Digitalisasi Lontar Bali Sebagai Upaya Menjaga Warisan Leluhur

Digitalisasi Lontar Bali Sebagai Upaya Menjaga Warisan Leluhur
info gambar utama

Sebelum mengenal kertas, nenek moyang kita biasa menggunakan daun lontar sebagai wadah menulis dan berkomunikasi. Kabar baiknya, tradisi menulis di atas daun lontar masih ada sampai saat ini. Bali merupakan satu dari banyaknya daerah di Indonesia yang masih melestarikan tradisi ini.

Lontar adalah daun siwalan atau tal yang dikeringkan dan dipakai sebagai bahan naskah serta kerajinan. Di Bali, lontar digunakan untuk bahan naskah penulisan manuskrip yang memiliki perjalanan sejarah panjang dan usia tua seiring dengan nilai-nilai sejarah, agama, filsafat, pengobatan, sastra, dan ilmu pengetahuan tinggi lainnya.

Kawan GNFI sudah pernah menulis di atas daun lontar belum? Menulis di atas daun lontar atau yang lebih sering disebut “nyurat”, merupakan hal yang cukup sulit, loh! Banyak hal yang harus diperhatikan jika ingin belajar menulis di atas daun lontar.

Cara menulis di daun lontar

Sumber: Dokumen Pribadi
info gambar

Pertama, kita harus memahami penggunaan aksara Bali. Jika sampai salah, tulisan yang sudah tersurat di atas daun lontar tidak akan bisa dihapus.

Kemudian, kita harus mampu menggunakan pengrupak atau alat khusus untuk menulis lontar. Bentuk pengrupak ini mirip seperti pisau, tetapi sudah dibentuk sedemikian rupa agar memudahkan untuk menulis di atas daun lontar. Menggunakan pengrupak juga harus sering dilatih, karena jika tidak terbiasa, akan sangat sulit untuk menggerakkan tangan.

Dilanjutkan dengan posisi tangan saat menulis lontar, yaitu tangan kiri memegang daun lontar dan tangan kanan memegang pengrupak. Agar lebih nyaman saat memegang lontar, Kawan dapat menggunakan bantal khusus yang diletakkan di atas alas untuk menulis lontar (dulang).

Mengenang Samong, Harimau Bali yang Telah Punah

Selesai menulis lontar, tulisan tidak akan langsung terlihat dengan jelas. Maka dari itu, diperlukan kemiri yang sudah dibakar. Daun lontar yang sudah ditulis tersebut akan membentuk cekungan, dan kemiri yang sudah dibakar berfungsi sebagai tinta untuk mengisi cekungan dan memperjelas tulisan.

Lalu, hal yang terpenting saat menulis lontar adalah fokus, teliti, dan sabar. Jika tidak diterapkan, tulisan diyakini akan banyak salah dan berpotensi untuk mengulang dari awal. Kebayang bukan seberapa teliti dan sabarnya nenek moyang kita untuk menulis lontar, hingga mampu membuahkan ratusan lontar yang berisi nilai sejarah?

Digitalisasi lontar di Bali

Sumber: Dokumen Pribadi
info gambar

Lontar yang sudah tersebar harus diberi perawatan secara khusus agar tidak mudah rusak. Jika mengikuti perkembangan zaman, digitalisasi lontar adalah jawaban yang tepat.

Digitalisasi adalah proses alih media untuk membuat arsip dokumen kedalam bentuk digital. Lembaga yang cukup konsen selama hampir 7 tahun terakhir terus menerus melakukan digitalisasi lontar di Bali adalah Pusat Kajian Lontar (PKL) Universitas Udayana.

Tim ahli Pusat Kajian Lontar Universitas Udayana, I Gede Nala Antara mengungkapkan digitalisasi menjadi penting dalam upaya menyelamatkan dan melestarikan lontar. Dengan adanya dokumen dalam bentuk digital maka pengetahuan yang terkandung dalam lontar dapat dipertahankan.

Tumpek Wariga, Ungkapan Syukur Masyarakat Bali Atas Kesuburan Tanaman

Digitalisasi lontar yang disertai dengan alih bahasa akan membantu generasi milenial dalam memahami dan mempelajari pengetahuan yang ada dalam lontar. Mengingat lontar maupun hasil digitalisasinya merupakan sumber pengetahuan untuk belajar tentang kehidupan. Berbicara lontar adalah berbicara kandungan pengetahuan yang dituliskan di dalamnya yang dititipkan oleh leluhur melalui bentuk karya tulis dalam lontar.

Proses digitalisasi lontar bukan sebatas upaya menyimpan warisan ilmu pengetahuan dari bentuk lontar ke dalam bentuk digital semata. Hal ini menjadi kesempatan untuk menggali inti sari pengetahuan yang terdapat dalam lontar.

Pelesiran ke Desa Mas di Ubud, Kampungnya Para Seniman

Apalagi, lontar diyakini menyimpan solusi dan pengetahuan dalam mengatasi permasalahan kehidupan yang sudah pernah dipikirkan oleh leluhur terdahulu. Namun, hasil digitalisasi tidak dipublikasikan secara penuh, tetapi hanya sebatas judul, jumlah halaman, dan ringkasan.

Dengan adanya digitalisasi lontar ini dapat menjadi inspirasi untuk kita semua, agar ikut melestarikan seni dan budaya daerah masing-masing. Cara termudah untuk melestarikan seni dan budaya adalah dengan dengan mengetahui dan mempelajarinya. Yuk, sama-sama menjaga budaya Indonesia dari kepunahan!*

Referensi:Berita Bali | Perpusnas

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

IW
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini