Mengenal Abdillah, Penjaga Makam Pendiri Kota Samarinda sekaligus Pahlawan Kemanusiaan

Mengenal Abdillah, Penjaga Makam Pendiri Kota Samarinda sekaligus Pahlawan Kemanusiaan
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #InspirasidariKawan #NegeriKolaborasi

Berbicara mengenai asal-usul berdirinya kota Samarinda, tidak pernah terlepas dari sejarah kedatangan penduduk suku Bugis Wajo pada tahun 1668 di bawah pimpinan Lamohang Daeng Mangkona ke wilayah Kerajaan Kutai. Lamohang Daeng Mangkona beserta rombongannya memilih meninggalkan kampung halamannya (Sulawesi Selatan), daripada harus tunduk kepada pemerintah kolonial Belanda yang saat itu telah menguasai Kerajaan Gowa melalui perjanjian Bongaya.

Dalam buku Sejarah Kota Samarinda (1986) dikatakan bahwa Lamohang Daeng Mangkona menghadap Raja Kutai Lama Ali Pangeran Dipati Anom Panji Mendapa Ing Martapura dengan maksud meminta izin agar rombongannya diperbolehkan tinggal di wilayah Kerajaan Kutai. Raja memberi izin dengan syarat mereka harus mencari pemukiman di sekitar Sungai Mahakam di antara dua dataran rendah.

Rombongan orang Wajo menemukan itu dan menamakannya "Samarendah" yang terdiri dari dua kata "sama" dan "rendah". Inilah kisah awal terbentuknya nama kota Samarinda.

Deretan Tokoh Perempuan Inspiratif yang Majukan Pers Indonesia

Saat ini, makam Lamohang Daeng Mangkona dapat ditemukan di Jalan Mesjid, Kecamatan Samarinda Seberang, Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Agar mempermudah akses Kawan GNFI menemukan makam Lamohang Daeng Mangkona, Kawan GNFI dapat terlebih dahulu mencari lokasi kampung Tenun Samarinda. Hal ini dikarenakan area makam masih termasuk dalam wilayah kampung tersebut.

Setelah memasuki gerbang utama, Kawan GNFI dapat langsung melihat pendopo yang melindungi makam Lamohang Daeng Mangkona beserta keluarga. Di depan pendopo utama, terdapat sumur buatan yang diperkirakan oleh penjaga makam sebagai tempat Wudhu atau biasa digunakan Lamohang Daeng Mangkona untuk membersihkan diri.

Halaman depan makam Lamohang Daeng Mangkona
info gambar

Dalam pendopo utama terdapat empat makam, yaitu makam Lamohang Daeng Mangkona (nisan yang berbentuk gada), istri dari almarhum (nisan yang berbentuk pipih), dan dua makam lainnya yang diperkirakan sebagai anggota keluarga.

Di luar area utama atau di belakang pendopo makam, terdapat ratusan makam yang diperkirakan sebagai makam dari rambongan penduduk suku Bugis Wajo yang berangkat bersama dengan Lamohang Daeng Mangkona.

Menyoroti Fakta Migrasi Paus di Perairan Indonesia

Area makam Lamohang Daeng Mangkona dan keluarga
info gambar

Meskipun sudah diperkirakan berusia 300 tahun lebih, area makam Lamohang Daeng Mangkona sangat asri, terawat dan bersih. Hal ini tidak terlepas dari jasa Abdillah selaku juru kunci ketiga Makam Lamohang Daeng Mangkona. Ia telah menjaga makam Lamohang Daeng Mangkona sejak tahun 2004.

Abdillah menceritakan bahwa area makam Lamohang Daeng Mangkona ditemukan oleh almarhum ayahnya saat mulai membuka lahan untuk berkebun. Setelah menemukan makam yang bentuk nisannya berbeda dari nisan pada umumnya, almarhum Ayahnya menyadari bahwa makam ini bukan makam biasa yang membuatnya merasa perlu untuk menghormati serta merawat.

Dalam keberjalanannya, keluarga Abdillah mengambil keputusan untuk mengirimkan foto makam tersebut kepada Pemerintah Pusat untuk diteliti. Hingga akhirnya, para peneliti menyatakan bahwa makam ini adalah makam dari pendiri kota Samarinda, Lamohang Daeng Mangkona.

5 Tokoh Bangsa dengan Sepak Bola, dari Hobi hingga Alat Perjuangan

Abdillah menyatakan bahwa dirinya rela berhenti bekerja dan meneruskan pekerjaan sebagai penjaga makam, karena dirinya merasa memperoleh ketenangan hati. Meski mendapat cemoohan dari orang lain karena berhenti bekerja dan melanjutkan pekerjaan menjadi penjaga makam, ia tetap merasa beruntung

"Sering dipandang sebelah mata sama urang (artinya: orang dalam bahasa Banjar) gara-gara berhenti kerja, tapi saya sangat senang bisa melakukan pekerjaan ini, harganya mahal. Bahkan saya bisa ketemu sama orang-orang hebat seperti pejabat, para peneliti, dsbnya karena ini," ujarnya.

Terdapat banyak pembelajaran yang Penulis peroleh selama berbincang bersama Abdillah. Seperti manusia seringkali mengejar tujuan yang bukan menjadi keinginan diri sendiri, melainkan mengejar standar yang ditetapkan orang lain agar diakui sebagai bagian dari masyarakat. Keberanian untuk keluar dari zona aman ternyata memampukan kita untuk merasa nyaman.

Ketulusan, kerendahan hati, dan keinginan untuk terus belajar menjadi lebih baik adalah nilai-nilai kemanusiaan yang Penulis temukan dalam diri Abdillah. Nilai-nilai luhur yang hampir terlupakan karena tergerus zaman.

Bagi Penulis, Abdillah bukan hanya sekadar pahlawan yang telah merawat area bersejarah dengan baik. Melainkan juga pahlawan kemanusiaan yang mengingatkan kita untuk selalu menjadi pribadi yang berhati bersih.

Referensi:repositori.kemdikbud.go.id | Sejarah Samarinda

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

CL
KO
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini