 juta per April 2020 lalu. Bahkan menurut hitungan Business of Apps, platform Teams digunakan sebanyak 30 persen oleh pengguna Office 365, sehingga menghasilkan 5-10 miliar dolar AS untuk pundi perusahaan raksasa itu.

Sementara bagi pengguna platform Google Meet, dilaporkan ada penambahan sekitar 3 juta pengguna baru saban harinya. Berdasarkan data pada April 2020, CEO Google Sundar Pichai, melaporkan ada lebih dari 100 juta peserta rapat melalui Google Meet setiap harinya.

Alphabet, perusahaan induk Google melaporkan bahwa layanan video konferensi itu mencatat laba sebesar 6,8 miliar dolar AS dari pendapatan Google secara keseluruhan yang mencapai 41,2 miliar dolar AS pada kuartal I 2020. Demikian tulis The Verge.

Apa itu Zoom Fatigue?

Aktivitas video konferensi meski terkesan ringan dan hanya perlu dilakukan dengan menghadap layar komputer atau ponsel, akan tetapi jika terlalu sering dilakukan dapat berdampak pada kelelahan akut.

Seperti dijelaskan National Geographic dan Ideas Ted, fenomena itu disebut sebagai Zoom Fatigue. Namanya--Zoom--merujuk ke platform video konferensi yang paling populer digunakan, meski bisa juga terjadi pada pengguna aplikasi sejenis lainnya.

Menurut Anggota Dewan Pimpinan American Psychological Association (APA) Brian Wind, hal ini disebabkan proses interaksi yang jauh berbeda ketika seseorang melakukan video konferensi ketimbang dengan pertemuan antar-muka secara langsung. Ia mengatakan dalam laman Healthline, ada sejumlah faktor yang membuat kelelahan itu terjadi.

Dalam paparan itu, Wind menjelaskan bahwa ketika seseorang sedang melakukan aktivitas video konferensi, maka otak harus bekerja ekstra keras agar dapat memproses informasi yang begitu banyak, lantaran harus fokus kepada setiap orang yang ada dalam rapat online itu.

''Saat kita berinteraksi dengan orang secara langsung, kita tak hanya mendengarkan suara mereka dan melihat wajah mereka, kita juga menangkap isyarat sosial, seperti gerakan tangan, gerakan tubuh, dan bahkan energi seseorang,'' jelas Wind.

Lain itu, beberapa faktor teknis lainnya juga dapat mengalihkan fokus seseorang dalam video konferensi, mulai dari latar suara para peserta yang tentunya mengusik peserta lainnya. Sebuah situasi yang tak ada di tempat kerja ketika sedang melakukan rapat atau meeting.

Faktor penggunaan kamera sepanjang video konferensi juga dianggap turut andil menyebabkan munculnya Zoom Fatigue. Hal itu dapat memicu psikologis seseorang mengalami kecemasan berlebihan pada sat dirinya secara intens menjadi perhatian banyak orang.

Semua kondisi ini, sambung Wind, akan menyebabkan seseorang merasa lebih kewalahan, kelelahan, dan mudah tersinggung. Jika pola ini terus menerus terjadi, tak dimungkiri bisa memicu stres serta berdampak bagi kesehatan fisik seseorang.

Apa kata psikolog?

Sementara menurut Psikolog Diana Concannon yang dipapar BBC, video konferensi juga menimbulkan efek ''keterpaksaan'' tampil kepada penggunanya. Praktik macam ini kata Concannon, membutuhkan lebih banyak energi ketimbang interaksi secara langsung.

Video konferensi juga menuntut pengguna untuk konsentrasi penuh pada komunikasi, meskipun aktivitas ini bisa dilakukan bersamaan dengan kegiatan lain.

Sementara, Asisten Profesor di Sekolah Bisnis Insead Prancis, Gianpiero Petriglieri, ia mengatakan kelelahan itu disebabkan karena seluruh aspek kehidupan yang dulunya terpisah seperti pekerjaan, teman, dan keluarga, sekarang melalui proses interaksi dengan cara yang sama.

Pentingnya pembatasan

Meskipun keadaan saat ini memaksa aktivitas video konferensi terus berjalan, Wind mengatakan bahwa fenomena Zoom Fatigue bisa dicegah dengan membatasi waktu menjalani aktivitas video konferensi. Ia menegaskan, mereka yang rutin melakukan aktivitas ini, harus tahu kapan waktu untuk rileks dan istirahat.

Lain itu, kuantitas atau durasi video konferensi juga harus berimbang antara waktu berkerka dan berkegiatan di rumah (diluar WFH). Sebab dengan adanya pola WFH, banyak orang merasa bisa melakukan video konferensi kapan saja tanpa kenal waktu.

Meskipun keadaan mengharuskan segala aktivitas dilakukan melalui perangkat digital dari rumah, namun tingkat stres harus tetap dapat diminimalkan. Pendek kata, banyak hal yang bisa dilakukan di rumah selain memantengi layar komputer dan perlunya istirahat yang cukup.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini