Legenda 4 Raja yang Lahir dari Telur, Asal-Usul Kepulauan Raja Ampat

Legenda 4 Raja yang Lahir dari Telur, Asal-Usul Kepulauan Raja Ampat
info gambar utama

Raja Ampat merupakan sebuah destinasi wisata di Papua Barat yang terkenal hingga mancanegara. Nama Raja Ampat memang begitu lekat dengan wisata surga di timur Indonesia. Sebagian orang mungkin hanya tahu keindahan alam di sana tanpa mengenal bagaimana sejarah dan mitos yang tumbuh di masyarakat sana.

Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto, mengatakan masyarakat Raja Ampat percaya wilayah itu pada mulanya dikuasai oleh para raja.

"Masyarakat percaya asal usul Raja Ampat bermula dari pasangan suami istri Alyab dan Boki Deni," kata Hari Suroto dalam keterangan tertulis, menukil Tempo.

Dalam kisahnya, diceritakan sepasang suami istri ini tinggal di pinggir Sungai Wawage atau Kali Raja--sekarang Kampung Wawiyai, Distrik Tiplol Mayalibit. Saat sedang berada di tepi sungai, sang istri yang bernama Beko Deni menemukan tujuh butir telur. Telur tersebut hendak dikonsumsi oleh sang suami, Alyab, namun sang istri menghalangi.

"Karena keinginan istrinya, akhirnya telur-telur tersebut dibawa pulang oleh pasangan tersebut," ujar Hari.

Saat disimpan, telur-telur tersebut tiba-tiba saja menetaskan bayi manusia. Dari tujuh telur, ada lima telur yang berhasil menetas, empat laki-laki dan seorang perempuan. Satu telur menetas namun menjelma menjadi roh atau mahkluk halus. Sedangkan yang satu lagi menetas jadi sebuah batu. Batu yang lahir dari telur ini diberi nama Batu Telur Raja, yang saat ini dapat Anda jumpai di Situs Kali Raja.

Bukan Bali! Raja Ampat Ternyata Dinobatkan Jadi Tempat Wajib Kunjung di Asia

"Tersimpan dalam bangunan kecil, batu telur raja ini berwarna putih, dibaluti kain berwarna putih dan sebuah kelambu putih," ucapnya.

Kemudian telur yang menetas menjadi manusia tadi diberikan nama oleh kedua orang tuanya. Telur yang menetas pertama atau anak sulung diberi nama Giwar, anak ke-2 diberi nama Tusan, anak ke-3 diberi nama Mustari, anak ke-4 adalah perempuan yang diberi nama Pin Tike, dan anak ke-5 diberi nama Kilimuri.

Mereka hidup bersama-sama di Kali Raja. Hingga pada satu ketika mereka bertengkar dan kemudian berpisah. Giwar tetap tinggal di Kali Raja dan menjadi Raja Waigeo, Tusan menguasai wilayah Salawati, Mustari menguasai Pulau Misool, dan Kelimuri memisahkan diri ke Pulau Seram.

"Sedangkan Pin Tike, saudara perempuan raja, menurut mitos hamil tanpa suami ketika dewasa," tambahnya.

Hal ini tentu membuat malu saudara-saudaranya. Oleh karena itu, empat raja ini berunding untuk menghanyutkan Pin Tike ke laut. Namun, dirinya terdampar dan selamat di Pulau Numfor. Pin Tike kemudian bertemu dengan seorang tokoh mitos Biak-Numfor dan menikah dengannya. Sebulan kemudian, Pin Tike melahirkan anak laki-laki yang diberi nama Gurabesi atau sering disebut Kurabesi.

"Ketika Kurabesi besar, ia kembali ke Waigeo dan bersama pamannya, Fun Giwar, Mereskopen, anak Fun Giwar, untuk membantu Raja Tidore berperang melawan Raja Ternate," lanjut Hari.

Dalam perang, Kurabesi berhasil merebut kemenangan melawan Ternate. Sebagai hadiah perang, Kurabesi dinikahkan dengan putri Sultan Tidore, Boki Taiba. Kurabesi dan istrinya kemudian kembali dan menetap di Wawiyai, Waigeo, Raja Ampat, sampai akhir masa hidupnya.

Hubungan Raja Ampat dan Kesultanan Maluku

Raja Ampat merupakan kabupaten kepulauan, dengan empat pulau utama yaitu Waigeo, Salawati, Batanta, dan Misool. Sesuai dengan kondisi geografisnya, 80 persen wilayah Kepulauan Raja Ampat adalah perairan laut, yang kaya biota laut, dengan berbagai jenis ikan, penyu, mutiara, teripang, terumbu karang dan rumput laut.

Dilihat dari sisi sejarah, Kepulauan Raja Ampat di abad ke-15 merupakan bagian dari kekuasaan Kesultanan Tidore, sebuah kerajaan besar yang berpusat di Kepulauan Maluku. Untuk menjalankan pemerintahannya, Kesultanan Tidore menunjuk empat orang raja lokal untuk berkuasa di empat pulau utama, istilah empat raja inilah yang menjadi nama awal Raja Ampat.

"Dalam sejarahnya, diperkirakan agama Islam di Raja Ampat diperkenalkan oleh Kesultanan-Kesultanan Maluku Utara tidak lama setelah agama Islam di terima di Maluku Utara. Pada masa terbentuknya sistem kesultanan pertama di Ternate oleh Sultan Zainal Abidin pada akhir abad ke-15," ulas Hari.

Bedasarkan sumber laporan-laporan pelaut Portugis pada abad ke-16, diketahui terdapat beberapa perkampungan Islam di Kepulauan Raja Ampat sekitar tahun 1500-an, meski jumlahnya tidak begitu banyak. Perkampungan Muslim pertama di Raja Ampat diperkirakan didirikan sekitar tahun 1512 di Pulau Misool.

Pengaruh Kesultanan Ternate, Tidore, dan Bacan, di Raja Ampat selain agama Islam juga dapat dilihat pada struktur kemasyarakatan di Kepulauan Raja Ampat yang dipimpin oleh seorang raja. Secara turun-temurun di Raja Ampat mengenal tingkatan-tingkatan, seperti raja, bangsawan, dan orang biasa.

Pantai Kasap, Pesona Raja Ampat Versi Jawa Timur

Gelar-gelar di Raja Ampat mendapat pengaruh dari sultan-sultan Maluku Utara, seperti kapita laut, dumlaha, mirino, jojau, ukum, korano, dan sangaji. Selain gelar-gelar yang digunakan dalam struktur pemerintahan di Raja Ampat, pengaruhnya juga terlihat dari atribut pakaian para pegawai raja berupa kain surban, selendang, dan sepasang kain.

Atribut-atribut ini pada masa lalu digunakan untuk membedakan seorang pegawai raja dengan rakyat biasa. Pengaruh budaya Islam di Raja Ampat juga terlihat dari penggunaan rebana sebagai alat musik. Perkampungan muslim di Raja Ampat juga diketahui memelihara kambing yang berperan dalam perayaan Idhuladha maupun tradisi islam lainnya.

Hubungan yang terjadi antara Raja Ampat dan sultan-sultan Maluku Utara pada masa lalu lebih mengarah pada hubungan persaudaraan, layaknya hubungan kakak beradik. Pada masa lalu rakyat Raja Ampat memberikan penghormatan sekaligus berbagi hadiah kepada Sultan Tidore, sebaliknya Sultan memberikan gelar dan hak istimewa juga berbagai jenis kain, perkakas besi, manik-manik, dan keramik.

Menjalin hubungan Raja Ampat dan Maluku

Masyarakat Kabupaten Raja Ampat, mengaku ingin tetap menjadi bagian dari masyarakat adat Kesultanan Tidore, Maluku Utara. Seperti pada masa pemerintahan Kesultanan Tidore di masa lampau. Hal ini diketahui dengan adanya kunjungan sejumlah tokoh masyarakat dari Raja Ampat ke Tidore.

Mengutip Kompas, Kabag Humas dan Protokoler Kota Tidore Kepulauan (Tikep) Abas Mahmud, menyebut mereka telah meminta kepada Kesultanan Tidore untuk menghidupkan kembali peran Sangaji (wilayah adat) di Raja Ampat, sekaligus melantik pemimpinnya. Hal ini agar eksistensi masyarakat adat Kesultanan Tidore di daerah itu lebih konkret.

Menurut Abas, pihak Kesultanan Tidore menyambut positif keinginan masyarakat Raja Ampat tersebut dan segera menindaklanjuti. Pasalnya, sesuai sejarah Kesultanan Tidore, Raja Ampat dulunya merupakan bagian dari wilayah Kesultanan Tidore. Pada peta wilayah Kesultanan Tidore, Raja Ampat dikenal dengan nama Negeri Sembilan.

Nama itu disesuaikan dengan adanya Sembilan Sangaji (wilayah adat) di daerah itu, namun sejak datangnya pemerintah kolonial Belanda dan juga berdirinya Negara Kesatuan RI. Hubungan antara Kesultanan Tidore dengan Raja Ampat menjadi berkurang. Karena itulah, dalam beberapa kegiatan seperti Festival Tidore dan hari jadi Kota Tidore, Pemkot selalu mengundang masyarakat Raja Ampat.

Mewah di Ibu Kota, Nyatanya Fortuner dan Pajero Justru Jadi Angkot di Papua

Karena itu, pada Februari 2011, Sultan Husain Syah melakukan kunjungan silaturahmi di Raja Ampat yang disambut resmi oleh Bupati Raja Ampat, Abdul Faris Umlati, dan Sekda Raja Ampat, Dr. Yusuf Salim, serta pejabat di lingkungan Pemda Raja Ampat.

Selain melakukan tatap muka dengan pemerintah setempat, Sultan Husain Syah yang didampingi permaisurinya tersebut melakukan sejumlah kegiatan. Di antaranya melakukan tatap muka dengan masyarakat Tidore di Raja Ampat, mengukuhkan badan pengurus Ikatan Keluarga Tidore Raja Ampat, dan menghadiri Festival Gemar Ikan Raja Ampat 2018.

Sultan Husain Syah saat pengukuhan Badan Pengurus Ikatan Keluarga Tidore Raja Ampat yang berlangsung di Gedung Pari Convention Center Raja Ampat, dalam sambutannya menjelaskan masyarakat Papua umumnya dan Raja Ampat khususnya, memiliki hubungan emosional yang sangat kuat, karena secara historis pada masa-masa kerajaan. Papua--termasuk Raja Ampat--ada dalam wilayah administrasi Kesultanan Tidore.

“Raja Ampat dan Papua seluruhnya beradanya dalam wilayah Kesultanan Tidore itu tidak dalam bentuk agresi militer, tidak dalam bentuk kolonialisme, tapi ini atas permintaan raja-raja di Raja Ampat dan tanah Papua secara sukarela, karena mereka tahu sultan dipercaya untuk mengurus dan memberi ketenangan kepada masyarakat,” ujar Sultan Hj.Husain Syah.

Sementara itu terkait pengukuhan Badan pengurus Ikatan Keluarga Tidore, AFU--sapaan Abdul Faris Umlati--menjelaskan, pembangunan yang dilaksankan di Raja Ampat tidak terlepas dari dukungan dan kontribusi segenap lapisan masyarakat. Dalam hal ini, keterlibatan panguyuban atau ikatan keluarga yang mendiami wilayah Raja Ampat.

Ia berharap, paguyuban ikatan keluarga atau kelompok masyarakat manapun, untuk terus berperan aktif dalam setiap proses pembagunan, baik pembangunan fisik maupun mental spritual.

“Ikatan Keluarga ini tidak sekedar menjadi sarana berkumpul semata, namun dapat menjadi saran bertukar pikiran tentang apa yang harus dilakukan dalam rangka mendukung pembangunan di kabupaten yang kita cinta ini," harap AFU.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini