Lebaran Ketupat, Tradisi Syawalan dan Mitos Hidangan untuk Anak yang Meninggal

Lebaran Ketupat, Tradisi Syawalan dan Mitos Hidangan untuk Anak yang Meninggal
info gambar utama

Pasar 17 Agustus, Pamekasan, Jawa Timur, terlihat pedagang membuat cangkang ketupat, Rabu (19/5/2021). Dilansir dari Republika, menjelang Lebaran Ketupat permintaan cangkang yang dijual Rp5.000 per ikat isi 10 buah itu, meningkat hingga lima kali lipat dibanding Idul Fitri lalu.

Memang sebagian masyarakat suku Jawa merayakan lebaran sebanyak dua kali, yakni lebaran hari raya Idulfitri pada tanggal 1 Syawal dan lebaran ketupat pada 8 Syawal atau sepekan setelah perayaan Idul Fitri.

Bagi mereka Lebaran Ketupat tidak hanya menjadi acara untuk makan bersama keluarga. Tapi juga memiliki nilai-nilai filosofis yang patut dipertahankan.

Keraton Kasepuhan Kota Cirebon, salah satu yang masih merayakan tradisi lebaran ketupat. Lebaran ketupat dirayakan setiap 8 Syawal atau seminggu setelah Idul Fitri.

‘’Saat Idul Fitri kami belum makan ketupat. Baru saat lebaran ketupatlah, kami makan ketupat,’’ ujar Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan, PRA Arief Natadiningrat yang dikutip dari Republika.

Baca jugaInilah Makna Ketupat dan Lebaran Ketupat di Indonesia

Sultan Sepuh mengatakan, lebaran ketupat merupakan wujud rasa syukur setelah menjalankan puasa sunah syawalan enam hari. Selain itu makanan ketupat juga memiliki nilai filosofi sendiri.

Parafrase kupat adalah ngaku lepat atau mengaku bersalah. Sedangkan janur atau daun kelapa yang membungkus ketupat merupakan kependekan dari kata jatining nur yang bisa diartikan hati nurani.

Secara filosofis, beras yang dimasukan dalam anyaman ketupat menggambarkan nafsu duniawi.

‘’Dengan demikian, bentuk ketupat melambangkan nafsu dunia yang dibungkus dengan hati nurani,’’ kata Sultan Sepuh.

Selain itu bentuk ketupat yang berbentuk persegi diartikan sebagai papat limo pancer. Papat dimaknai sebagai simbol empat penjuru mata angin utama, yakni timur, barat, selatan, dan utara.

‘’Artinya, ke arah manapun manusia akan pergi, ia tak boleh melupakan pancer (arah) kiblat atau arah kiblat (sholat),’’ tegas Sultan Sepuh.

Lalu proses pembuatan anyaman janur menjadi simbol kompleksitas masyarakat. Anyaman yang melekat satu sama lain menjadi anjuran agar selalu menjaga silaturahmi tanpa memandang status sosial.

Tradisi yang diperkenalkan oleh Sultan Kalijaga

Pada masa lalu lebaran ketupat merupakan sebuah tradisi memuja Dewi Sri, Dewi Pertanian dan Kesuburan. Dewi Sri dianggap sebagai pelindung kelahiran, kehidupan, kekayaan, dan kemakmuran.

Ketika ajaran Islam mulai masuk ke Indonesia, tradisi tersebut mengalami akulturasi dan pengubahan makna.

Dewi Sri tak lagi dipuja sebagai dewi padi atau kesuburan, tapi hanya sebagai simbol yang direpresentasikan dalam bentuk ketupat yang bermakna ucapan syukur kepada Tuhan.

Dilansir dari NU, perubahan ini dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Saat itu, Ia memperkenalkan dua istilah Bakda kepada masyarakat Jawa, Bakda Lebaran dan Bakda Kupat.

Bakda Lebaran dimulai dari prosesi pelaksanaan salat Ied satu Syawal hingga tradisi saling kunjung dan memaafkan sesama muslim. Sementara Bakda Kupat dirayakan seminggu sesudah Lebaran.

Saat Lebaran Ketupat, masyarakat muslim Jawa umumnya membuat ketupat, yaitu jenis makanan yang dibuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman daun kelapa (janur) yang dibuat berbentuk kantong, kemudian dimasak.

Setelah masak, ketupat tersebut diantarkan ke kerabat terdekat dan kepada mereka yang lebih tua. Tujuan Lebaran Ketupat adalah sebagai simbol kebersamaan dan lambang kasih sayang.

Selain itu masyarakat memaknai Lebaran Ketupat bukan sekadar hari besar keagamaan. Lebaran Ketupat punya arti khusus bagi seseorang yang anaknya meninggal.

“Jadi orang zaman dulu juga menyiapkan untuk anaknya yang sudah meninggal. Kalau Lebaran kan biasanya pada pulang,” terangnya.

Baca jugaKiat Memasak Ketupat Mudah, Lembut, dan Tak Cepat Basi untuk Pemula

Sri Kusmiyati pedagang lontong dan ketupat di Pasar Karang Ayu Semarang yang dikutip dari Ayosemarang.

Selain ketupat, orang tua yang masih hidup wajib menyediakan lepet. Yakni sejenis makanan yang berbahan baku beras ketan yang dicampur kacang kemudian dimasak dengan santan.

Sebab di dunia lain, konon lepet ini jadi sejenis mainan. Jika tidak disediakan, anak-anak tersebut akan bersedih.

“Kasihan, nanti (arwah) anak-anak yang lain pada punya kok anak kita nggak punya. Melaske nanti nangis,” tambahnya.

Namun, Ia menyimpulkan berbagai mitos itu sebetulnya bisa dimaknai dengan maksud lain. Yakni sebagai bentuk doa, bagi anggota keluarga yang sudah meninggal.

“Orang tua zaman dulu kan bentuk pengungkapannya beda-beda. Jadilah ada mitos seperti itu,” pungkasnya.

Tradisi Lebaran Ketupat di berbagai daerah

Dilansir dari Kompas, ketupat di Idul Fitri dan ketupat di tradisi Syawalan memiliki sedikit perbedaan di dalam ukuran.

Ketupat Syawalan memiliki ukuran sedikit lebih kecil daripada ketupat Lebaran. Hal ini dikarenakan ketupat Syawalan bukan untuk dimakan beramai-ramai oleh seluruh keluarga besar, melainkan untuk dibagi-bagikan sebagai hantaran untuk kerabat.

Tradisi Syawalan beraneka rupa. Ada yang memodifikasi sajian ketupatnya, berziarah ke tokoh agama atau ulama juga leluhur, arak-arakan, lomba naik perahu, dan masih banyak lagi.

Di Semarang ada tradisi berebut ketupat urap, dinamakan kupat tauge ini unik, berbeda dengan tampilan ketupat di wilayah lain. Ketupat ala semarangan ini setelah matang akan dibelah menjadi dua secara diagonal, kemudian di tengah-tengahnya diisi dengan urap sayuran.

Tradisi berebut kupat tauge ini sudah ada sejak tahun 1950-an, tepatnya selepas perang dunia kedua dan Belanda menginvasi wilayah Semarang.

Baca juga12 Bentuk Ketupat Asli Indonesia. Yuk, Buat

Tidak hanya di Jawa, Syawalan di Lombok, Nusa Tenggara Barat, dinamakan Lebaran Topat yang diisi dengan tradisi Nyangkar.

Nyangkar adalah tardisi turun-temurun Suku Sasak dalam merayakan Syawalan, diisi dengan pawai cidomo atau kereta kuda khasnya Lombok. Cidomo sendiri berisi ketupat yang diangkut menuju pusat perayaan Nyangkar di Makam Loang Balog.

Sementara di Gorontalo, awalnya tradisi Lebaran Ketupat hanya dirayakan oleh ‘orang Jaton’ atau sebutan akrab untuk keturunan Jawa-Tondano. Namun, kini hampir semua warga Gorontalo turut merayakan tradisi Lebaran Ketupat.

Menu utama yang disajikan adalah ketupat dan opor ayam. Karena sifatnya open house, jadi siapa saja boleh menikmati hidangan tersebut.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini