Lumpia Gang Lombok, Kuliner Asal Semarang Sejak Ratusan Tahun Lalu

Lumpia Gang Lombok, Kuliner Asal Semarang Sejak Ratusan Tahun Lalu
info gambar utama

Berkunjung ke Semarang, tidak lengkap jika belum mencicipi lumpia. Ya, lumpia adalah salah satu kuliner yang menjadi ikon kota Semarang. Jika Kawan berkunjung ke Semarang, pasti akan menemukan banyak sekali penjual lumpia di setiap sudut kota.

Tak jarang ada pula orang yang tidak menyukai lumpia karena aroma rebung yang berbau amis. Padahal, jika Kawan tepat dalam memilih tempat lumpia yang enak, Kawan tak akan kecewa dengan rasanya.

Sebelum lebih lanjut, Kawan perlu tahu dulu mengenai perbedaan lumpia Semarang dan lumpia pada umumnya. Jika biasanya lumpia berisikan kentang, wortel dan mie, lumpia Semarang berisikan irisan rebung atau pucuk tunas bambu muda. Kemudian, rebung dimasak bersama dengan udang, telur orak-arik, bawang putih, kecap asin, kecap manis dan berbagai bumbu lainnya.

Potret lumpia basah dan goreng| Foto: Roomme.id
info gambar

Pada mulanya, lumpia hanya berisikan udang saja, tetapi kini sudah banyak kedai lumpia yang menyajikan dengan daging ayam. Bahkan saat ini, ada kedai yang menyajikan dengan versi vegetarian, yakni telur dan rebung saja.

Lumpia Semarang juga memiliki berbagai kondimen lain, seperti saus adonan tepung kanji, gula merah, bawang yang kental, dan manis. Ditambah acar mentimun dan tunas bawang merah atau lokio, membuat cita rasa lumpia semakin nikmat.

Kisah Manis Lumpia, Makanan yang Diakui UNESO

Salah satu kedai lumpia yang menyajikan cita rasa nikmat dan melegendaris adalah Lumpia Gang Lombok, yang sudah ada sejak lama. Kedai ini terletak di Jalan Gang Lombok No. 11, Purwodinatan, Semarang Tengah. Jika Kawan bingung menemukan lokasinya, Kawan tinggal mencari saja Klenteng Tay Kak Sie yang sangat terkenal dengan cerita dari Cheng Ho.

"Lumpia ini enggak tahu sudah berapa tahun, yang jelas saya generasi keempat. Saya diwarisi bapak, saat bapak sudah berumur 50-an juga. Kalau dihitung dari keluarga pertama sudah satu abad lebih,” ujar Purnomo Usodo, generasi ke empat dikutip dari Phinemo.

Awal mula Lumpia Gang Lombok Semarang

Potret Purnomo Usodo pemilik Lumpia Gang Lombok| Foto: Jawapos
info gambar

Kedai lumpia yang telah melegendaris ini telah berusia ratusan tahun, loh, Kawan. Dilansir dari laman Kompas, Purnomo Usodo selaku pemilik kedai mengakui bahwa ia merupakan generasi keempat dari Lumpia Gang Lombok Semarang ini.

Pak Untung, sapaan dari Purnomo Usodo mengatakan kemunculan Lumpia Gang Lombok bermula dari pertemuan kakek buyutnya bernama Tjoa Thay Joe. Kakeknya yang berasal dari Tiongkok tinggal di Indonesia bertemu dengan Warsih, perempuan asal Jawa yang dinikahkan oleh kakek buyutnya.

Keduanya merupakan pedagang kuliner. Tjoa Thay Joe menjual kuliner berbahan utama rebung dan daging babi, sedangkan Warsih menjual kuliner berbahan utama kentang dan udang.

Mengintip Kehidupan Tradisional Masyarakat 4 Desa Adat di Lombok

Mereka akhirnya menciptakan inovasi kuliner baru, yakni makanan berisikan udang dan rebung yang dibungkus dengan cara digulung menggunakan adonan tepung. Mereka memilih udang sebagai bahan utama, karena saat itu tidak semua orang memakan daging babi.

Tak disangka, kuliner ini sangat diminati dan digemari oleh masyarakat sekitar. Bahkan, hingga kini banyak sekali kemunculan berbagai penjual baru lumpia Semarang.

Di balik kenikmatan Lumpia Gang Lombok Semarang

Harga Lumpia Gang Lombok| Foto: bobobox/junoadhi
info gambar

Lumpia Gang Lombok dapat bertahan hingga ratusan tahun dan tak pernah sepi pengunjung karena pengolahan, dan proses pembuatan dilakukan dengan sangat baik. Pak Untung mengaku, mereka masih mengolah rebung secara tradisional sesuai dengan resep warisan yang diberikan.

Mereka memproses rebung dengan mencuci secara bersih dan berulang, hingga zat tepungnya hilang. Kemudian, diolah dengan berbagai rempah-rempah. Inilah yang akhirnya menghasilkan rebung tak berbau amis.

Jadi, Kawan tak perlu khawatir karena Lumpia Gang Lombok diracik dan diproses sedemikian rupa hingga tak ada bau amis, dan sangat nikmat ketika dimakan.

Agar semakin menambah cita rasa, lumpia ini dapat disantap dengan selada, cabai rawit, daun bawang, serta saus tepung maizena atau kecap yang telah disediakan. Jika dulu, hanya terdapat isian dengan udang saja, kini Kawan dapat menikmati Lumpia berisikan daging ayam.

Menilik Perbedaan Nasi Liwet Khas Sunda dan Solo

Lumpia dapat disajikan secara digoreng dan tidak digoreng. Jadi dapat disesuaikan dengan keinginan Kawan, ya. Lumpia yang berukuran besar dan padat ini membuat siapapun yang menikmati tak cukup hanya makan satu saja.

Kedai Lumpia Gang Lombok ini tak pernah sepi pengunjung, baik wisatawan dalam negeri maupun mancanegara. Sejak dibuka pukul 08.00 WIB, kedai ini sudah dipenuhi pengunjung yang mengantre untuk mendapatkan kuliner ini.

Di dalam kedai juga terlihat berbagai penghargaan kuliner yang didapatkan. Mulai dari Pemerintah Kota Semarang, Universitas Diponegoro, situs Tripadvisor, dan Idealife. Kawan tak perlu meragukan lagi kenikmatan dari Lumpia Gang Lombok ini.

Kawan dapat menikmati satu buah lumpia dibanderol dengan harga Rp17.000, baik yang digoreng maupun tidak. Walaupun harganya tak murah untuk sebuah lumpia, tetapi dapat menjamin dari segi rasa dan kualitas.

Kalau Kawan, ingin menjadikan lumpia sebagai buah tangan, lumpia dapat bertahan hingga 3 hari setelah digoreng. Untuk lumpia basah, hanya dapat bertahan 24 jam karena semua bahan yang digunakan tanpa pengawet. Jika ingin bertahan lebih lama sedikit, pastikan Kawan memasukkan lumpia ke dalam lemari pendingin.

Pastikan, Kawan datang tidak terlalu sore untuk menghindari antrean atau bahkan kehabisan. Gimana Kawan, sudah siap memborong lumpia jika berkunjung ke Semarang? (COMM/BR)

Referensi:Kompas | Detikfood | Phinemo

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini