Pabrik Colomadu, Warisan Industri Gula Mangkunegaran yang Terbesar di Asia

Pabrik Colomadu, Warisan Industri Gula Mangkunegaran yang Terbesar di Asia
info gambar utama

Bekas Pabrik Gula Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah, menjadi salah satu destinasi favorit bagi mereka yang sedang berkunjung ke Surakarta. Para pengunjung bisa mengenang perjalanan pabrik gula di Jawa Tengah itu.

Tempat ini memiliki sejarah 157 tahun dan telah berhenti beroperasi sejak tahun 1998. Setelah kosong selama 20 tahun, kini pabrik tersebut telah dialihfungsikan menjadi cagar budaya kontemporer tanpa menghilangkan unsur sejarah De Tjolomadoe.

Di Tjolomadoe mengambil dari istilah Colomadu yang mempunyai arti gunung madu. Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegoro IV menjadikan pijakan untuk mendirikan pabrik gula (PG) Colomadu di Desa Malangjiwan pada tahun 1861.

Pada masa itu, industri perkebunan tebu yang menghasilkan gula merupakan salah satu komoditas ekspor internasional. Tebu juga terbiasa ditanam di tanah-tanah Mangkunegaran. Namun, sebagian besar pemilik pabrik gula adalah perusahaan Eropa dan orang Tionghoa. Hanya ada dua pabrik gula di Solo yang dimiliki oleh seorang raja Jawa, yaitu KGPAA Mangkunegara IV.

Baca juga Perjalanan Ke Masa Lampau Di Masa Kini Eks Pabrik Gula Colomadu

Pabrik Gula itu adalah PG Tasikmadoe dan PG Tjolomadoe di Karanganyar. Sekarang, PG Tasikmadoe masih beroperasi sedangkan PG Tjolomadoe sudah jadi museum dan tempat wisata. Pabrik gula di sana juga merupakan simbol kemajuan perekonomian Praja Mangkunegaran, salah satu kadipaten di Surakarta.

Dalam buku "Sejarah Panjang Mataram", disebutkan pada 1857-1877 Raja Praja Mangkunegaran, Mangkunegara IV, tak bisa mendapatkan kembali perkebunan yang telah disewa oleh pengusaha Eropa.

Kemudian, ia berpikir untuk mengganti sistem apanage atau tanah lungguh para abdi dalem dan pejabatnya dengan sistem gaji. Dari tanah apanage tersebut, dikembangkan perkebunan yang ditanami tanaman komoditas ekspor.

Salah satunya adalah dengan menanam tanaman tebu serta mendirikan pabrik gula. Pendirian itu juga dimaksudkan untuk menghasilkan uang yang diperlukan demi membayar utang praja Mangkunegara III terhadap pemerintah Hindia Belanda.

"Pabrik gula dipilih karena gula itu komoditas mewah. Seperti emas," kata Heri Priyatmoko sejarawan Surakarta, mengutip Lokadata.

Pabrik gula bukti pribumi bisa berbisnis

Mangkunera IV membangun pabrik gula ini dengan modal 400 ribu gulden yang berasal dari pinjaman pengusaha Semarang, Be Biaw Tjwan. Pembangunannya diserahkan pada R. Kampf, seorang Eropa berkembangsaan Jerman yang kemudian ditunjuk Mangkunegara IV sebagai administratur setelah PG Colomadu beroperasi.

KGPAA Mangkunegara IV juga mendatangkan mesin-mesin dari Eropa untuk PG Tjolomadoe. Pabrik ini kemudian menarik perhatian banyak pihak, banyak tamu dari luar Solo yang ingin berkunjung.

Bahkan dalam sebuah media massa saat itu, PG Colomadu disebut sebagai salah satu pabrik termodern di Jawa. Panen pertama tahun 1863 dilakukan di 135 sawah yang ditanami tebu di pundak mereka, dan menghasilkan 6.000 dermaga gula.

Angka produksi pada saat itu sangat cocok dengan skala ini, karena dapat menyamai produksi gula rata-rata per pikul di Jawa. Selain untuk konsumsi pribadi, gula juga dijual ke Belanda, Singapura, dan Bandanella. Bahkan saat itu, pabrik gula ini bisa dikatakan menjadi yang terbesar di Asia.

Baca jugaTemanten Tebu; Upacara Adat Memulai Musim Giling Tebu

Mangkunegara IV menggunakan dana hasil penjualan pabrik gula Colomadu untuk membayar karyawan, merenovasi Puro Mangkunegaran, membangun sekolah umum, serta membangun sarana dan jalan irigasi. Puncak produksinya terjadi di tahun 1936 yang menghasilkan gula hingga 219.000 kuintal.

Kekayaan Mangkunegara IV meningkat pesat berkat manisnya gula, sekaligus menjadikannya pengusaha pribumi paling kaya saat itu. Karena pada abad ke-19, pengusaha pribumi terbilang masih bisa dihitung dengan jari.

Ketimbang mengelolanya sendiri, kebanyakan bangsawan Jawa saat itu lebih memilih menyewakan tanahnya kepada pengusaha Eropa dan keturunan etnis China. Hal ini juga sanggup mengikis tudingan pemerintah kolonial bahwa pribumi adalah pemalas.

"Jadi itu revolusi mental yang dilakukan Mangkunegara IV, jauh sebelum Presiden Jokowi," kata Heri.

Jatuh bangun pabrik gula

Keuntungan yang besar, membuat Mangkunegara IV berinisiatif membangun pabrik gula baru lagi. Maka pada tahun 1871, berdirilah PG Tasikmadu yang letaknya tak jauh dari PG pertama.

Dengan demikian, ada dua pabrik gula yang menopang perekonomian Paraja Mangkunegaran. Pendirian pabrik kedua melengkapkan kosmologi Jawa yang menyandingkan gunung dan laut sebagai perlambang doa sekaligus keseimbangan perekonomian.

"Kalau hanya Colomadu akan kerepotan. Penumpukan kekayaan hanya di situ terus," kata Heri seraya menambahkan bahwa secara literal, Colo berarti gunung, Tasik bermakna laut, dan Madu mewakili manis.

Semula industri gula Mangkunegaran merupakan industri gula milik pribadi keluarga Mangkunegara IV. Industri itu diubah menjadi perusahaan praja pada masa menjelang wafatnya Sri Mangkunegara IV.

Pertimbangan saat itu untuk pengembangan lebih lanjut dan keuntungan yang lebih besar bagi kemakmuran Praja Mangkunegaran. Namun, setelah melalui pasang surut, pada awal abad ke-20 pengelolaan industri gula Mangkunegaran berada di tangan komisi pengawas (commissie van beheer).

Baca juga Jaya Pada Masanya, Indonesia Pernah Menjadi Eksportir Gula Terbesar Kedua di Dunia

Pada masa pendudukan Jepang, manajemen pabrik gula kemudian berubah total. Lembaga commissie van beheer dianggap berbau Belanda dan diubah namanya menjadi Perusahaan Perkebunan Mangkunegaran (PPMN).

Jabatan superintenden yang semula dijabat orang Belanda, kemudian diganti oleh orang Indonesia. Demikian juga dengan administratur dan karyawan pabrik gula.

Pada 1947, pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah No.9 yang memuat tentang Perusahaan Perkebunan Republik Indonesia (PPRI) sehingga Pabrik Gula Colomadu menjadi milik pemerintah Republik Indonesia.

Seiring dengan merosotnya hasil produksi dan berkurangnya lahan tanaman tebu, pada 1 Mei 1997 Pabrik Gula Colomadu melakukan penggilingan terakhir dan berhenti beroperasi.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini