Pohon Dewandaru, Tanaman Pembawa Wahyu Dewa dengan Beragam Khasiat

Pohon Dewandaru, Tanaman Pembawa Wahyu Dewa dengan Beragam Khasiat
info gambar utama

Bagi anak 90-an saat mendengar buah dewandaru pasti sudah tidak asing lagi di telinga. Sekilas terlihat, buah ini memang menggoda karena warna-warni yang tampak segar.

Buah yang juga sering disebut sebagai ceremai londo ini ternyata tidak hanya bisa mengingatkan kamu pada masa kecil saja, kepercayaan orang akan mistisnya buah ini membuat Dewandaru kembali diburu sekarang.

Pohon dewandaru dalam terminologi jawa dapat diartikan sebagai kayu "pembawa wahyu dewa". Kata dewandaru banyak dijumpai dalam kisah pewayangan maupun dalam khasanah bahasa Jawa Kuno maupun Sanskerta. Karenanya tidak mengherankan jika kemudian pohon bernama dewandaru ini kemudian sarat dengan mitos.

Salah satu cerita yang disebarkan dari mulut ke mulut adalah pohon dewandaru yang terletak di Gunung Kawi, Jawa Timur. Pohon dewandaru di Gunung Kawi terletak di kompleks makam Kiai Imam Sudjono dan Raden Mas Zakaria II.

Pohon yang sudah ada sejak tahun 1871 ini tumbuh menjulang tinggi dan kini berbatas pagar besi setinggi 2 meter dengan lebar 0,5 meter tiap sisinya. Mitosnya, barang siapa melakukan semadi di bawah pohon dewandaru selama tiga hari dan tidak sengaja kejatuhan salah satu bagian pohon, entah itu ranting, daun, atau buah, dia akan mendapatkan kekayaan.

Setiap bulan September, pohon dewandaru di Gunung Kawi ini akan berbuah. Saat itu lah banyak orang berlomba-lomba mendapatkan “jimat” keberuntungan. Sebagian orang bahkan rela menginap dan tidur di bawah pohon dewandaru, demi mendapatkan ranting, daun, atau buah yang terjatuh.

Mengenal Nothofagus, Pohon Asal Papua yang Disorot dalam Rapat UNESCO

Setiap bagian tersebut memiliki arti masing-masing. Jika yang terjatuh adalah daun, beberapa orang percaya akan mendapat rezeki berupa uang. Maka biasanya, daun ini disimpan dalam dompet sebagai jimat. Jika buahnya yang terjatuh, ini menandakan datangnya rezeki yang lebih besar.

Mitos ini membuat orang sampai rela menanam pohon dewandaru di depan rumah, berharap bisa kaya mendadak. Mitos ini juga membuat masyarakat sekitar Gunung Kawi melarang siapa pun memetik buah dan menggoyang pohon dewandaru.

Sementara itu mitos yang dipercaya oleh masyarakat Karimunjawa, pohon dewandaru ditanam oleh Sunan Nyamplungan yang merupakan putra dari Sunan Muria. Fungsinya untuk menjaga Karimunjawa tetap asri dan terhindar dari gangguan-gangguan yang dapat merusak.

Hal ini membuat pohon dewandaru tidak boleh dirusak atau dibawa keluar dari Karimunjawa. Siapa pun yang merusak pohon Dewandaru pasti akan terkena musibahnya.

Misalnya kisah Kapal Motor Tongkol IV yang tenggelam di perairan Karimunjawa pada 11 Oktober 1983, yang menewaskan 16 orang, 18 hilang, dan 48 selamat. ternyata, salah seorang penumpang diketahui menyembunyikan ranting pohon dewandaru yang diambil diam-diam dari makam Nyamplungan.

Kekeramatan itu makin dikukuhkan karena di ruang tunggu lapangan terbang Dewandaru di Karimunjawa terpampang tulisan dilarang membawa pohon/dahan/ranting dewandaru. Petugas lapangan terbang juga memeriksa barang-barang bawaan penumpang yang hendak meninggalkan Karimunjawa.

Pohon dewandaru dan segala khasiatnya

Dewandaru (Eugenia uniflora) merupakan tumbuhan perdu dengan tinggi mencapai 5 meter dan hidup menahun. Batang pohon dewandaru tegak, berkayu, berbentuk bulat dengan kulit kayu berwarna cokelat.

Daun dewandaru merupakan daun tunggal, berwarna hijau berbentuk lonjong dengan ujung dan pangkal yang meruncing. Daun berukuran sekitar 5 sentimeter dengan tepi daun yang rata dan pertulangan menyirip.

Bunga tunggal dengan daun pelindung kecil berwarna hijau, mahkota bunga berwarna kuning sedangkan benang sari dan putik berwarna putih. Buahnya bulat dengan diameter sekitar 1,5 cm, berwarna merah. Bijinya kecil, keras, berwarna cokelat.

Dalam bahasa Inggris pohon yang dipercaya mempunyai kekuatan magis ini disebut dengan Surinam Cherry, Brazilian Cherry, atau Cayenne Cherry. Tumbuhan ini tersebar di daerah Amerika Selatan seperti Suriname, Brazil, Argentina, Urugay, dan Paraguay.

Di Indonesia, tumbuhan ini dapat ditemukan di beberapa tempat di pulau Jawa, Sumatra, dan pulau-pulau kecil sekitarnya. Salah satu daerah yang dikenal sebagai habitat dewandaru adalah kepulauan Karimunjawa.

Sejarah persebaran pohon dewandaru hingga ke Indonesia belum diketahui secara pasti. Kecuali berbagai mitos turun temurun yang berkembang di masyarakat. Terutama pada masyarakat Jawa, keberadaan pohon dewandaru sarat dengan mitos.

Mulai dari mitos soal asal-usulnya hingga berbagai khasiat magis sebagai kayu sakti dan bertuah. Karenanya, kayu dewandaru kerap kali dimanfaatkan untuk membuat aksesoris semisal tasbih, gelang, akik (batu cincin), dan kalung.

Misteri Bunga Widjojo Koesoemo, Tanaman Penobatan Para Raja Jawa

Aroma kayu dewandaru yang harum pun dipercaya sebagai sarana pencapaian kesempurnaan dalam ilmu kanuragan. Selain itu dianggap memiliki khasiat sebagai pengasihan, menambah karisma, dan pengusir gangguan gaib.

Di balik khasiat mistis yang dipercayai oleh sebagian masyarakat, pohon dewandaru ternyata memiliki berbagai manfaat yang teruji secara klinis. Buah dewandaru selain mengandung air juga mengandung protein, karbohidrat, dan vitamin C. Kulit kayunya mengandung tanin. Sedangkan daunnya banyak mengandung minyak atsiri, saponin, flavonoid.

Di Paraguay, hasil rebusan daun dewandaru digunakan untuk menurunkan kolesterol dan tekanan darah. Selain itu juga dapat menurunkan metabolisme lipid dan dapat digunakan sebagai efek proteksi pada trigliserida dan level lipoprotein yang sangat rendah, berdasarkan penelitian E Ferro dan tim yang dipublikasikan di Journal of Ethnopharmacology pada 1988.

Penelitian Bandoni dan tim pada 1972, seperti dikutip dari studi Cancer Cemoprevention Research Center menyebutkan buah dan daun dewandaru digunakan sebagai peningkat kualitas astringent dan mengurangi tekanan darah tinggi.

Dalam riwayat pengobatan tradisional Brasil menurut catatan studi Consolini dan tim yang dilakukan pada tahun 2000, disebutkan buah dewandaru digunakan sebagai antidiare, diuretik, antirematik, anti-febrile, dan antidiabetik.

Selain itu, ekstrak daunnya juga sebagai agen hipotensif. Studi yang dilakukan T Matsumura dan tim pada tahun yang sama menyebutkan dewandaru memiliki khasiat menghambat peningkatan level trigliserida dan glukosa plasma.

Mengutip dari buku JR Hutapea, Investaris Tanaman Obat Indonesia (1994) menyebutkan daun dewandaru sebagai obat tradisional berkhasiat sebagai obat mencret. Sementara itu, Scapoval dan tim pada tahun 1994 mempublikasikan temuan daun dewandaru memiliki khasiat aksi anti inflamasi yang tinggi.

Mitos sebagai penjaga kelestarian

Kuatnya mitos yang melekat pada pohon dewandaru ternyata dimamfaatkan oleh masyarakat Karimunjawa. Misalnya dalam laporan Rappler, banyak masyarakatnya di sana yang terlihat memajang berbagai aksesoris berbahan dasar kayu.

Ahmad Biki, salah satu warga mengatakan kerajinan yang kerap dia buat di dalam rumahnya berasal dari bahan baku kayu dewandaru dan stigi. Dua jenis kayu itu, menurutnya, kini makin langka karena banyak ditebang oleh penduduk setempat.

"Dewandaru di sini sudah sangat langka. Tetapi banyak dicari para pejabat. Ini saja saya sedang membuat tongkat komando dari dewandaru pesanan beberapa pejabat di institusi kepolisian," ungkap Biki.

Banyak yang meyakini bahwa dewandaru mampu memunculkan kewibawaan bagi sang pemilik. Biki bilang tak jarang dewandaru punya daya magis tersendiri untuk penyembuhan sejumlah penyakit.

"Aparat Polri dan TNI sering memesan dewandaru sebagai penangkal santet di rumahnya," katanya.

Deretan Tempat Wisata Eksotis di Karimunjawa Indonesia

Dalam sehari dirinya membuat lima tongkat komando pesanan dari aparat kepolisian. "Jika pas ramai, pesanannya bisa sampai 30 buah," tutur pria 41 tahun ini.

Memang masyarakat sekitar telah menyulap pohon dewandaru menjadi semacam suvenir. Pohon ajaib ini dibentuk sedemikian rupa menjadi tongkat jalan dan tongkat komando yang laku keras di pasaran turis domestik.

Menurut keyakinan penduduk, pohon dewandaru punya kelemahan, kesaktian kayu ini dapat dinetralisasi dengan pohon kalimosodo. Dengan cara demikian, dewandaru dapat dibawa ke luar dari Karimunjawa dengan selamat.

Tentunya untuk harga bisa mulai dari puluhan ribu rupiah sampai jutaan rupiah. Sesuai dengan jenis, usia kayu dan motifnya.

Pohon dewandaru yang melahirkan legenda sejarah Karimunjawa, memang mengundang rasa ingin tahu peneliti. Misalnya Fakultas Biologi UGM pernah meneliti dewandaru, dari sisi taksonomi dan etnobotani pada tahun 1992.

Dari penelitian itu, diketahui pohon dewandaru itu memang tumbuhan langka. Juga pohon yang sulit berkembang biak, jumlahnya terus berkurang akibat eksploitasi yang tidak terkontrol.

Sementara menurut Hasyim Arfani, munculnya mitos si dewandaru sangat menguntungkan buat pelestarian lingkungan alam Karimunjawa.

"Mitos ini cukup mampu melindungi keberadaan dewandaru. Sebab sebagian besar penduduk akan berpikir seribu kali untuk menjarah kayu ini," ujar pria yang menjabat sebagai staf PHPA Kecamatan Karimunjawa.

Namun celakanya, sebagian besar pemburu kayu ini justru masyarakat di luar Karimunjawa yang mengejar kekuatan mistisnya. Tanpa mempedulikan mitos dewandaru, serta kelestariannya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini