Jenazah Berlilit Kain Berlapis dalam Upacara Pemakaman Marapu

Jenazah Berlilit Kain Berlapis dalam Upacara Pemakaman Marapu
info gambar utama

Marapu merupakan sebuah kepercayaan yang dianut oleh masyarakat di Pulau Sumba. Kepercayaan marapu ialah sebuah sistem keyakinan yang didasarkan pada pemujaan arwah-arwah leluhur.

Di samping percaya pada arwah leluhur, marapu juga meyakini adanya roh-roh halus yang mampu menolong atau mencelakakan kehidupan manusia. Orang Sumba percaya bahwa dengan memberikan sesaji kepada roh halus, mereka akan memerhatikan dan menjaga masyarakat dari segala hal yang buruk.

Kepercayaan marapu meyakini bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara. Setelah kematian, mereka akan hidup abadi di surga marapu atau yang disebut dengan prai marapu.

Masyarakat Sumba akan melakukan upacara pemakaman yang cukup panjang dan melalui berbagai prosesi. Dikarenakan orang Sumba meyakini bahwa roh nenek moyang ikut menghadiri upacara pemakaman tersebut.

Sebelum pemakaman Marapu

Kubur batu Marapu | Foto: ideagrid
info gambar

Ketika disemayamkan dalam rumah, jenazah harus disimpan secara tunduk menyerupai keadaan semula ketika masih di dalam kandungan. Kalau dia laki-laki akan dililit dengan kain Sumba berlapis hingga 60 lembar.

Kalau jenazahnya perempuan akan dililit berlapis dengan sarung Sumba sebanyak 60 lembar juga. Setelah itu, jenazah didudukkan di kursi dari kulit kerbau. Ketika jenazah sudah mengeluarkan aroma berbau, biasanya pada hari ketiga dianggap ia sedang berbicara dengan orang disekelilingnya.

Berbondong-bondong masyarakat datang untuk mengucapkan dukacita. Masyarakat yang hadir turut menangis dan berdoa. Pelayat yang mengunjungi rumah duka membawakan sesuatu untuk meringankan beban keluarga.

Mengenal Abdillah, Penjaga Makam Pendiri Kota Samarinda

Sesuai dengan hukum adat yang berlaku pelayat dari pihak saudara perempuan yang telah menikah wajib membawa hewan, seperti kuda, sapi atau kerbau. Sementara itu, untuk pihak saudara laki-laki dan istri keluarga berduka wajib membawa babi. Masyarakat umum biasanya akan membawa kain tenun Sumba yang panjang.

Sejak saat itulah gong, tambur, dan bedug dibunyikan sepanjang siang dan malam sebagai tanda berduka. Irama dan bunyi pada upacara kematian tentunya berbeda ketika acara pesta. Tak hanya irama dan bunyi saja yang dikumandangkan, namun juga ada pertunjukkan tarian dalam upacara ini.

Ketika penyambutan pelayat, keluarga yang berduka akan menabuh gong diiringi dengan tarian adat untuk pelayat yang membawa kuda, kerbau, babi atau tamu kehormatan.

Pembuatan kuburan

Potret pembuatan kubur | Foto: travelinkmagz
info gambar

Selama masa berkabung, para perempuan akan menangis hingga tujuh hari. Sementara, para laki-laki akan mencari batu makam. Batu makan tersebut diambil, dari pegunungan yang diikat dengan sebuah tali kemudian ditarik secara berantai. Hal tersebut dilakukan sambil menuju tempat pemakaman dengan menyanyikan lagu dalam bahasa Sumba.

Upacara Ngaben, Pembakaran Jenazah Sebagai Jalan Menuju Nirwana

Batu ceper yang besar akan digunakan oleh masyarakat Sumba dalam pemakaman. Bentuk makam seperti meja datar, dimana di atas kubur terdapat ukiran batu berbentuk hewan. Dikarenakan, para penganut Marapu memiliki kepercayaan terhadap hewan tertentu.

Kuda melambangkan ketidaksombongan, kerbau simbol keberanian, ayam dan babi sebagai lambang pemimpin sedangkan udang simbol adanya kehidupan setelah kematian.

Hari pemakaman

Potret pemakaman | Foto: travelinkmagz
info gambar

Para tamu yang telah hadir akan disambut dengan tata cara adat Sumba Timur, yakni membunyikan gong, tambur, dan memberikan sirih pinang. Para penjaga jenazah juga harus menangis dengan memperkeras suara mereka.

Semua perempuan yang hadir akan naik ke atas balai, tempat jenazah diletakkan dan menangis mengelilingi jenazah. Setelah itu, jenazah akan dibawa turun menuju ke tempat pemakaman. Pada saat itulah gong dan tambur dibunyikan dengan irama cepat sebagai tanda pemakaman akan segera berlangsung.

Ketika jenazah diturunkan, diadakan pemotongan seekor kuda besar, kalau seorang keturunan bangsawan biasanya lebih dari satu ekor. Kepercayaan Marapu meyakini bahwa semakin banyak hewan kurban yang dipotong semakin terhormat jenazah tersebut di Prai Marapu.

Sumba Memang Elok, Produsen Ferari Saja Naksir

Jenazah akan dimasukkan ke dimasukkan ke dalam lubang kubur kemudian ditutup dengan batu pipih kecil dan ditutup kembali dengan batu besar. Kemudian, akan dilanjutkan dengan pemotongan beberapa ekor dan kuda tergantung dengan kedudukan atau sosial dari yang meninggal.

Setelah pemakaman selesai, para tamu akan pulang dengan membawa kain atau daging hewan. Beberapa hari kemudian, keluarga, dan kerabat dekat akan diundang kembali untuk mengikuti penutupan masa berkabung.

Dalam acara ini, akan dipotong babi atau sapi untuk dimakan bersama dan membagikan barang-barang sisa pemakaman. Pihak keluarga akan mengucapkan terima kasih atas kebersamaan, dan gotong royong saat prosesi pemakaman berlangsung.

Itulah prosesi pemakaman dari kepercayaan Marapu di Pulau Sumba, Kawan. Sangat menarik, bukan?* (COMM/BR)

Referensi: liputan6 | Jurnal Pendidikan Sejarah | uksw.edu

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini