Mengenal Kepulauan Sangihe, Permata di Ujung Utara Indonesia

Mengenal Kepulauan Sangihe, Permata di Ujung Utara Indonesia
info gambar utama

Terletak di ujung utara Indonesia, berdiri sebuah kabupaten yang tengah menjadi perbincangan hangat terkait isu tambang emas. Wilayah ini menyimpan banyak potensi, mulai dari pariwisata, kekayaan biota hingga sumber daya alam (SDA) berupa cadangan emas yang diperkirakan jumlahnya melimpah ruah.

Meskipun lokasinya berada wilayah terluar Nusantara, namun kabupaten ini memiliki potensi yang amat bernilai bak permata di ujung utara Indonesia.

Namanya Kepulauan Sangihe, secara admisitratif kabupaten ini masuk wilayah Provinsi Sulawesi Utara. Kabupaten ini berasal dari pemekaran Kabupaten Kepulauan Sangihe dan Talaud pada tahun 2000.

Sangihe terdiri dari 105 pulau (27 pulau berpenghuni dan 78 pulau tidak berpenghuni) dan 15 kecamatan. Ibu kota Kabupaten Kepulauan Sangihe adalah Tahuna. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.013 kilometer persegi, dan berpenduduk sebanyak 139.262 jiwa (data BPS 2020).

Kabupaten Kepulauan Sangihe terletak di antara Pulau Sulawesi dengan Pulau Mindanao, Filipina, serta berada di bibir Samudera Pasifik. Wilayah kabupaten ini meliputi 3 klaster, yaitu Klaster Tatoareng, Klaster Sangihe dan Klaster Perbatasan, yang memiliki batas perairan internasional dengan provinsi Davao del Sur, Filipina.

Kekayaan Alam Sangihe

Biji emas, salah satu kekayaan yang terkandung di dalam perut bumi Kepulauan Sangihe | Panawit/Shutterstock
info gambar

Kabupaten Kepulauan Sangihe memiliki kekayaan alam berupa Gunung Api Bawah Laut, yaitu Gunung Api Banua Wuhu di Pulau Mahengetang, dan 6 Gugusan Gunung Api Kawio Barat.

Wilayah kepulauan itu juga dihuni berbagai macam hewan, anggrek, kupu-kupu, serta biota bawah laut. Terdapat pula burung langka seriwang sangihe, atau yang disebut masyarakat lokal sebagai manu' niu. Burung itu hanya ada di Pulau Sangihe.

Burung endemik ini sempat dianggap punah selama seratus tahun, sampai sekitar 20 tahun lalu, ketika mereka terlihat kembali. Kendati demikian, burung berukuran sekitar 18 sentimeter, berwarna kebiruan dan pemakan serangga ini jumlahnya kini kritis dan semakin terancam akibat rencana eksploitasi emas yang berpotensi menghancurkan hutan tempat mereka tinggal.

Jika itu terjadi, tak hanya manu' niu yang terancam punah. Masih ada sembilan jenis burung endemik lainnya, empat berstatus kritis dan lima lainnya rentan, yang hidup di wilayah hutan lindung Gunung Sahendaruman, Kepulauan Sangihe, yang juga turut terancam.

Selain itu, wilayah Kepulauan Sangihe juga mengandung kekayaan alam berupa emas yang jumlahnya diperkirakan mencapai ratusan ribu ons.

Berdasarkan hasil eksplorasi perusahaan di Binebas dan Bowone, menurut sumber daya terunjuk terdapat potensi 114.700 ons emas dan 1,9 juta ons perak. Ditambah, 105.000 ons emas dan 1,05 juta ons perak berdasarkan sumber daya tereka.

Sementara itu, menurut keterangan resmi dari PT Tambang Mas Sangihe (TMS), wilayah Kepulauan Sangihe menyimpan sumber daya terunjuk sebesar 3,16 juta ton dengan kadar emas 1,13 gram per ton (g/t) dan perak 19,4 g/t.

Jika penambangan dilakukan secara terbuka (open pit). Setiap tahun, komponen bijih emas yang mampu dikeruk mencapai 904,471 ton dari 4 juta ton batuan. Maka dapat kita terka, betapa berharganya wilayah ini.

Baca juga Burung Endemik Seriwang Sangihe Kini Terancam Penambangan Emas

Pariwisata Sangihe

Pantai Embuhanga, pantai dengan pasir bergelombang yang ada di Kepulauan Sangihe | Fiqmal Rizky
info gambar

Sangihe juga memiliki daya tarik keindahan dunia bawah laut, seperti biota bawah laut dan terumbu karang yang menjadi core attraction. Keindahan itu dapat ditemukan di Brave Hills Napo-Para Island, Kahakitang Island, Selat Sea Grass Mahumu Island, Mendaku dan Dakupang Island, dan Pulau Bukide.

Sejumlah pantai indah pun dapat ditemui di Kepulauan Sangihe. Pesona pantai pasir putihnya dijamin indah dan membuat para wisatawan betah berlama-lama di sana. Salah satunya, Pantai Embuhanga yang memilki pasir bergelombang.

Selain melihat keindahan alam bawah laut di Kepulauan Sangihe, para wisatawan juga bisa menyaksikan kemegahan wisata air terjun di sana. Beberapa di antaranya yaitu Air Terjun Kadadima dan Air Terjun Ngura Lawo.

Jika suka melakukan pendakian dan petualangan di hutan, wisatawan yang berkunjung ke Sangihe bisa langsung menapaki Gunung Sahendarumang. Wisata alam yang satu ini yang merupakan kawasan hutan lindung tropis yang memiliki keanekaragaman hayati dan panorama alam pegunungan yang indah.

Para wisatawan bisa mengunjungi Kepulauan Sangihe melalui perjalanan lewat jalur udara dan laut. Jika menggunakan jalur laut, dari Pelabuhan Manado harus menempuh perjalanan sekitar 10 jam dengan kapal malam atau 7 jam perjalanan dengan kapal cepat di pagi hari. Jika menggunakan jalur udara, penebangan dari Bandara Sam Ratulangi ke Sangihe membutuhkan waktu sekitar 60 menit.

Baca juga Legenda Masilihe, Kerajaan di Kepulauan Sangihe yang Tenggelam ke Bawah Laut

Pendapatan Kepulauan Sangihe

Kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara berdasarkan total PDRB | GNFI
info gambar

Indikator pendapatan kali ini dihitung berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto atau PDRB, baik itu PDRB nominal maupun PDRB per kapita yang dicatat Kepulauan Sangihe dalam beberapa tahun terakhir.

Sebagai informasi, PDRB merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu daerah tertentu. PDRB bisa juga didefinisikan sebagai jumlah nilai barang dan jasa akhir (netto) yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi.

Biasanya data PDRB disajikan dalam bentuk per kapita, yang mana merupakan rata-rata pendapatan yang diterima oleh setiap penduduk selama satu tahun.

Berdasarkan data terakhir yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), PDRB Kabupaten Kepulauan Sangihe pada 2019 tercatat senilai Rp4,24 triliun. Meskipun penduduknya relatif sedikit, namun ekonominya menjadi yang terbesar keenam di antara semua kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Utara.

Posisi PDRB Sangihe tepat satu tingkat di atas Kabupaten Bolang Mongandow Timur (Rp2,89 triliun) dan satu tingkat di bawah Kabupaten Minahasi Tenggara (Rp5,11 triliun). Dimana kedua kabupaten tersebut memiliki jumlah penduduk yang tidak jauh beda dari Kepulauan Sangihe.

Nominal PDRB pada 2019 menjadi yang terbesar dalam empat tahun terakhir, dimana pada 2015 angkanya hanya senilai Rp3,02 triliun, meningkat menjadi Rp3,36 triliun pada 2016, naik menjadi Rp3,66 triliun pada 2017, kemudian melonjak menjadi Rp3,93 triliun pada 2018.

PDRB per kapita Kabupaten Kepulauan Sangihe 2015-2019 | GNFI
info gambar

Sementara dari segi PDRB per kapita, trennya juga menunjukan peningkatan dalam kurun waktu 5 tahun. Pada 2015 pendapatan rata-rata masyarakat Sangihe hanya senilai Rp23,37 juta per tahun, naik menjadi Rp25,87 juta pada 2016, setahun kemudian naik lagi menjadi Rp28,07 juta, lalu pada 2018 naik menjadi Rp30,05 juta, dan yang terakhir pada 2019, angkanya mencapai nominal tertinggi dengan Rp32,38 juta per tahun.

Sebagian besar sumber pendapatan masyarakat Kepualauan Sangihe berasal dari sektor perikanan, perkebunan, pariwisata, sektor jasa, dan perdagangan. Kelima sektor tersebut menjadi penyumbang terbesar dalam komposisi PDRB Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Baca juga Kisah Hubungan Leluhur Indonesia-Filipina di Kepulauan Sangihe

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Iip M. Aditiya lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Iip M. Aditiya. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

IA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini