Menikmati Es Krim Tip Top, Kuliner Legendaris Yogyakarta Sejak 1936

Menikmati Es Krim Tip Top, Kuliner Legendaris Yogyakarta Sejak 1936
info gambar utama

Bila Anda menyukai kuliner khas Yogyakarta, semisal gudeg atau bakpia, ternyata masih banyak lagi kuliner khas Kota Pelajar yang perlu dicicipi.

Salah satu kuliner legendaris yang sudah ada sejak zaman Belanda dan masih eksis hingga sekarang adalah es krim Tip Top. Kuliner ini sudah berdiri sejak tahun 1936, yang berarti sudah menemani pencintanya selama 85 tahun.

Selama perjalanannya, kedai es krim Tip Top telah melewati berbagai masa, seperti zaman kolonial Belanda, penjajahan Jepang, kemerdekaan, hingga masa kini. Hal yang tetap sama adalah rasa dan tradisi dari kedai es krim tersebut.

Pertama kali kedai es kirim ini dirintis oleh Lukas Alim Kurnianto. Awalnya kedai es krim Tip Top ini berdiri di Jalan P. Mangkubumi Yogyakarta. Kedai itu masih berdiri kokoh hingga 2014.

Mulanya kedai ini menyajikan berbagai macam kuliner western, pasalnya waktu itu orang-orang atau masyarakat Jogja didominasi oleh orang Cina dan Belanda. Kemudian ada saran dari beberapa orang Belanda untuk menambahkan kuliner es krim dalam daftar menu kedai. Dari situlah bisnis kuliner mulai dikembangkan.

Awal mulanya, es krim dibuat dengan cara manual yakni menggoyang-goyangkan air yang kemudian menjadi es lilin. Perlu waktu lama untuk bisa menghasilkan es krim pada masa itu.

Es Krim Ragusa : Es Krim Iconic Kota Jakarta

Es krim yang sudah jadi, dijual keliling kampung. Setelah beberapa waktu, berkembanglah jenis es krim Tip Top menjadi hard ice cream. Barulah produk es krim tersebut dijual ke dalam kedai atau café, yang waktu itu berada terletak di Jalan P. Mangkubumi Yogyakarta.

"Dahulu tidak langsung berjualan es krim. Sempat tokonya jadi restoran, jualan makanan. Sekitar tahun 1940-an baru beralih ke es krim. Pegawainya cuma dua, satu sebagai koki dan lainnya sebagai pelayan, seperti kebanyakan model usaha zaman dahulu,” ujar Johan Paramasatya, cucu dari pendiri Tip Top, mengutip Warga Jogja.

Kedai es krim legendaris ini pada masanya sempat menjadi pusat tongkrongan kalangan atas, mulai dari pimpinan Hindia Belanda dan para teknokrat lokal. Pada tahun 1950-an, kedai es krim ini juga masih menjadi salah satu tempat favorit kalangan borjuis untuk menikmati waktu senggang.

Boleh dibilang, kedai Tip Top merupakan toko es krim pertama di Yogyakarta. Hingga sekarang memasuki generasi yang ketiga, kedai tersebut masih terus dipertahankan.

Es krim Tip Top mengalami masa jaya-jayanya sampai tahun 2000-an, karena masih belum ada kompetitor dan masih memiliki pembeli setia yang makin kuat.

"Sedikit demi sedikit market mulai terpecah. Tetapi pelanggan yang lama enggak terpecah. Karena tipikal pelanggan zaman dahulu kalau sudah setia dengan satu produk, akan tetap seperti itu pilihannya,” cerita Johan.

Masih tetap gunakan resep Italia

Ketika masuk ke dalam kedai ini, suasana zaman 40-an akan langsung menyambut lengkap dengan interior khas bergaya semi retro klasik. Selain itu mereka masih tetap mempertahankan resep ala Italia yang kala tahun 30-an menjadi salah satu pusat perkembangan sajian es krim di Eropa.

"Kita memiliki sekitar 50-an item menu es krim dengan gula asli dan tanpa pemanis buatan. Unggulan kita adalah soda, fosco, dan Neapolitan,” ungkap Johan.

Sajian es krim di sini pun cukup unik, rasanya tidak terlalu milky hal ini terjadi karena adonannya yang tidak berlebihan menggunakan susu. Selain itu rasa manisnya juga cukup pas sehingga tidak membuat gatal. Aroma-aroma yang digunakan terasa alami dan tidak membuat mual.

Tekstur es krimnya pun tidak terlalu lembut seperti es krim susu yang umum selama ini di pasaran. Pendek kata, Anda masih bisa merasakan tekstur kasar dan berserat. Saian es krim tersebut kadang ditambahkan dengan toping siraman cokelat cair, sokade, dan manisan buah yang segar.

Dilansir dari CNN Indonesia, ada dua jenis penyajian es krim yang bisa dipilih, scoop atau hard ice cream. Pilihan yang jadi favorit sejak dahulu adalah hard ice cream dengan ciri khasnya yang berbentuk kotak.

6 Rasa Es Krim ‘’Nyeleneh’’ yang Indonesia Banget

Hard ice cream ini dibuat dari dua scoop es krim yang dipadatkan, kemudian dimasukkan ke dalam freezer. Walau pun jenisnya hard ice cream, tetapi tekstur es krimnya tetap terasa lembut dan lumer di mulut.

Sementara untuk es krim scoop, bisa dinikmati dengan cone yang renyah. Tentu kedua jenis es krim tersebut punya sensasi kenikmatan yang berbeda dan wajib untuk dicoba.

Harga yang dibanderol pun sangat terjangkau, yakni Rp20 ribu untuk satu scoop dan Rp32 ribu untuk hard ice cream.

Sekarang pengunjung kedai es krim ini bisa mendapatkan beragam variasi kuliner. Tidak hanya es krim, mereka juga menjual banyak aneka minuman seperti kopi ragam rasa seperti red velvet, green tea, dan taro.

Begitu juga untuk menu makanannya, kalau dahulu yang menjadi menu andalan adalah lumpia pastel, kalau sekarang kedai ini menyediakan aneka makanan seperti waffle, pasta, dan lain-lain.

"Karena agar pengunjung kalau ke Tip Top enggak cuma makan es krim aja, jadi ada side dish. Fasilitas juga mendekatkan ke anak muda seperti adanya wifi, AC, dan tempatnya nyaman,” tutur Johan.

Rebranding kedai

Pada tahun 2019, kedai es krim Tip Top memutuskan untuk pindah ke Jalan Kebonsari No. 2. Hal ini karena Tip Top membutuhkan area produksi yang cukup luas dari sebelumnya untuk memaksimalkan proses pembuatan es krim dan menu lainnya.

Memang sejak 2010, persaingan kuliner makin tinggi. Ditambah makin banyaknya anak muda dan aneka kuliner es krim yang bermunculan. Di era inilah persaingan mulai dirasakan Tip Top.

Beberapa langkah dilakukan oleh Johan agar bisnis leluhurnya tetap bertahan, seperti membuka cabang di Jalan Demangan pada tahun 2015. Selain itu dirinya pun melakukan inovasi berupa rebranding Tip Top.

Rebranding yang dilakukan Johan ini sebenarnya bertujuan untuk mengembangkan es krim tip top sebagai produk utama yang dijualnya. Kedai ini diberi nama Old Dish by Tip Top.

Di sini Johan mulai melakukan berbagai cara agar produk es krimnya dapat dinikmati oleh anak muda, yang merupakan pasar terbesar di Jogja saat itu.

Memang mereka masih tetap punya pelanggan setia berusia 35 tahun yang mengikuti tumbuh kembang usaha ini sejak awal. Perubahan nama dan lokasi kedai ini tak pelak membuat mereka kebingungan.

Warna-Warni Es Krim yang Bikin Nostalgia Masa Kecil

“Mereka lihat kata ‘Old Dish’ tetapi tidak sadar ada ‘Tip Top’ karena memang ukuran huruf Tip Top lebih kecil. Akhirnya mereka menelepon, kemudian saya jelaskan,” kata Johan.

Johan mengaku sangat menjaga pelanggan-pelanggan yang loyal ini karena konsistensi mereka dalam memilih Tip Top meski banyak kedai es krim baru muncul di Jogja. Baginya, hal penting dalam bisnis kuliner adalah untuk tidak kehilangan pelanggan setia.

"Tantangan yang sulit adalah mempertahankan sesuatu. Soalnya kuliner itu membuat orang pindah-pindah tempat, karena banyak opsi,” lanjut alumni mahasiswa Ilmu Komunikasi dari salah satu kampus swasta di Jogja ini.

Di antara banyaknya pelanggan, beberapa kerap bernostalgia tentang masa lalunya pernah menghabiskan waktu di kedai es krim ini. Ditambah dengan mengusung unsur retro dan old school pada desain interiornya, membuat cerita tentang masa lalu makin seru.

Tak lupa rangkaian furnitur serta rangkaian ornamen seperti meja dan kursi jadul diaplikasikan untuk menambah kerinduan akan masa lalu.

Karena itu, bagi Anda yang penasaran dengan sajian es krim dari Tip Top, bisa mengunjungi es krim Tip Top di Jalan Kebonsari No. 2 yang buka setiap Senin–Jumat pukul 13.00–21.00 WIB dan Sabtu–Minggu pukul 11.00–21.00 WIB.

Di sana Anda tentu bisa sambil bernostalgia dan merasakan suasana tempo doeloe yang saat ini nuansanya cukup langka dirasakan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini