Benteng Van der Wijck, Objek Wisata Bersejarah Peninggalan Belanda

Benteng Van der Wijck, Objek Wisata Bersejarah Peninggalan Belanda
info gambar utama

Di beberapa daerah di Indonesia masih ditemukan benteng-benteng peninggalan zaman kolonial Eropa, terutama Belanda. Benteng merupakan sebuah bangunan yang didirikan untuk keperluan miiliter seperti pertahanan dalam peperangan. Umumnya, benteng yang masih ada hingga kini telah dibangun ratusan hingga ribuan tahun lalu.

Selain tempat pertahanan, benteng juga berfungsi sebagai bagian dari strategi penyerangan dan dikaitkan dengan peperangan saat ada konflik antara kelompok manusia. Benteng dibangun untuk mencegah bahaya yang mengancam keselamatan penduduk dan juga harta benda.

Salah satu benteng yang hingga kini masih berdiri kokoh adalah Benteng Van der Wijck. Benteng pertahanan Hindia Belanda yang dibangun tahun 1818 ini terletak di Jalan Sapta Marga, Desa Sedayu, Kecamatan Gombong, Kebumen, Jawa Tengah.

Apa yang menarik dari Benteng Van Der Wijck?

Benteng Van der Wijck | Wikimedia Commons
info gambar
Meniti Wisata Sejarah Benteng Pendem Peninggalan Belanda

Bangunan bersejarah yang kini jadi objek wisata

Memasuki kawasan benteng, pengunjung akan disambut dengan keberadaan pohon palem menjulang tinggi dan di kanan-kiri pintu masuk terdapat sepasang meriam lapangan dan sepasang tank ringan. Pun ada sebuah patung serdadu kompeni yang tengah berjaga di depan gerbang.

Benteng ini terdiri dari dua lantai dan masih terlihat gagah walau usianya sudah ratusan tahun. Bangunan benteng ini berdenah segi delapan dan tingginya sekitar 10 meter. Ada empat pintu masuk yang terletak di empat penjuru mata angin dan pintu utamanya berada di sisi barat daya.

Tak heran bila benteng ini tampak begitu kokoh, mengingat dindingnya saja memiliki ketebalan hingga 1,4 meter. Saat memasuki lantai pertama, ada 16 ruangan besar dan 27 ruangan lain dengan ukuran berbeda. Di lantai bawah ini, pengunjung bisa melihat area dengan 72 buah jendela, 63 pintu, 8 tangga menuju lantai dua, serta 2 tangga darurat.

Naik ke lantai atas, di sana terdapat 70 pintu, 84 jendela, dan terdiri dari 16 ruangan besar, 25 ruangan kecil, dan 4 tangga menuju atap. Uniknya, atap Benteng Van der Wijck memiliki bentuk serupa piramida yang terbuat dari bata merah.

Selain benteng, di kawasan ini terdapat bangunan pendukung lain seperti garasi, penjara, rumah sakit, barak prajurit, bangunan logistik perkantoran, dan kompleks makam Belanda.

Tak ada salahnya mengelilingi berbagai ruangan yang ada di dalam benteng. Sebab, Anda bisa menemukan sederet koleksi foto yang menampilkan kondisi benteng ini pada masa lampau sebelum direnovasi. Ada pula koleksi foto para pejuang dan presiden Republik Indonesia sepanjang zaman.

Suasana zaman kolonial masih begitu kental dirasakan saat Anda mengunjungi benteng ini. Dari mulai bangunan dari batu bata merah, pilar-pilar yang menjulang, ditambah dengan pintu setengah bundar yang menambah keunikan bangunan ini.

Pihak pengelola Benteng Van der Wijck pun melengkapi kawasan ini dengan berbagai wahana. Selain bangunan benteng tua yang tampak eksotis, di area ini juga terdapat taman bermain dengan wahana kincir putar, perahu angsa, mobil-mobilan, dan kolam renang.

Salah satu fasilitas yang menarik untuk dicoba adalah kereta wisata di atas benteng. Dengan naik kereta tersebut, pengunjung bisa berkeliling sambil menikmati pemandangan sekitar dari bagian atas benteng. Tak hanya itu, bahkan di sana pun terdapat sebuah penginapan yang bernama Hotel Wisata Benteng Van der Wijck.

Benteng van der Wijck | @Tirta Ajie Irawan Shutterstock
info gambar
Melihat Benteng Peninggalan Kolonial Belanda yang Tak Lekang oleh Zaman

Sejarah Benteng Van der Wijck

Pada awalnya, pembangunan benteng ini didirikan untuk kantor Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Gombong. Namun, bangunan tersebut kemudian diubah menjadi benteng pada tahun 1818.

Pembangunan Benteng Van der Wijck dilakukan pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Godert Alexander Gerard Philip baron van der Capellen. Benteng ini dibangun oleh Frans David, seorang perwira tentara Belanda yang merupakan ahli tentang bangunan benteng.

Pada saat terjadinya Perang Jawa atau Perang Diponegoro tahun 1825-1830, pemerintah Hindia Belanda membuat strategi yang disebut dengan Benteng Stelsel. Strategi ini meliputi pembangunan benteng di sejumlah wilayah Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur guna mempersempit ruang gerak gerilya oleh Pangeran Diponegoro dan pasukannya.

Kantor VOC di Gombong tersebut pun kemudian digunakan sebagai markas tentara yang mendukung strategi Benteng Stelsel. Benteng dibangun oleh militer Belanda dengan mempekerjakan kurang lebih 1.400 orang dari Banyumas dan Bagelen.

Sekitar tahun 1856, benteng yang awalnya bernama Benteng Cochius ini beralih fungsi menjadi sekolah militer Pupillenschool atau sekolah taruna untuk orang-orang Eropa. Pada masa kependudukan Jepang, benteng ini masih digunakan untuk tempat pelatihan tentara sampai Indonesia merdeka. Bahkan hingga tahun 2000, benteng ini menjadi barak atau tempat tinggal anggota TNI Angkatan Darat.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini