Tumpek Wariga, Ungkapan Syukur Masyarakat Bali Atas Kesuburan Tanaman

Tumpek Wariga, Ungkapan Syukur Masyarakat Bali Atas Kesuburan Tanaman
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #InspirasidariKawan #NegeriKolaborasi

Berdiri sebagai suatu negara yang masyarakatnya hidup berdampingan dalam keberagaman, membawa Indonesia terlihat berwarna dalam setiap perbedaannya. Dengan adanya perbedaan tersebut, Indonesia menjadi negara yang kaya akan warisan budaya. Kekayaan warisan budaya yang dimiliki oleh Indonesia, merupakan tanggung jawab bersama dalam menjaga dan melestarikannya.

Secara umum, budaya dapat diartikan sebagai hasil dari seluruh karya, rasa, dan cipta masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun kepada generasi berikutnya. Salah satu suku di Indonesia yang memiliki kebudayaan yang cukup menarik yaitu Suku Bali. Suku Bali yang mendiami Pulau Dewata ini, memiliki sebuah kebudayaan yang bernama Tumpek Wariga.

Makna Upacara Tumpek Wariga

Perayaan Hari Raya Galungan oleh Masyarakat Hindu Bali | Sumber : TripSavvy
info gambar

Tumpek Wariga adalah hari dimana masyarakat Hindu Bali memberikan pemujaan atau upacara kepada Dewa Sangkara. Dewa Sangkara adalah dewa penguasa kesuburan semua pepohonan dan tumbuh-tumbuhan. Jadi, pada perayaan Tumpek Wariga, masyarakat Hindu Bali akan menghaturkan sesajen (upakara) sebagai penanda atas rasa syukur dan berterima kasih kepada tumbuh-tumbuhan yang telah memberikan berkah dalam kehidupan mereka.

Masyarakat Bali memercayai bahwa alam semesta memiliki kekuatan tersembunyi yang berada pada tumbuh-tumbuhan, pepohonan, dan berbagai tanaman yang tumbuh di halaman. Dengan adanya kekuatan tersebut, upacara Tumpek Wariga dimaknai oleh masyarakat Bali sebagai sarana untuk menjaga agar kekuatan yang dimiliki oleh alam semesta dapat digunakan untuk hal-hal baik pada kehidupan sehari-hari.

Ngejot, Tradisi Berbagi Makanan Bukti Toleransi Beragama di Bali

Upacara Tumpek wariga disebut juga sebagai Tumpek Uduh, Tumpek Bubuh atau Pengatag. Dalam pelaksanaannya, upacara ini diadakan setiap enam bulan sekali, tepat pada hari Saniscara (Sabtu) Kliwon, wuku Wariga (penanggalan Hindu), 25 hari sebelum dirayakannya Hari Raya Galungan.

Hari Raya Galungan adalah hari dirayakannya kemenangan atas dharma (kebaikan) melawan adharma (keburukan). Pada hari itu, masyarakat Hindu Bali sembahyang menggunakan sarana bunga dan buah.

Dengan adanya Tumpek Wariga tersebut, masyarakat Hindu Bali mengharapkan semua pepohonan dan tumbuh-tumbuhan dapat menghasilkan buah yang lebat, berbunga, serta memiliki kualitas yang bagus sehingga dapat digunakan sebagai sarana sembahyang ketika merayakan Hari Raya Galungan.

Prosesi dilaksanakannya Tumpek Wariga

Prosesi dilakukannya Upacara Tumpek Wariga | Sumber : Baliportalnews.com
info gambar

Dalam pelaksanaan Tumpek Wariga, tidak menutup kemungkinan terdapat adanya perbedaan antara satu tempat dengan tempat lain yang berada di Bali. Perbedaan itu muncul karena pada proses pelaksanaannya kerap disesuaikan dengan konsep Desa Kala Patra (penyesuaian tempat dan waktu).

Meski terdapat perbedaan pada beberapa tempat, dalam melaksanakan Tumpek Wariga, masyarakat Hindu Bali masih berpegang teguh dengan tata cara yang tertulis pada Kitab Sundarigama. Pada kitab tersebut, disebutkan bahwa upakara yang dibutuhkan dalam Tumpek Wariga adalah peras, tulung, dan sayut, bubur sumsum, tumpek agung, penyeneng, babi guling atau itik guling yang digunakan sebagai ulam atau daging, serta sayut caleragni dan tetebus.

Pelesiran ke Desa Mas di Ubud, Kampungnya Para Seniman Bali

Setelah seluruh kebutuhan untuk upakara telah terpenuhi, selanjutnya upakara tersebut dihaturkan menghadap arah barat laut sesuai dengan arah Sanghyang Sangkara dalam Dewata Nawa Sanga, sambil mengucapkan mantra.

Kaki-kaki, dadong dija? Dadong jumah gelem kebus dingin ngetor. Ngetor nged-nged-nged-nged, nged kaja, nged kelod, nged kangin, ngeed kauh, buin selae lemeng Galungan, mebuah apang nged.

Artinya, kakek-kakek, nenek di mana? Nenek dirumah sakit panas mengigil. Mengigil lebat-lebat-lebat-lebat, lebat di utara, lebat di selatan, lebat di timur, lebat di barat, lagi dua puluh lima hari hari raya galungan, berbuahlah dengan lebat.

Diucapkannya mantra tersebut menjadi sebuah wujud pengharapan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas segala berkah dan anugerah yang diberikan dalam bentuk pepohonan atau tumbuh-tumbuhan yang berdaun rindang dan berbuah lebat.

Dalam melakukan Tumpek Wariga, hal yang tak boleh dilewatkan adalah melakukan pantangannya. Pantangan yang harus dilakukan oleh masyarakat Hindu Bali adalah memotong pohon, memetik buah, bunga, serta daun. Makna dari pantangan ini adalah diharapkannya masyarakat Hindu Bali untuk memberi keseimbangan hidup antara manusia dengan alam.

Ngerebeg Mengkotek, Tradisi Tolak Bala Ala Desa Adat di Bali

Seiring perkembangan jaman, sayangnya upacara Tumpek Wariga ini sudah jarang dilakukan, terutama di daerah perkotaan, sukar sekali ditemui masyarakat yang memiliki teba (tegalan) dirumahnya.

Lantaran jarangnya masyarakat perkotaan di Bali yang memiliki teba, maka sudah jarang pula ditemui pohon berbuah yang diupacarai pada saat Tumpek Wariga. Dampaknya, Tumpek Wariga kini secara perlahan mulai tidak dipahami maknanya oleh generasi saat ini.

Akan tetapi, adanya konsep tanaman buah dalam pot (tabulampot) memberikan solusi bagi masyarakat agar bisa memanfaatkan pekarangannya yang tidak terlalu luas untuk menanam buah. Dengan begitu, masyarakat di perkotaan tetap dapat melaksanakan upacara Tumpek Wariga dengan cara yang lebih sederhana.*

Referensi: bali news

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

EH
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini