Sering Dikenal dengan Cerita Horornya, Berikut Asal Mula Program KKN Sesungguhnya

Sering Dikenal dengan Cerita Horornya, Berikut Asal Mula Program KKN Sesungguhnya
info gambar utama

Penulis: Habibah Auni

#Writingchallenge#Inspirasidarisekitar#Negerikolaborasi

Dua tahun yang lalu, tepatnya pada 2019, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan cerita horor mengenai program KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Desa Penari. Sebuah kelompok cuitan di Twitter menyebutkan bahwa ada enam orang mahasiswa yang mengikuti kegiatan KKN itu.

Alih-alih mendapatkan pengalaman mengasyikkan, mereka malah menerima malapetaka mengerikan. Dilansir dari Gramedia, keenam mahasiswa ini terpaksa menghadapi serangkaian kejadian mistis nan angker. Dua di antara mereka diketahui telah menjadi korban, lantaran melanggar peraturan di Desa Penari.

Cerita KKN penuh nuansa horor ini pun terangkat ke permukaan, banyak orang-orang yang telah mengikuti program KKN turut mengomentari cuitan ini dan membagikan kisah KKN milik mereka masing-masing. Lantas saja hal ini membuat orang-orang mengidentikkan KKN dengan sesuatu yang berbau horor.

Untuk Kawan yang telah mengikuti KKN, tentu cerita KKN di Desa Penari ini menjadi suatu kesempatan untuk mengingat masa-masa menjalani program KKN. Mulai dari susah senangnya selama mengikuti program KKN, kisah mistisnya, pengalaman berkolaborasi bersama warga desa, dan berbagai pengalaman unik lainnya.

Adapun bagi Kawan yang belum menghadapi program KKN, pasti sudah membayangkan apa saja yang akan dilakukan selama program ini berlangsung. Barangkali ketakutan dengan kisah horor KKN di Desa Penari, atau malah kegirangan karena akan tinggal satu atap dengan mahasiswa-mahasiswa lainnya.

Sebenarnya, apa itu porgram KKN? Apakah program KKN itu selalu horor dan mengerikan? Atau malah hanya sekadar mata kuliah biasa? Tak perlu berlama-lama lagi, berikut asal mula program KKN, dikutip dari berbagai sumber.

Baca Juga: Rekomendasi Tempat Aman dan Aturan Bersepeda di Perkotaan yang Wajib Diketahui

Asal mula adanya program KKN

KKN Mahasiswa UNS | Foto: Republika
info gambar

Program KKN digagas pertama kali oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1951 silam. Pada saat itu, program KKN masih dikenal sebagai Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM), dan melalui program ini, UGM mengirimkan mahasiswanya ke luar pulau Jawa sebagai guru yang mengajar di Sekolah Lanjutan Atas.

Program PTM hanya berlangsung sampai tahun 1962, terhenti, lantaran UGM terkena imbas dari masalah keuangan negara. Kendati demikian, pada 1971 silam, program ini bangkit dari tidurnya dan berganti nama menjadi program KKN.

Oleh Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri, SH, program KKN resmi dicetuskan, sehingga mendorong seluruh mahasiswa UGM untuk mengikutinya. Dengan adanya program KKN, Koesnadi mengharapkan kontribusi mahasiswa UGM bisa memajukan kesejahteraan daerah tujuan.

Baca Juga: Legenda Situ Bagendit, Bermula dari Wanita Kikir Hingga jadi Danau Indah

Tidak hanya UGM, universitas-universitas lain juga dijadikan perintis kegiatan KKN, seperti Universitas Andalas (wilayah barat) dan Universitas Hasanuddin (wilayah timur). Satu tahun berikutnya, yakni pada 1972, program KKN diperluas ke 10 universitas lain, seperti Universitas Syah Kuala, Universitas Sumatera Utara, Universitas Sriwijaya, Universitas Padjajaran, Universitas Brawijaya, Universitas Diponegoro, Universitas Udayana, Universitas Lampung, Universitas Pattimura, dan Universitas Sam Ratulangi.

Setelah itu, program KKN, terutama di UGM, telah mengalami perubahan mengikuti tuntutan zaman. Mulai dari tahun 1979, di mana KKN di UGM menjadi wajib diikuti lantaran adanya paradigma “Development”. Kemudian pada 1999, di mana KKN Reguler berubah menjadi KKN Tematik. Hingga pada 2006, program KKN Tematik menjadi KKN PPM (Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat), yang berlangsung hingga detik ini.

Yang jelas, perubahan program KKN Tematik menjadi KKN-PPM dilandasi dengan semangat perubahan paradigma, yakni paradigma pembangunan menjadi pemberdayaan. Sehingga, pelaksanaan program KKN-PPM diharapkan dapat mengacu pada data di lapangan dan mampu menyelesaikan persoalan pelik di lingkungan masyarakat setempat.

Bukti kesuksesan program KKN

Program KKN tidak sekadar mata kuliah yang harus dianggurkan, sehingga tidak terlalu memedulikan interaksi mahasiswa KKN dengan masyarakat setempat. Buktinya, ada suatu kisah perjuangan seorang mahasiswa IPB dengan kesuksesannya menjalani tri dharma perguruan tinggi.

Ialah Muhammad Kasim Arifin, seorang mahasiswa Fakultas Pertanian IPB yang tidak berniat pulang setelah menempuh program KKN. Kasim dikabarkan telah mengabdi di daerah program KKN-nya di Waimital, Pulau Seram, Maluku selama kurang lebih 15 tahun.

Selama menyerahkan hidupnya untuk kesejahteraan masyarakat setempat, Kasim tidak tinggal diam begitu saja. Dilansir dari Suara.com, Kasim diketahui telah berkontribusi dalam mengembangkan daerah itu, mulai dari memperkenalkan program Panca Usaha Tani, membangun sawah, membuat irigasi, membuka jalan, dan berbagai kebaikan lainnya. Semua itu dilakukan Kasim tanpa bantuan biaya dan tenaga dari pihak mana pun.

Berkat kontribusi mulianya ini, Kasim diberikan gelar sebagai Antua oleh warga setempat. Panggilan ini ditujukan untuk salah satu orang yang dihormati di Maluku.

Kasim pun mendapatkan gelar dari kampus IPB, sebagai penyandang titel insinyur pertanian istimewa tanpa perlu menjalani skripsi dan ujian. Ini merupakan gelar istimewa yang layak dibawa oleh Kasim, setelah pengabdiannya yang begitu lama dan tanpa mengenal lelah apalagi meminta belas kasihan.

Baca Juga: Kisah Ali Topan, Anak Jalanan Jakarta Era 70-an

Program KKN kini

KKN Mahasiswa UBB | Foto: Tropis.co
info gambar

Dewasa ini, program KKN semakin berkembang dan tidak lagi bersifat kaku, tidak harus diikuti oleh sekelompok mahasiswa dengan anggota-anggota dari universitas yang sama. Buktinya, sejak tahun 2013, muncul program bernama KKN Kebangsaan dengan anggota-anggotanya merupakan berbagai mahasiswa dari universitas yang berbeda.

Adapun program KKN Kebangsaan dipelopori oleh tiga pihak universitas dan satu pihak pemerintahan. Yaitu oleh UGM, Universitas Hasanuddin, dan Universitas Andalas, serta Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.

Itulah sejarah kemunculan program KKN. Setelah dibaca kembali, ternyata tidak ada sangkut-paut antara program KKN dengan cerita horor, ya? Apakah Kawan yang masih mahasiswa semakin penasaran dan ingin mengikuti program KKN di kampus masing-masing?*

Referensi:Gramedia.com | KKN-PPM UGM | Kontan.co.id | Suara.com | Web Blog KKN Unsyiah

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

KO
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini