Misteri Bunga Widjojo Koesoemo, Tanaman Penobatan Para Raja Jawa

Misteri Bunga Widjojo Koesoemo, Tanaman Penobatan Para Raja Jawa
info gambar utama

Ilmu spiritual Presiden kedua RI, Soeharto, semakin dalam setelah bertemu dengan perwira menengah Angkatan Darat, Mesran Hadi Prayitno. Ketika itu, Mesran menyarankan Soeharto untuk bertemu dengan Raden Panji Soedijat Prawirokoesoemo. Pria yang lebih dikenal dengan sebutan Rama Dijat ini adalah guru kebatinan Jawa.

Pada pertemuan Klaten itu, Soeharto langsung menyatakan diri menjadi murid Rama Dijat. Soeharto pun hampir tidak pernah absen mengikuti sarasehan di rumah Rama Dijat, Jalan Sriwijaya 70, Semarang. Ia pun bertandang ke rumah Rama Dijat untuk berkonsultasi.

"Tak jarang pula Rama Dijat diundang ke istana atau diutus mencari sesuatu," seperti ditulis Majalah Tempo.

Benarkah Dewi Nawang Wulan Berasal dari Khayangan?

Kata Dr Budyapradipta, pakar Sastra Jawa Universitas Indonesia, Rama Dijat dan Soedjono Hoemardani pernah pergi mencari pohon Widjojo Koesoemo (Wijaya Kusuma).

”Pak Djono pernah bercerita bagaimana ia bersama Romo Dijat mencari pohon Widjojo Koesoemo di dekat Nusakambangan yang lautnya ganas,” ungkap Budyapradipta, yang pernah menjadi sekretaris pribadi Soedjono pada 1983–1986.

Setelah Soedjono dan Rama Dijat mendapatkannya, pohon ini ditanam di Cendana, Keraton Solo, dan rumah Soedjono. Memang dalam kisah pewayangan, bunga Widjojo Koesoemo adalah senjata Kresna. Dengan bentuk kecil-kecil, bunga Widjojo Koesoemo dipercaya memberi tanda negara bakal baik

Bunga penobatan raja di Pulau Jawa

Dikabarkan Intisari, ada kepercayaan yang tak lekang oleh waktu, bahwa raja Mataram yang baru dinobatkan tidak akan sah diakui dunia kasar dan halus, kalau belum berhasil memetik bunga Widjojo Koesoemo sebagai pusaka keraton. Tradisi memetik bunga itu didasarkan atas kepercayaan, bahwa pohon yang menghasilkan bunga itu merupakan jelmaan pusaka keraton Batara Kresna.

Menurut kisah spiritual, pusaka keraton itu dilabuh (dihanyutkan) ke Laut Kidul oleh Kresna, sebelum beliau mangkat ke Swargaloka, di kawasan Nirwana. Pusaka atribut Raja Kresna itu setelah dilabuh menjadi pohon di atas batu pulau karang. Letaknya di ujung timur Pulau Nusakambangan, di selatan Kota Cilacap.

Secara fisik, pulau yang terkenal sebagai Karangbandung itu dikuasai oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia, tetapi secara spiritual ia dikuasai oleh ratu siluman, Nyai Roro Kidul. Ratu ini sering mengadakan rapat pleno di pulau itu.

Karena menurut silsilah dalam Babad Tanah Jawi raja-raja Jawa itu keturunan Bre Widjaye dari Majapahit (yang titisan Wisnu juga), maka sudah sepantasnyalah kalau para baginda mewarisi pusaka keraton Dwarawati yang kini tumbuh di Karangbandung.

Bedasarkan laporan Koran Belanda, mengabarkan kedatangan utusan Keraton Surakarta dari Sunan Pakubuwono XI (Raja Surakarta 1939-1945) di Cilacap, Pantai Selatan Jawa. Tim tersebut adalah tim yang diperintahkan untuk menemukan bunga sakral Widjojo Koesoemo, di Nusa (Pulau) Bandung.

Pulau ini kabarnya dilindungi oleh ombak yang cukup ganas dan lokasi tepatnya juga masih simpang siur. Babad Kraton tidak menyebutkan secara spesifik lokasi pulau ini. Hal ini dapat dipahami karena memang tradisi ini adalah tradisi yang cukup eksklusif dan tertutup. Sehingga lokasi pulau ini tentunya juga ‘sengaja’ ditutupi.

Legenda Kanjeng Ratu Kidul, Simbolisasi Indonesia Sebagai Bangsa Bahari

Nantinya dibantu oleh seorang paranormal yang bersemedi. Kalau sudah ndelalah (semacam Que sera sera), bunga akan jatuh sendiri dalam bokor yang segera ditutup dengan kain kerajaan. Inilah yang kemudian dibawa kembali ke Kartosuro, dan disimpan dalam kamar pusaka keraton.

Tak seorang pun boleh melihat bunga di bawah kain penutup itu. Hanya raja yang boleh mengintip, untuk memastikan bahwa yang dipersembahkan itu betul-betul bunga. Itulah yang akan meneruskan spirit kebijakan bestari dari Batara Kresna ke Raja Mataram yang saat itu berkuasa.

Misteri bunga Widjojo Koesoemo

Ditinjau dari asal katanya, Widjojo Koesoemo terdiri dari dua kata, yaitu Widjojo yang berarti kemenangan dan Koesoemo yang bermakna bunga. Secara bahasa, Widjojo Koesoemo bisa diartikan bunga kemenangan.

Terkait bunga Widjojo Koesoemo itu sendiri, ada beberapa versi yang muncul sebagai upaya untuk memahami dan mendefinisikan bunga primadona kasunanan tersebut. Referensi pertama menyebutkan bahwa bunga ini muncul dan berasal dari mitologi Jawa kuno dan tradisi lama keraton.

Tidak ada gambaran fisik yang spesifik tentang bunga ini. Berdasarkan kamus Jawa Kuna karangan Zoetmoelder, bunga ini dideskripsikan sebagai bunga misterius dengan kekuatan supranatural.

Banyak orang yang mengira bahwa tanaman legenda raja-raja Jawa adalah bunga Widjojo Koesoemo yang berwarna putih, wangi dan hanya mekar di malam hari. Bunga ini kemudian banyak ditanam orang untuk menjadi penghias pagar.

Bahkan saat ini banyak kolektor Widjojo Koesoemo yang menyilangkan dengan varian-varian lain sehingga muncul berbagai warna. Padahal bunga yang dikenal dengan sebutan night queen itu bukan bunga yang menjadi legenda di Cilacap, Nusakambangan.

Penelitian mengatakan bahwa bunga Widjojo Koesoemo ini adalah spesies bunga yang bernama latin Pisonia Sylvestris. Klasifikasi ini dilakukan oleh seorang ahli botani dari Belanda, Teysmann dan Binnendijk, pada pertengahan abad 19 setelah klaim atas penemuan bunga tersebut.

Publikasi pemerintah kolonial Belanda yang menyebutkan tentang Widjojo Koesoemo muncul pada tahun 1695-1865. Pada tahun 1844, Statistike Beschrijiving der Afdeeling Tjilatjap mencoba mendeskripsikan bunga ini.

Di sana dijabarkan, bahwa bunga ini berdiameter satu kaki dan biasa dimakan oleh ratu dan raja untuk menjamin kelangsungan keturunan mereka nanti sebagai raja. Di sini dijelaskan bahwa Widjojo Koesoemo berperan sebagai obat dengan kekuatan supranatural.

Pohon Widjojo Koesoemo merupakan pohon bunga yang masih satu keluarga dengan Bougenville. Habitat aslinya berada di bebatuan karang sepanjang pantai di Asia Tenggara, Australia, dan Samudera Pasifik. Namun, hanya yang ada di Nusakambangan yang diketahui pernah berbunga.

Bunga Wijayakusuma, Si Ratu Malam yang Langka

Di Cilacap sendiri, pohon ini hanya tumbuh di sebuah pulau karang sebelah selatan Pulau Nusakambangan bernama Pulau Majeti, di mana pulau tersebut masuk dalam area Cagar Alam Wijayakusuma. Hal ini ditetapkan pada zaman Belanda, melalui Besluit Gubernur Jenderal Belanda No. 26 Staatsblad No. 382 tanggal 24 Juli 1923, dan diperkuat dengan SK Penunjukan Menteri Kehutanan No. SK. 359/Menhut-II/2004 tanggal 1 Oktober 2004.

Setiap orang yang ingin melihat pohon itu dari dekat harus minta izin khusus dari Menteri Kehakiman RI agar dapat memasuki Pulau Karangbandung yang masih termasuk wilayah hukum Nusakambangan. Pulau ini dijaga sebagai tempat lembaga pemasyarakatan para narapidana kelas kakap yang berat.

Ketika dewasa, pohon Widjojo Koesoemo bisa memiliki ketinggian sekitar 20-25 meter. Karena habitatnya di pantai atau batu karang, pohon ini biasa menjadi tempat favorit untuk bertengger dan bersarangnya burung-burung laut.

Secara fisik, pohon ini berbunga majemuk, dan tangkai bunganya menyembul keluar. Dalam satu tangkai biasanya terdapat sekitar 10 malai, tiap malai tumbuh sampai 20 kuntum bunga, dalam satu tangkai bisa terdapat ratusan bunga. Ketika bunga mulai mekar, diameternya hanya 2 sampai 4 milimeter dengan panjang 5 sampai 6 milimeter, berbentuk terompet dengan kelopak hijau dan mahkota berwarna putih.

Dilansir dari Intisari, bila dihitung, jumlahnya bisa sampai ratusan yang semuanya kecil (hanya 6 mm). Tetapi pohon itu jarang berbunga. Menurut para paranormal, berbunganya memang hanya untuk raja yang sudah direstui naik tahta.

Tetapi menurut logika para pakar botani, pohon itu tumbuh di atas batu karang yang gersang kekurangan gizi, sehingga jarang berbunga. Persis seperti tanaman bonsai, yang dibatasi makanannya dan dikekang pertumbuhannya. Hanya, kalau musim hujan dan cukup tersedia air pelarut zat hara dan tanahlah pohon itu mempunyai cukup gizi dan semangat untuk berbunga.

Keraton Surakarta sendiri tetap menjalankan tradisi ini hingga tahun 1939. Mereka seolah tidak peduli dengan upaya demistikfikasi dari pihak Belanda tersebut. Bagi Keraton Surakarta, Widjojo Koesoemo adalah pusaka yang berkaitan dengan leluhur mereka. Di kalangan keraton sendiri, hanya sunan dan anggota tim ekspedisi yang tahu bentuk fisik dari bunga tersebut.

Ketika Belanda mengklaim penemuan bunga Widjojo Koesoemo, tidak ada sikap dan tanggapan resmi dari keraton. Banyak kalangan beranggapan bahwa Pisonia Sylvestris, sebagaimana yang dikemukakan oleh Belanda, bukanlah Widjojo Koesoemo versi keraton.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini