Gang Poppies Bali, Romantisme Lagu Slank hingga Tersohor ke Seluruh Dunia

Gang Poppies Bali, Romantisme Lagu Slank hingga Tersohor ke Seluruh Dunia
info gambar utama

Hampir dua dekade, lagu dari grup band asal Gang Potlot, Slank, berjudul Poppies Lane Memories akrab di telinga para pendengarnya. Lagu ini menceritakan pemuda yang jatuh dalam pelukan para wanita. Dilansir dari Hai, Bimbim, pentolan group Slank menyebut nama wanita ini merupakan kamuflase dari obat-obatan terlarang. Sedangkan Poppies Lane adalah nama jalan di Kuta, Bali, tempat nongkrong mereka.

"Itu (Poppies Lane) gang kecil gitu. Kalau sekarang sih mungkin udah padet banget ya. Tapi dulu tuh rasanya gang itu kayak gede gitu, terus masih banyak tempat-tempat ngumpet gitu," kenang Kaka, sang vokalis.

Poppies Lane memang adalah sebuah gank kecil yang mempertemukan Jalan Legian dan Jalan Patai Kuta, Badung, Bali. Meskipun jalannya tidak begitu lebar, namun Poppies Lane ramai dilalui para pejalan kaki dan pengendara motor. Bahkan ada juga mobil yang tetap memaksa melalui jalan ini.

Meski begitu, Poppies Lane cukup terkenal dan menjadi tujuan para pelancong bujet atau backpacker. Gang kecil ini juga sangat mendunia karena kehidupan malamnya. Walau merupakan gang kecil namun, Poppies Lane sangat ramai wisatawan

Di lokasi itu juga banyak berdiri penginapan murah. Mulai dari hotel, hostel, BnB. Selain banyak penginapan murah dan bersih, Poppies Lane dekat dengan objek wisata Pantai Kuta hingga jalanan ramai Legian.

Dulu jalan ini bernama Gang Taman Sari, hal ini karena jalan ini merupakan akses menuju Pura Taman Sari. Namun masyarakat sekitar lebih mengenalnya dengan Gang Memedi. Pasalnya banyak orang yang takut melewati gang itu.

Menikmati Kopi Nusantara dengan Wisata Tematik Kopi

"Yang menyebabkan takut karena gang itu sangat lengang. Hanya ada beberapa rumah. Sebagian besar masih berupa ladang. Gang ini katanya sering dilewati memedi (makhluk halus)." Kata Suprata Karang salah satu warga sekitar yang dikutip dari Balisaja.

Hingga akhir tahun 1972, kawasan Kuta memang baru menapaki masa perkembangan daerah turis. Fasilitas publik belum memadai. Listrik belum masuk ke wilayah desa tepi pantai. Jalanan juga masih berupa tanah.

Saat musim kemarau, jalanan sangat berdebu dan mengganggu aktivitas warga sekitar. Dan ketika musim hujan, jalanan menjadi becek serta kubangan air dimana-mana.

Dahulu, penerangan rumah warga hanya menggunakan lampu templok atau sundih. Tak hanya rumah warga saja, namun restoran atau warung juga menggunakan penerangan tradisional.

Poppies Lane yang mulai bersinar

Keberadaan gang Poppies tak bisa dilepaskan dari Kuta yang saat ini jadi ikon wisata di Bali. Di tahun 70-an ketika pertama kali wisatawan asing mengunjungi kampung ini, warga Kuta membuat penginapan sederhana dengan menyewakan sebagian kamar rumah mereka dan juga membuat warung bambu untuk kebutuhan makanan bagi turis.

Nama Poppies bermula dari nama dari warung milik Sang Ayu Made Cenik Sukeni pada tahun 1970. Warung Sang Ayu terletak dekat dengan Pantai Kuta, tempat para wisatawan asing nongkrong.

Wisatawan George dan Bob adalah wisatawan yang sudah sering berlangganan dan ikut mempromosikan warung tersebut. George dan Bob memberikan nama Poppies untuk warung Sang Ayu. Nama Poppies diambil dari nama sebuah bunga indah yang tumbuh di California, AS.

Lambat laun restoran Poppies mulai berkembang pesat, dan nama Poppies pun semakin dikenal. Dari sinilah kemudian orang menyebut gang menuju restoran Poppies sebagai Gang Poppies.

"Karena Poppies merupakan usaha yang pertama kali berdiri di sana, maka gangnya disebut Gang Poppies," tutur mantan Bendesa Desa Adat Kuta, I Made Wendra.

Omed-Omedan, Festival Peluk-Cium untuk Ikat Tali Persaudaran di Bali

Gang ini disebut-sebut sebagai kampung bule karena padatnya turis asing yang tinggal di sana, kawasan ini dipadati dengan hotel, bungalow, penginapan, restoran, penjual suvenir, studio seniman, dan tempat-tempat usaha lainnya. Sedangkan penduduk asli setempat telah bermukim di tempat lain yang jauh dari keramaian.

Sebagai kampung bule, tentu saja, pemandangannya sangat berbeda dengan kampung pada umumnya. Di sana, hampir tidak ditemui tempat tinggal. Yang ada hanya hotel, penginapan, restoran, butik, dan para penjual suvenir atau studio rajah tubuh (tatoo). Setiap Bangunannya tak ada yang terlihat berukuran besar dan megah. Justru, rata-rata kecil namun memiliki desain yang unik.

Boleh jadi, itulah yang menjadi daya pikat wisatawan, sesuatu dengan sentuhan seni tersendiri dan tak terikat oleh segala aturan. Karena itu, menjadi sangat lumrah ketika berada di gang poppies pemandangan yang jamak ditemui adalah bule yang tengah berjalan-jalan setengah telanjang sambil membawa papan selancar, atau wisman yang lagi bersantai di meja bar dengan ditemani botol-botol bir.

Selain itu, gang Poppies berada persis di tengah-tengah pantai Kuta dan Legian. Di situ ada papan nama Popies II. Sedangkan gang Popies I letaknya berjarak tak terlalu jauh dari Hard Rock Hotel. Jika ditelusuri, kedua gang itu tembus ke segala lokasi wisata, seperti monument Bom Bali di jalan Legian dan kawasan Seminyak.

Di Poppies Lane Kuta terdapat banyak penginapan dengan harga murah. Tarif bermalamnya mulai dari Rp90 ribu hingga Rp300 ribu saja. Meski harga yang minim, setiap kamar tamu memiliki fasilitas yang cukup lengkap dan tentu membuat pengunjung merasa nyaman.

Selain fasilitas kamar, fasilitas hotel pun cukup menunjang. Mulai dari kolam renang, taman, layanan laundry, pusat kebugaran, breakfast, dan lain-lain. Rata-rata penginapan memiliki 2 tempat tidur dan kamar mandi dalam.

Untuk durasi menginap, Anda dapat memilih harian, mingguan, bulanan, hingga tahunan. Dan menariknya, anda dapat meminta diskon kepada petugas penginapan. Diskon yang diberikan bisa sampai 20 persen untuk sebulan.

Gang mati selama pandemi

Sebelum pandemi Covid-19, kawasan Poppies tak pernah sepi, termasuk malam hari. Lebar jalan yang tidak terlalu besar juga sering membuat macet kawasan ini. Lalu lalang turis yang berjalan kaki kerap berpapasan dengan pengendara motor. Bahkan tak jarang, kendaraan roda empat memaksa melalui jalanan sempit ini.

Namun itu dulu. Di masa pandemi seperti sekarang, kawasan yang dijuluki sebagai 'Kampung Turis' itu bak kota mati. Mengutip Tribun Bali (28/10/2020), deretan toko, resto, cafe, dan bar, masih banyak yang tutup saat pandemi berlangsung 9 bulan. Memang kawasan ini sangat terdampak oleh pandemi.

Pasalnya, hampir 90 persen wilayah Badung selatan bertumpu pada sektor pariwisata. Salah satu pengelola, l Gede Mertayasa, mengatakan pernah mencoba membuka kembali Bar and Restonya. Ia berharap masih ada kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara di tengah pandemi seperti ini.

Kesungguhan Bali Menerapkan Protokol Kesehatan

"Sebetulnya kita coba buka lagi, karena juga sudah memasuki new normal. Untuk saat ini buka mulai jam 12 siang hingga 9 malam," ungkapnya.

Sementara itu, Sutradara ternama tanah air, Garin Nugroho, meluncurkan buku antologi puisi bertajuk Adam, Hawa, dan Durian, dalam kegiatan yang dibalut pentas musikalisasi puisi dan pembacaan treatrikal puisi di Ratu Restaurant, Jalan Poppies Lane 2, Sabtu malam (27/3/2021).

Kegiatan kebudayaan dan kesenian ini diharapkan bisa menyulut pengusaha-pengusaha yang redup di sekitar Kuta. Pihaknya mengaku tempatnya sangat terbuka untuk acara-acara sastra.

"Tapi lebih penting dari itu apapun lebih semangat. Kita mengalami pandemi, Kuta mati sebagainya buat acara ini dengan protokol Covid-19 untuk menghidupkan kembali, harus hidup untuk kehidupan bersama," tegas Garin.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini