Sejarah Gereja Blenduk, Sebuah Ikon Kota Lama Semarang

Sejarah Gereja Blenduk, Sebuah Ikon Kota Lama Semarang
info gambar utama

Penulis: Brigitta Raras

Semarakkan semangat dan aksi kolaborasi Festival Negeri Kolaborasi live di seluruh kanal media sosial GNFI. Informasi lebih lanjut kunjungi FNK 2021.

Semarang yang terkenal dengan kuliner lumpia dan wingko babat sebagai makanan khasnya, ternyata memiliki bangunan lawas dengan arsitektur khas Eropa. Bangunan peninggalan zaman kolonial Belanda ini, dikenal dengan nama Gereja Blenduk. Gereja Blenduk sebenarnya adalah Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel.

Gereja Blenduk terletak di kawasan Kota Lama atau outstadt yang merupakan cagar budaya nasional berbentuk belasan bangunan tua. Tepatnya, di Jalan Letjen Soeprapto nomor 32. Outstadt yang memiliki luas 31 hektare ini juga dikenal sebagai Belanda Kecil atau Little Netherland.

Kawasan Kota Lama Semarang dulunya adalah pusat pemerintahan dan perdagangan dari pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu, melihat orang-orang Eropa mayoritas beragama Kristiani, maka dibangunlah Gereja bernama Immanuel. Gereja ini dibangun pada tahun 1753 dan telah mengalami beberapa kali perubahan bentuk.

Sejarah dan Perjalanan Lahirnya Perpustakaan di Indonesia

Awal mula Gereja Blenduk

Gereja Blenduk zaman dulu | Foto: Kemendikbud.go.id
info gambar

Pada awalnya, bangunan ini adalah rumah panggung berarsitektur Jawa yang didirikan pada tahun 1753. Hal ini tertera pada inkripsi di salah satu bagian bangunan gereja. Di tahun 1787 sampai 1794, bangunan ini dirombak keseluruhan dengan mengikuti arsitektur Eropa bergaya Barok dan Renaisans oleh bangsa Portugis, sebelum Nusantara dikuasai kolonial Belanda.

Kemudian di tahun 1894 sampai 1985, gereja tersebut direnovasi oleh HPA de Wilde dan W. Westmas yang keduanya seorang arsitektur dari Eropa. Renovasi yang dilakukan mereka adalah dengan merubah bentuk tanpa merubah desain keseluruhan dari gereja.

Kedua arsitek tersebut menambahkan menara kembar yang dilengkapi jam besar di masing-masing menara. Pada pucuk menara ditempatkan juga lonceng besar buatan pabrik JW Steegler tahun 1703.

Batu Keramat dan Tenun jadi Daya Tarik Kampung Adat Namata di Pulau Sabu

Mereka juga menambahkan struktur teras pintu masuk utama dengan kanopi beton setinggi 10 meter dengan empat pilar besar yang mengapit menara kembar. Pada masa Belanda, gereja ini dikenal dengan nama Koepel Kerk (Gereja Kembar) dan Hervormde Kerk (Gereja dibangun ulang).

Kini, oleh masyarakat setempat gereja Immanuel dikenal dengan gereja blenduk. Penamaan gereja ‘Blenduk’ juga dikarenakan kubah gereja berbentuk cembung atau menonjol. Dalam bahasa Jawa, ‘mblenduk’ memiliki arti menonjol atau menggelembung.

Bangunan yang menggunakan bentuk kubah sebagai atapnya, merupakan gaya neo klasik ala bagunan gereja di Eropa pada abad XVII hingga XVII. Kubah berwarna merah bata yang terlihat kontras dengan badan gereja berwarna putih bersih ini sangat menarik perhatian.

Gereja berusia ratusan tahun ini juga menampilkan unsur lengkung, baik di pintu maupun di jendela juga variasi Gothic da lengkung Romawi. Jendela-jendela berbahan kaca patri dengan gaya gothic tersebut, menjadikan jendela di gereja blenduk tidak bisa dibuka-tutup.

Bangunan Gereja Blenduk

Gereja Blenduk | Foto: Flickr
info gambar

Gereja Blenduk memiliki denak octagonal atau segi delapan beraturan dengan ruang induk di tengah, tepat di bawah kubah. Pada bagian atas Gereja, tepatnya di balkon masih terlihat orgel setinggi enam meter peninggalan zaman Belanda yang telah berusia lebih dari 200 tahun.

Ketika memasuki gereja, Kawan akan melihat interiornya yang cantik. Barisan kursi berbentuk klasik dengan keramik berwarna kuning, hitam dan coklat yang terlihat senada. Tempat duduk tersebut terbuat dari bahan dasar kayu jati dengan sandaran punggung dan dudukan dari anyaman rotan. Sangat unik dan bernuansa klasik.

Miliki Sejarah Unik, Cikini Akan Dikemas menjadi Urban Tourism

Pada lantai dua bangunan gereja blenduk menggunakan mezzanine yang berada pada ruang ibadah. Lantai satu dan lantai dua gereja dihubungkan dengan tangga yang berada pada transept utara, timur dan selatan. tata ruang bangunan gereja pada ruang utama, dapat menampung sebanyak kurang lebih 400 orang.

Adapun bagian dari bangunan gereja yang unik dan menarik perhatian masyarakat. Bagian tersebut adalah dinding tembok besar dari kaca bermozaik, dengan bentuk melengkung di bagian atas dan berpola geometris.

Kini, gereja blenduk telah menjadi bangunan cagar budaya nasional. Hal ini menunjukkan bentuk asli gedung tersebut tak boleh diubah. Siapapun boleh berkunjung ke gereja blenduk di saat bukan waktu ibadah atau gereja sedang digunakan.

Apakah Kawan tertarik untuk mengunjungi salah satu cagar budaya ini? Setelah Kawan berkeliling gereja blenduk, Kawan dapat mengunjungi Taman Srigunting.

Taman tersebut dikelilingi dengan pohon-pohon rindang dan sejuk. Tak hanya itu, Kawan juga dapat menikmati kuliner khas Semarang yang dijual di sekitar Kota Lama seperti lumpia dan pisang plenet.*

Referensi: Kemendikbud | Indonesia.go.id

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.

Terima kasih telah membaca sampai di sini