Tawarkan Aplikasi Layanan Kesehatan, Mahasiswa Indonesia jadi Raja di Kompetisi Inovasi Digital

Tawarkan Aplikasi Layanan Kesehatan, Mahasiswa Indonesia jadi Raja di Kompetisi Inovasi Digital
info gambar utama

Pada 3 Juli 2021 lalu, terdapat Glocal Digital Service & Innovation Competition yang diadakan oleh National Yang Ming Chiao Tung University (NYCU), Taiwan. Bekerja sama dengan LINE Corporation dan DeepQ, sebuah perusahaan teknologi berbasis artificial intelligence (AI) di Taiwan, NYCU berhasil menjaring peserta dari berbagai universitas yang tergabung dalam University System of Taiwan dan National Taiwan University System.

Sebanyak 21 tim yang berasal dari NYCU, National Central University (NCU), National Chengchi University (NCCU), National Tsing Hua University (NTHU), National Taiwan University (NTU), National Taiwan Normal University (NTNU), dan National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) harus berlomba selama tiga hari untuk menghadirkan prototypes berupa sistem dan aplikasi tertentu yang merupakan inovasi dalam menghadapi dunia pasca pandemi.

Fokus utamanya adalah inovasi digital dan layanan touchless berbasis kesehatan, serta kesejahteraan masyarakat. Peserta diminta untuk mengembangkan aplikasi berbasis chatbot yang disediakan oleh LINE, dikombinasikan dengan open data untuk menciptakan inovasi baru pada topik tersebut.

Mengenal 3 Startup Peduli Lingkungan Buatan Mahasiswa Program Bangkit 2021

Uniknya, kompetisi ini mengharuskan adanya minimal satu orang mahasiswa asing dan overseas pada tiap-tiap tim yang ikut serta. Sehingga, tim yang mengikuti kompetisi ini terdiri dari berbagai negara.

Selain Taiwan, ada beberapa negara lain yang menjadi bagian dari kompetisi ini. Di antaranya Indonesia, India, Vietnam, Haiti, Saint Lucia, Thailand, Pakistan, Ukraina, Rusia, Korea Selatan, Hong Kong, dan Tiongkok. Akan tetapi, karena pandemi COVID-19, atmosfer internasional tersebut kurang begitu terasa. Pasalnya, sebagian besar acara dilangsungkan secara virtual.

Proses pelaksanaan kompetisi NYCU Glocal Digital Service & Innovation Competition © NYCU Taiwan

Vice President for International Affairs kampus NYCU, Prof. Kuan-Neng Chen, mengapresiasi para sponsor yang sudah tergabung dalam agenda ini.

"Agenda ini merupakan dorongan terbesar untuk mewujudkan tujuan utama dari NYCU, yaitu internasionalisasi. Nantinya, kegiatan semacam ini akan terus dikembangkan oleh NYCU demi memperluas wawasan internasional kepada mahasiswa," terang Prof. Mong-Hwa Chin, Associate Dean/Head, Division of International Admissions kampus NYCU.

NYCU Glocal Digital Service & Innovation Competition menghadirkan juri-juri profesional yang berasal dari berbagai latar belakang industri berbeda. Di antaranya Senior Technical Evangelist LINE Evan Lin, Senior Vice President CTBC Cheng-Lung Sung, serta dua juri lain dari DeepQ, yaitu Jill Chen (UX/UI Manager) dan Mumin Yu (UX/UI Sr. Director).

Aplikasi tim mahasiswa Indonesia jadi juara

Fitur utama yang ditawarkan oleh FINIC © Tim FINIC
info gambar

Adapun tim mahasiswa Indonesia membuat sebuah aplikasi, yaitu FINIC. Berkat kegigihan dan inovasi yang ditorehkan, tim mahasiswa Indonesia berhasil meraih juara pertama. Aplikasi FINIC sendiri merupakan layanan satu atap untuk industri kesehatan.

Mulai dari pemeriksaan gejala penyakit pengguna, pencarian klinik berdasarkan gejala dan lokasi pengguna, pemesanan janji temu dokter secara daring, penelusuran riwayat kesehatan, hingga fitur darurat berupa panic button. Aplikasi unik dan kaya fitur ini juga dapat diakses dengan mudah dari salah satu aplikasi percakapan daring paling populer di Taiwan, LINE.

Ide pembuatan aplikasi FINIC didapatkan dari permasalahan yang mereka alami selama studi di Taiwan. Selanjutnya, keresahan subyektif tersebut mereka kristalisasi melelui penelitian yang lebih dalam mengenai hal ini lewat survei.

Indonesia Masuk Jajaran Negara dengan Ekosistem Startup Terbaik di Asia Pasifik 2021

Hasil dari survei yang mereka lakukan membuktikan bahwa keresahan mereka umum dirasakan oleh orang asing yang menetap di Taiwan. Kendala bahasa adalah yang utama dari keresahan tersebut.

Namun, keresahan ini pun merambah ke masalah-masalah lain, seperti sulitnya mencari klinik atau dokter yang tepat sesuai dengan gejala yang dirasakan. Lalu, sulitnya berkonsultasi kepada dokter atau awak medis tentang gejala-gejala penyakit tertentu yang bisa jadi fatal jika tidak ditangani sejak dini.

Ketakutan terhadap false diagnosis, dan kebutuhan akan bantuan darurat tanpa ada orang di sekitar yang mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris pun tak luput dari pertimbangan. Menurut statistik ada sekitar 1 juta orang asing yang menetap di Taiwan untuk keperluan studi dan bekerja. Sehingga, hal-hal tersebut menjadi faktor-faktor penting yang dipertimbangkan oleh kelima anggota tim FINIC.

Tim mahasiswa Indonesia pada kompetisi ini

Anggota dari tim FINIC © NYCU Taiwan
info gambar

Tim mahasiswa yang membuat FINIC terdiri dari lima anggota. Ialah Albert Budi Christian berperan sebagai team leader dan UX Designer & Engineer, Muhammad Febrian Ardiansyah sebagai system architect, Felix Liawi sebagai back-end developer, Irfandi Djailani sebagai business analyst, dan Steven Jonathan front-end developer.

Nama FINIC diambil dari homofon makhluk legenda dari cerita rakyat kuno, burung Phoenix, yang dikenal di seluruh dunia sebagai simbol kemakmuran dan keharmonisan. Selaras dengan semangat tersebut, tujuan dari adanya aplikasi FINIC adalah untuk ikut ambil bagian dalam menciptakan kemakmuran dan keharmonisan di dunia.

Irrational Fear, Ancaman Hidup yang Sering Dijumpai Namun Tidak Disadari

Hal itu dimulai dengan inklusivitas demi menghilangkan hambatan akses dalam industri perawatan kesehatan. Sehingga, akses informasi serta layanan yang terkait dengan kebutuhan perawatan kesehatan pengguna, khususnya masyarakat internasional yang ada di Taiwan, bisa lebih terjamin.

Selain tim FINIC, setidaknya ada dua tim lain yang berhasil menyabet juara ketiga dan Spring Foundation Innovation Award, yang memiliki member berasal dari Indonesia juga. Wah, bangga sekali, ya?

Meskipun di tanah rantau dan jauh dari negara asal, anak muda Indonesia tetap bisa mengharumkan nama bangsa dengan cara apapun. Mari kita ikuti semangat mereka.*

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini