Hari Keanekaragaman Hayati Internasional dan Indonesia Sebagai Negara Megabiodiversity

Hari Keanekaragaman Hayati Internasional dan Indonesia Sebagai Negara Megabiodiversity
info gambar utama

Selamat Hari Keanekaragaman Hayati Internasional! Ya, tepat di hari ini tanggal 22 Mei 2021, bukan hanya di Indonesia melainkan juga seluruh negara di dunia sedang memperingati Hari Keanekaragaman Hayati, dikenal juga dengan nama International Day for Biological Diversity atau disingkat Biodiversity Day.

Setiap tahunnya, tema yang diangkat dari hari peringatan internasional ini selalu berbeda, tahun ini slogan ‘We're part of the solution #ForNature’ dipilih untuk memperingati perayaan yang sudah ada sejak tahun 1993 ini.

Fakta menariknya, selama 7 tahun sejak pertama kali ditetapkan oleh PBB, Hari Keanekaragaman Hayati Internasional awalnya bukan diperingati setiap tanggal 22 Mei, melainkan jatuh setiap tanggal 29 Desember, penyertaan tema atau slogan khusus dalam memperingati salah satu hari besar ini juga baru dilakukan pertama kali pada tahun 2002 yang mengangkat tema ‘Dedicated to forest biodiversity’, sebagaimana mengutip situs resmi cbd.int milik Convention on Biological Diversity sebagai salah satu organisasi dari PBB.

Selain itu, PBB melalui situs resminya memberikan penjelasan yang melatarbelakangi pemilihan tema pada perayaan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional di tahun ini, slogan ‘We're part of the solution’ dipilih sebagai kelanjutan dari momentum dan makna slogan pada peringatan di tahun sebelumnya, yaitu ‘Our solutions are in nature’ yang bila dimaknai ke dalam bahasa Indonesia berfungsi sebagai pengingat bahwa alam dan keanekaragaman hayati tetap menjadi jawaban atas tantangan yang dihadapi dunia dalam kehidupan yang berkelanjutan.

Baca juga Selamat Hari Bumi! Yuk, Cari Tahu 6 Startup Indonesia yang Peduli Lingkungan

Makna peringatan Hari Keanekaragaman Hayati

Slogan ‘We’re part of the solution’ di tahun ini menandakan bahwa kita manusia sebagai bagian dari alam juga turut serta berperan dalam solusi yang dimaksud untuk menghadapi kehidupan yang berkelanjutan.

Sama halnya seperti peringatan hari besar Nasional atau Internasional lain, Hari Keanekaragaman Hayati ini juga memiliki makna yang terkandung, sesuai namanya peringatan ini diharapkan bisa menjadi sarana refleksi dan memunculkan kesadaran serta kepedulian kita sebagai manusia terhadap alam dan lingkungan yang selama ini kita tinggali.

Hal sederhana bahkan bisa dimulai dengan membuka pikiran dan bertanya kepada diri sendiri, sudah sejauh mana kita bersyukur atas keanekaragaman hayati yang ada di lingkungan sekitar, hal apa yang sudah kita lakukan untuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati walau berupa langkah kecil sekalipun, dan bagaimana bentuk pertanggungjawaban kita atas keanekaragaman hayati yang selama ini sudah banyak dimanfaatkan supaya tetap bisa dinikmati oleh generasi kita di masa yang akan datang kelak.

Baca juga Kenali 4R untuk Jaga Lingkungan

Keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia

Menjadi salah satu bagian dari edukasi dasar yang sudah pasti didapat oleh hampir seluruh lapisan masyarakat saat bangku sekolah, keanekaragaman hayati merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan bentuk kehidupan di bumi, baik sumber daya alam berupa tumbuhan, hewan, mikroorganisme, yang meliputi jumlah maupun frekuensi dari ekosistem di suatu tempat.

Secara garis besar, ada tiga tingkatan yang umum diketahui dalam keanekaragaman hayati, yaitu tingkat gen, spesies, dan ekosistem. Indonesia lagi-lagi selayaknya berbangga, karena bumi pertiwi ini dinobatkan sebagai Negara Megabiodiversity kedua di dunia. Indonesia masuk dalam jajaran 3 besar dari 10 negara dengan keanekaragaman hayati paling tinggi dunia, berada di antara Brazil di peringkat pertama dan Zaire di peringkat ketiga.

Mengutip Media Indonesia, Sabtu (22/05), Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wulansih Dwi Astuti menjelaskan suatu negara dikatakan sebagai Megabiodiversity apabila memenuhi kriteria memiliki paling sedikit 5.000 spesies tumbuhan endemik dan ekosistem laut pada wilayahnya.

Brazil menduduki peringkat pertama sebagai negara dengan keanekaragaman hayati terbanyak berkat kawasan Rio de Janeiro dan dilewati oleh lintasan sungai Amazon, sementara Indonesia memiliki bentang alam yang mengikuti garis Wallace dan Weber yang membuat keanekaragaman hayati tanah air menjadi sangat tinggi.

Tak menutup kemungkinan bahwa Indonesia sebenarnya ada di peringkat pertama, mengingat proses pengambilan data keanekaragaman hayati yang dilakukan terakhir kali belum mencakup seluruh wilayah secara merata, sehingga masih ada potensi berbagai macam flora dan fauna yang belum terjamah. Terlebih jika data keanekaragaman hayati di daratan digabungkan dengan yang ada di laut, sebagaimana mengutip situs resmi Indonesia.go.id, Sabtu (22/05).

Baca juga Mengenal Flora dan Fauna di Guntur Papandayan

Bicara soal keanekaragaman jenis flora dan fauna yang ada di Indonesia, pada akhir tahun 2018 LIPI mencatat kekayaan keanekaragaman hayati yang ada di tanah air, di antaranya 595 jenis lumut kerak, 1.500 jenis alga, 1.900 jenis kupu-kupu, 2.197 jenis tanaman paku-pakuan, dan 8.157 fauna vertebrata.

Sedangkan dari jenis fauna endemik, Indonesia diperkirakan memiliki 386 jenis burung, 328 jenis reptil, 280 jenis ikan, 270 jenis mamalia, dan 204 jenis amphibia. Tambahan keanekaragaman hayati dari flora endemik pun tidak kalah banyaknya, yaitu 40-50 persen dari total jenis flora di setiap pulau yang ada di Indonesia, dan 23 persen dari total jenis flora yang ada di pulau Sumatra.

Dengan jumlah flora dan fauna sebanyak itu, bukan tidak mungkin kalau saat ini jumlahnya terus bertambah mengingat adanya beberapa penemuan baru terkait penelitian yang terus dilakukan terhadap flora dan fauna serta keanekaragaman hayati lainnya di Indonesia dari waktu ke waktu hingga saat ini.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini